Menyiapkan Anak-anak Menghadapi Wabah Penyakit

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI); anggota Balai Pertimbangan Pemasyarakatan Kemkumham RI

Jumat, 6 Maret 2020 | 09:30 WIB

Berbagai langkah telah dilakukan otoritas terkait sebagai respons terhadap menyebarnya virus corona. Kegemparan--sedikit banyak--tak sampai menimbulkan kekisruhan. Mungkin karena masyarakat di Tanah Air telah teredukasi oleh informasi tentang penanganan virus corona yang dilakukan oleh negara-negara lain yang telah lebih dahulu dijangkiti oleh virus tersebut.

Situasi mungkin akan berbeda apabila virus corona di Indonesia memakan korban anak-anak. Tentu saja kita tidak berharap hal itu terjadi. Namun dugaan saya, dan ini perlu diantisipasi, andaikan jatuh korban dari kelompok usia anak-anak, akan muncul reaksi publik dengan magnitude jauh lebih besar daripada yang bisa disaksikan saat ini.

Saya menerima kabar tentang potret sejumlah sekolah dalam menghadapi (risiko) wabah virus corona. Sekolah Dasar gGANS, misalnya, sejak beberapa hari lalu berkirim pesan tertulis ke para orangtua siswanya. Ada delapan butir dalam pesan ajakan sekaligus imbauan itu. Yang paling mengesankan adalah butir kedelapan, yakni, “Ananda sudah mulai membiasakan bersalaman ke Bunda/Yanda Guru untuk tidak mencium tangan secara langsung, tetapi dengan cara mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada sambil menundukkan kepala.”

Saya sebut itu menarik, karena dalam waktu begitu singkat, para siswa seketika diperkenalkan dengan kebiasaan baru. Ajaran tentang budi pekerti tetap berlangsung, namun--gara-gara virus corona--kini dipraktikkan dengan ragam tindak-tanduk kesopanan yang sedikit berbeda.

Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) memantau pelaksanaan ketentuan baru itu. Dan ternyata apa yang tertulis benar-benar dilaksanakan di lapangan. Sejak dari gerbang sekolah hingga menjelang masuk kelas, seluruh guru dan karyawan Sekolah gGANS tidak lagi menerima jabat tangan dan membiarkan tangan mereka dicium oleh para siswa.

Penyikapan lainnya diperagakan oleh Sekolah Alam Algiva. Hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Jokowi mengumumkan adanya dua pasien positif terkena virus corona, guru-guru langsung mengadakan sesi open mind. Melalui sesi tersebut, pihak sekolah bergegas memberikan gambaran sederhana namun mengena tentang virus ini. LPAI menakar pemahaman siswa akan isi sesi open mind dimaksud, dan secara umum anak-anak yang bersekolah di Algiva bisa menangkapnya dengan baik.

Baik Sekolah gGANS maupun Sekolah Algiva, keduanya juga memasukkan butir tentang pentingnya berdoa kepada Tuhan YME agar “kita semua terhindar dari segala penyakit”.

Bentuk-bentuk prakarsa yang diambil oleh Sekolah gGANS dan Sekolah Algiva patut dipuji. Sekolah, tanpa menunggu instruksi dari Dinas Pendidikan, bergegas membangun pemahaman dan kebiasaan baru serta mengomunikasikannya langsung ke siswa dan orangtua. Tak pelak, dua pemandangan itu menunjukkan dua hikmah dari mewabahnya virus corona. Yaitu, momentum untuk menyemikan kembali perilaku sehat serta kepasrahan pada Yang Maha Kuasa.

Pemandangan tersebut memang tidak sampai seperti yang ekstrem berlangsung di negara-negara lain. Di Jepang, misalnya, Perdana Menteri Shinzo Abe telah memerintahkan seluruh sekolah di negeri Matahari Terbit untuk menghentikan kegiatannya selama satu bulan penuh.

Di Kanada, publik mendesak sekolah untuk memantau orangtua dan siswa yang baru saja melakukan perjalanan ke Tiongkok. Sekolah bahkan juga diminta untuk memastikan bahwa keluarga-keluarga tersebut “diliburkan” paling singkat selama 17 hari.

Materi tentang ketahanan terhadap virus corona dan serbaneka bibit penyakit lainnya memang patut diberikan kepada siswa dan orangtua. Jenis-jenis penyakit yang termasuk dalam daftar imunisasi wajib perlu diprioritaskan. Semua pihak perlu bekerja ekstra keras guna memastikan bahwa seluruh siswa menjalani imunisasi wajib. Ini patut mendapat perhatian ekstra karena resistensi dari sebagian kalangan terhadap program vaksinasi wajib, berisiko membangkitkan kembali wabah yang pada waktu silam sudah berhasil diatasi. Risiko itu pastinya tidak hanya merugikan siswa yang tidak diimunisasi akibat penolakan orangtua mereka, namun juga mengancam kesehatan para siswa lainnya.

Di samping penyakit yang disasar imunisasi, terdapat pula sejumlah masalah kesehatan lainnya yang juga patut dipertimbangkan untuk disosialisasikan ke para siswa dan orangtua mereka. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam publikasinya berjudul Roots for Resilience - A Health Emergency Risk Profile of the South-East Asia Region (2017), mencantumkan jenis-jenis penyakit tersebut. Yakni, diare, infeksi saluran pernapasan, malaria, campak, dan demam berdarah dengue.

Bukan Hanya Kuman
Penting menjadi keinsafan bersama, wabah penyakit tidak sebatas persoalan virus, bakteri, dan kuman-kuman lainnya. Berdampingan dengan masalah fisik, niscaya selalu ada masalah psikologis dan sosial yang juga perlu diantisipasi secara bijak.

Masalah psikologis yang mendesak adalah tentang bagaimana menerangkan hal-ihwal terkait wabah penyakit tanpa berekses memantik perasaan cemas berlebihan pada anak-anak. Cemas yang eksesif juga dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan fisik mereka. Menjadi ironis ketika para siswa absen dari sekolah bukan karena terkena virus corona, melainkan karena ketakutan akan virus tersebut.

Sikap keliru masyarakat (dewasa) akan “kondisi sehat” juga perlu dikoreksi. Tujuannya adalah agar anak-anak tidak lagi memaknakan sehat sebagai sembuh dari penyakit, melainkan sehat sebagai akibat dari kebiasaan berpola hidup positif. Dengan cara pikir baru tersebut, diharapkan anak-anak tidak lagi tanpa sengaja diajari untuk mudah langsung minum obat, tetapi lebih tekun menjaga perilaku hidup sehatnya (antara lain makan makanan halal dan bergizi, gerak badan, keseimbangan fisik dan mental, dan imunisasi).

Dimensi sosial dari wabah penyakit juga merupakan agenda penting. Yaitu, bagaimana agar para siswa dapat waspada namun tetap mampu menahan diri untuk terlalu mudah memberikan stigma dan mendiskriminasi sesama mereka yang menderita penyakit.

Hal tersebut relevan untuk diangkat, karena tidak sedikit negara yang memberlakukan pengisolasian terhadap masyarakat yang berasal dari wilayah-wilayah tertentu. Para siswa, dengan kesederhanaan pola pikir mereka, perlu dijernihkan persepsinya bahwa pengisolasian itu sesungguhnya tidak bersangkut paut dengan etnik, agama, maupun latar sosial lainnya. Larangan untuk memasuki negara tertentu ditegakkan semata-mata karena adanya kemungkinan virus yang bisa ikut bermigrasi bersamaan dengan kedatangan orang-orang dari kawasan tertentu.

Muatan lain yang tak kalah penting adalah tentang kemungkinan wabah penyakit, jika tidak tertanggulangi, memisahkan anak dari orang-orang yang mereka sayangi. Pengobatan intensif yang memaksa anak maupun anggota keluarga lainnya menjalani rawat inap di rumah sakit, relevan untuk disampaikan ke anak-anak sesuai dengan tingkat kematangan mereka. Demikian pula saat epidemi memakan korban meninggal dunia, ini jelas merupakan topik berat namun tidak ternihilkan yang membutuhkan pendekatan bijak agar bisa masuk dalam pemikiran anak-anak.

Satu lagi, sejak Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan bahwa sudah ada dua warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona, tersebar kabar tentang kepanikan berupa pembelian secara besar-besaran dan penimbunan barang-barang tertentu. Perilaku panik sedemikian rupa merupakan kompensasi terhadap situasi yang ditafsirkan tidak terkendali sekaligus manifestasi defisit kepercayaan terhadap pemerintah.

Kepanikan itu dapat memburuk ke dalam bentuk perilaku penjarahan dan kekacauan sosial lainnya. Sungguh tragis ketika masalah wabah penyakit meluas menjadi masalah pidana.

Situasi anarkistis semacam inilah yang harus ditolak masyarakat, tak terkecuali anak-anak. Kepada para siswa perlu diberikan ilustrasi-ilustrasi nyata tentang daya lenting masyarakat dalam menghadapi bencana, termasuk epidemi penyakit.

Lengkap sudah; ada ruang multidimensi yang patut dimasuki agar anak-anak kita siap lahir dan batin, masa kini dan masa depan, secara individual maupun kolektif, menghadapi virus corona dan epidemi penyakit lainnya.

Semoga.