Peran Generasi Milenial untuk Generasi “Kolonial”

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI); anggota Balai Pertimbangan Pemasyarakatan Kemkumham RI

Senin, 16 Maret 2020 | 09:00 WIB

“Ya Tuhan, sayangilah orangtuaku sebagaimana mereka menyayangiku sedari aku kecil hingga dewasa.”

Itu salah satu doa yang paling sering diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Inti doa itu adalah membimbing kaum muda untuk tahu diri dan membalas kebaikan para pendahulu, yaitu orang-orang tua.

Logika mengatakan, budi jasa orangtua akan bisa dibalas dengan baik oleh anak bila kehidupan anak sehat sejahtera. Uang memang bukan segalanya. Namun realistis, kesiapan sumber daya finansial akan memberikan kemampuan lebih solid kepada generasi milenial saat mengasuh (caregiving) lansia. Sebaliknya, hidup anak yang berantakan akan menjadikan masa istirahat orangtua tertunda. Itu karena anak terus bergantung pada orangtuanya. Dalam kondisi seperti itu, anak bisa saja secara fisik telah berusia dewasa. Namun, secara sosial, karena tak kunjung mandiri, masa kanak-kanak seolah berlangsung berkepanjangan.

Kegagalan anak menjadi dewasa secara mental dan sosial tampaknya terwakili oleh lagu “Ayah” karya Ebiet G Ade puluhan tahun silam. Bait terakhir lagu itu menyajikan pemandangan yang cukup memilukan. “Namun kerinduan tinggal hanya kerinduan. Anakmu sekarang banyak menanggung beban.”

Kali ini, lewat tulisan ini, saya tidak semata-mata ingin membahas ihwal anak-anak sebagaimana isi tulisan-tulisan saya terdahulu. Saya saat ini memiliki kebutuhan untuk mengaitkan anak-anak ke para sesepuh alias orang-orang lanjut usia (lansia).

Munculnya narasi tentang lansia bukan semata pantulan kehidupan diri pribadi. Ihwal terkait anak dan lansia menjadi penting setelah saya membaca sekian banyak penelitian mengenai--dalam kiasan saya--bagaimana kaum milenial memandang kaum “kolonial”. Walau sekumpulan riset tersebut dilakukan di negara-negara lain, namun memahami bahwa teknologi informasi dan komunikasi telah menjadikan dunia masa kini sebagai bentangan tanpa batas, maka tak mustahil situasi serupa juga akan berlangsung di sini.

Apalagi, berdasarkan data Survei Penduduk Antarsensus, jumlah warga lansia di Indonesia pada 2015 sebanyak 21,7 juta jiwa (8,5% dari total penduduk), bertambah menjadi 27,5 juta (10,3%) dan diramal melonjak ke 57 juta jiwa (17,9%) pada tahun 2045 (BPS, Bappenas, UNFPA, 2018). Lansia dengan besaran tersebut tentu membutuhkan dukungan kebijakan dari atas dan topangan kehidupan dari bawah, agar para lansia tetap dapat memaksimalkan potensi mereka sebagai warga yang produktif.

Persoalannya, lirik lagu Ebiet laksana ramalan yang menjadi kenyataan. Mengutip the Sightlines Project, the Stanford Center on Longevity, dibandingkan dengan generasi terdahulu, lebih banyak kaum milenial (kelahiran antara 1981 dan 1996) yang memperoleh pendidikan kesarjanaan. Itu salah satu sisi positifnya.

Sisi negatifnya, tingkat kemiskinan dan pengangguran di kalangan kaum milenial justru meninggi. Artinya, dari sisi kesejahteraan finansial, kaum milenial tidak lebih baik bahkan mungkin lebih payah dibandingkan generasi terdahulu. Bisnis start up dan serba daring yang menjadi kekhasan generasi masa kini memang masif. Namun iklim pun kian kompetitif. Dan meningginya tingkat pendidikan, tidak lalu membuat generasi milenial sungguh-sungguh memiliki daya lenting yang tangguh.

Beratnya problematika hidup yang dihadapi kaum muda, pada gilirannya mendorong mereka untuk tinggal lebih lama bersama orangtua mereka. Ini jelas situasi yang (dulu) dianggap pamali oleh masyarakat Barat. Bagi mereka, selambatnya pada usia 21 tahun, anak-anak sudah harus keluar rumah. Karena itulah, pada hari ulang tahunnya yang ke-21, kepada mereka diberikan kado berupa kunci. Maksudnya, anak-anak harus sudah mengambil ancang-ancang serius sejak sebelum memasuki umur 20 tahun, sehingga ketika sudah berusia 21 tahun, mereka sudah memiliki kemampuan (termasuk finansial) untuk menyokong setidaknya hidup mereka sendiri.

Persoalannya, mengacu temuan the Sightlines Project, sangat mungkin terjadi pelanggaran terhadap aturan main 21 tahun tersebut. Namun, entah berdasarkan rasionalitas atau justru untuk mengatasi ansietas, the Sightlines Project mengatakan bahwa menetap berkepanjangan bersama orangtua bukanlah tanda kegagalan, melainkan pola adaptasi baru terhadap struktur keluarga baru (modern?) yang bercirikan sekian banyak generasi hidup bersamaan di bawah satu atap.

Problematika tersebut tragisnya disertai oleh makna yang diberikan kaum milenial kepada lansia. Di mata 40% generasi milenial, misalnya, demensia (kondisi singkat akal) disikapi sebagai suratan nasib yang tak terelakkan dari merambatnya usia ke fase tua. Kesepian pun dipandang sebagai “apa boleh buat, itulah risiko orang-orang sepuh”. Demikian pula, sirnanya kebahagiaan dan tergantikan oleh depresi pada usia senja juga dianggap normal saja oleh generasi milenial. Begitu hasil kajian the Royal Society for Public Health (RSPH) dan the Calouste Gulbenkian Foundation.

Persepsi negatif yang ditunjukkan oleh kaum milenial tersebut melahirkan istilah “ageism”. Ageism, sebagai konsepsi keliru akan proses menjadi lansia, dikhawatirkan memantik sikap diskriminasi atau pun penyepelean terhadap warga lansia. Juga, dengan mempertahankan konsepsi keliru tersebut, generasi milenial berisiko memiliki kondisi kesehatan yang buruk manakala mereka menjadi manula kelak.

Peran Generasi Milenial
Pada alinea terdahulu, disinggung ihwal peran pengasuhan (caregiving) yang dimainkan kaum milenial terhadap lansia. Pengasuhan sering dideskripsikan sebagai aktivitas memandikan, menyuapi makanan, dan sejenisnya. Apabila generasi muda milenial melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, tentu tidak keliru. Justru mulia.

Namun, fokus yang ingin saya titikberatkan adalah pengasuhan secara psikologis. Yaitu, antara lain, mencurahkan kasih sayang, membangun komunikasi, menciptakan perasaan terkait satu sama lain, dan menghadirkan keceriaan. Bentuk-bentuk perhatian sedemikian rupa semakin diperlukan, mengingat format komunikasi masa kini yang serba virtual. Surat elektronik, teks berbasis aplikasi smartphone, dan media sosial adalah manifestasinya. Pada sisi seberang, terdapat warga lansia yang sering dijuluki sebagai generasi hening (silent generation). Mereka telanjur terbiasa dalam komunikasi langsung melalui telepon, bertamu dan berkumpul tatap muka, maupun surat-menyurat kertas.

Generasi milenial, dengan memanfaatkan media sosial, juga dapat mengampanyekan isu-isu terkait problem kesehatan manula. Masalah-masalah sosial juga dapat berdampak signifikan pada kehidupan manula. Kesulitan dalam menyesuaikan diri dan sikap kurang menerima kondisi diri sendiri, misalnya. Juga, keterasingan sosial akibat anak-anak yang telah memiliki kehidupan mereka sendiri.

Bukan Kaum Lemah
Tulisan ini sesungguhnya bukan sikap mengiba-iba agar masyarakat, khususnya generasi milenial, menaruh perhatian berlebih terhadap warga lansia. Tulisan ini merupakan pengingat bagi kaum milenial agar mereka tidak terperangkap dalam Peter Pan Syndrome, yakni anak-anak yang terkurung dalam raga dewasa, akibat beragam tantangan hidup masa kini. Manakala kaum milenial tenggelam dalam sindroma tersebut, jangankan menjadi manusia produktif, generasi milenial justru berpotensi sangat tinggi menjadi pengganggu bagi para lansia dalam menjalani irama hidup mereka yang sudah banyak berubah.

Kiranya generasi milenial senantiasa siaga dan memiliki komitmen tinggi untuk cerdas dan kreatif mengembangkan potensi masing-masing agar mampu mandiri dalam menghadapi berbagai tantangan jaman yang semakin kompleks.

Semoga.