Waspada Epidemi di Balik Bunuh Diri

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Senin, 27 Januari 2020 | 08:00 WIB

Media massa akhir-akhir ini gencar mengangkat berita tentang anak-anak yang--maaf--bunuh diri. Sungguh memprihatinkan. Anak-anak yang umumnya sering digambarkan sebagai sosok manusia yang bersih dan lurus, ternyata sanggup membuat keputusan mengerikan dengan cara mengakhiri hidup mereka sendiri sebagai jalan keluar atas masalah yang mereka alami.

Saya memiliki beberapa catatan mengenai kasus-kasus bunuh diri yang sering dilakukan oleh anak-anak ini.

Pertama, masifnya pemberitaan tentang bunuh diri anak tidak dapat dijadikan sebagai pertanda bahwa tindakan bunuh diri anak merupakan peristiwa yang baru berlangsung di negeri kita pada akhir-akhir ini saja. Sekitar lima belas tahun lalu pun masyarakat sudah dibuat gempar saat serangkaian peristiwa naas serupa terjadi beruntun dengan sebab-musabab yang oleh kebanyakan orang sering dianggap sepele. Yakni, misalnya, anak tidak mempunyai buku pelajaran atau pun anak tidak bisa berpartisipasi pada kegiatan wisata sekolah.

Juga, mengacu pada banyak referensi, diulas bahwa para sarjana psikologi klinis pun sungguh-sungguh menaruh perhatian mendalam terhadap perilaku bunuh diri anak, baru sejak sekitar tahun 2001 yang lalu. Atas dasar itu, tidak mustahil bahwa peristiwa semacam ini pun telah cukup lama berlangsung di Tanah Air, meski sering tidak terekspos ke publik.

Bertitik tolak dari hal ini, kurang tepat kiranya apabila berita-berita tentang bunuh diri anak di media massa dijadikan sebagai gambaran prevalensi aktual kasus bunuh diri anak di Tanah Air.

Studi longitudinal yang dilakukan di Amerika Serikat sejak 1980 hingga 1992 memperlihatkan bahwa terjadi kenaikan kasus bunuh diri sebesar 120% (0,8–1,7 per 100.000 jiwa/tahun) yang dilakukan anak berusia 10 hingga 14 tahun. Sementara, pada kelompok anak berumur 15–19 tahun, lonjakan terjadi sebanyak 28,3% (8,5–10,9 per 100.000 jiwa/tahun).

Meski aksi bunuh diri anak sering dihubungkan dengan peredaran ilegal senjata api, lonjakan drastis pada angka bunuh diri ternyata juga berlangsung di negara-negara lain seperti: Selandia Baru, Australia dan sejumlah negara Eropa, yang tidak berhadapan dengan masalah peredaran senjata api.

Faktor senjata api juga tidak relevan untuk digunakan guna mencermati fenomena bunuh diri anak di Tanah Air. Sebab, metode bunuh diri yang dipraktikkan oleh anak-anak tersebut sama sekali tidak menggunakan senjata api.

Bila angka-angka tersebut dipakai untuk memprediksi prevalensi anak yang melakukan bunuh diri di Indonesia, data statistik tersebut sekilas terkesan tidak begitu berarti. Namun, sebagai contoh, bila angka
1,7 per 100.000 dikalikan dengan jumlah anak-anak di Indonesia (diasumsikan 85 juta), diperkirakan terdapat 1.445 anak per tahunnya yang mengakhiri hidup mereka sendiri saat menemui problematika hidup yang tidak bisa mereka atasi.

Bila angka 1.445 juga masih dianggap kecil, patut disadari bahwa tindakan bunuh diri merupakan puncak dari timbunan masalah-masalah lain yang mendahului momen maut tersebut. Atas dasar itu, catatan kedua, di balik angka estimasi prevalensi bunuh diri, sesungguhnya terdapat juga problem-problem psikologis dengan angka sebaran yang jauh lebih luas.

Dengan perkataan lain, bunuh diri mengindikasikan adanya epidemi masalah psikis dengan derajat yang serius, yang diderita oleh anak-anak pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Ketiga, penjelasan tentang bunuh diri anak akan terlalu sederhana bila ditegakkan hanya terbatas pada peristiwa yang berdekatan sebelum berlangsungnya tindakan bunuh diri tersebut (precipitating event).

Sebagai cobtoh, si X bunuh diri karena diejek, dan si Y melakukan aksi serupa karena dimarahi orang tua. Kedua situasi pendahuluan itu tidak boleh diabaikan dan bisa dijadikan sebagai titik awal pengamatan untuk memahami kasus bunuh diri si X dan si Y. Meski demikian, menjadi absurd apabila semata-mata diejek dan semata-mata dimarahi diyakini cukup kuat untuk mendorong si X dan si Y, untuk kemudian mengambil langkah tragis tersebut. Ringkasnya, kedua faktor pemicu tersebut sudah memenuhi syarat keberadaan (necessary) peristiwa, namun belum memadai (sufficient) untuk menimbulkan tingkah laku bunuh diri.

Atas dasar itu, menerapkan paradigma psikopatologi sebagai pedoman, peristiwa pemicu perlu dilengkapi dengan penjelasan yang lebih komprehensif tentang situasi mapan dan terus-menerus yang dihadapi anak (conditioning events). Lebih jauh lagi, dengan dasar pemikiran bahwa conditioning events bersifat meneguhkan pengalaman traumatis yang terjadi pada tahun-tahun pertama kehidupan si anak (traumatic event), maka diagnosis dapat saja diperluas dengan mengeksplorasi akar traumatis si anak tersebut.

Pemikiran tersebut relevan dengan berbagai temuan psikologi klinis. Bentuk depresi yang berlanjut dengan bunuh diri pada anak-anak dan remaja meliputi gangguan suasana hati (mood disorder) seperti dysthymic disorder, depressive disorder, dan bipolar disorder.

Bahkan, 90% dari total aksi bunuh diri sering didahului oleh gangguan-gangguan mental yang bersifat kronis (bukan akut) tersebut. Karena kronis, gejala-gejala depresi seharusnya sudah dapat ditangkap sejak jauh-jauh hari. Akhirnya, apabila anak-anak yang terkena depresi memperoleh perlakuan yang tepat sejak awal, maka bantuan pun dengan mudah dapat diberikan secepatnya untuk mencegah perkembangan gangguan ke tingkat yang lebih parah.

Identifikasi Diri
Opsi lain adalah membekali anak agar mampu mengidentifikasi normal tidaknya dinamika psikis yang sedang mereka alami. Dengan keterampilan pemantauan terhadap diri sendiri, anak dapat memutuskan lebih dini kapan ia perlu melibatkan orang lain guna mengatasi masalahnya.

Pemantauan terhadap diri sendiri di kalangan remaja semakin penting karena kelompok usia tersebut sangat rentan mengalami depresi reaktif (bukan depresi). Depresi reaktif juga dikenal sebagai problem adaptasi yang disertai dengan suasana hati depresif, yakni masalah suasana hati yang paling umum dijumpai pada anak-anak dan remaja.

Depresi reaktif, berbeda dengan klasifikasi-klasifikasi yang disebutkan pada alinea terdahulu, bersifat akut. Depresi reaktif yang pemunculannya cenderung mendadak ini dapat terjadi hanya karena masalah sederhana yang dihadapi anak sehari-hari. Dengan sifatnya tersebut, depresi reaktif tidak dimasukkan ke dalam daftar
gangguan mental.

Sifat pemunculannya yang mendadak, ditambah lagi dengan tendensi anak untuk meniru, menciptakan risiko bagi munculnya keputusan-keputusan impulsif untuk mengambil tindakan bunuh diri sebagai jalan pintas menuju ke alam baka.

Catatan berikutnya adalah bagi guru. Performa belajar siswa merupakan penanda yang paling mampu diandalkan dalam rangka mengungkap persoalan-persoalan, terlebih yang bersifat psikopatologis pada para siswa.

Dalam kaitan ini, berbeda dengan yang sering diyakini banyak pihak, tidak hanya tindak-tanduk seperti
sering membolos, membangkang, dan melalaikan tugas, yang perlu dipantau. Karena, siswa pengidap mania atau hypomania justru selalu merasa energik, penuh percaya diri, cerdas berkomunikasi lisan, serta tampak sering tidak pernah lelah, meskipun mengalami kesulitan tidur. Mereka juga mampu menuntaskan berbagai tugas dengan cepat dan kreatif, meski mungkin buruk pada unsur pengelolaan tugas.

Konsekuensinya, pemantauan terhadap kondisi siswa tidak lagi terbatas pada mereka yang bertindak-tanduk mencurigakan, namun juga perlu terhadap mereka yang tampak sangat positif dalam kesehariannya.

Terakhir, memahami peran strategis yang dimiliki para pekerja psikologi, saya berpandangan mungkin sudah saatnya bagi berbagai asosiasi psikologi nasionak untuk mulai mempertimbangkan pengiriman tenaga-tenaga psikologi ke berbagai pelosok Nusantara.

Bentuk pengaturannya tentu dapat disusun dengan menjadikan program pengiriman dokter ke daerah sebagai bahan perbandingan.

Semoga.