Menyiapkan Guru Penggerak

Opini: Indra Charismiadji

Penulis adalah Pemerhati dan Praktisi Edukasi 4.0, Direktur Eksekutif CERDAS (Center for Education Regulations & Development Analysis)

Sabtu, 14 Maret 2020 | 09:00 WIB

Program Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membutuhkan guru-guru penggerak agar dapat membuat perubahan yang signifkan dalam pendidikan Indonesia sebagai proses pembangunan SDM unggul. Dengan demikian langkah awal yang harus diambil adalah mengindentifikasi siapa-siapa saja yang memenuhi kriteria guru-guru penggerak.

Everett M Rogers, seorang pakar ilmu sosial, dalam teori difusi inovasi yang dipublikasikan tahun 1962 berpendapat bahwa dalam menghadapi sebuah perubahan (difusi inovasi), manusia akan terbagi menjadi 5 kategori yang berbeda, yaitu inovator (innovators), pengadopsi awal (early adopters), mayoritas awal (early majority), mayoritas lambat (late majority), dan terlambat (laggards).

Inovator dengan persentase 2,5% dari populasi, adalah orang pertama yang ingin mencoba inovasi baru. Mereka sangat bersedia mengambil risiko, biasanya memiliki kelas sosial tertinggi, memiliki kejernihan finansial yang besar, seringkali pertama mengembangkan ide-ide baru, sangat sosial dan memiliki kontak paling dekat dengan sumber-sumber ilmiah dan interaksi dengan inovator lainnya. Karena toleransi risiko yang tinggi, mereka mengadopsi teknologi atau cara baru yang mungkin pada akhirnya gagal tetapi ditopang oleh sumber daya yang cukup. Mereka adalah orang-orang yang memiliki antusiasme tinggi dalam melakukan hal-hal baru.

Pengadopsi awal dengan persentase 13,5% dari populasi, adalah kategori tercepat kedua untuk mengadopsi inovasi. Mereka memiliki tingkat pengaruh yang tinggi di banyak bidang dan dianggap oleh banyak orang sebagai individu yang menganalisis dengan matang segala bentuk inovasi baru sebelum mengadopsinya. Tidak seperti inovator yang mayoritas kosmopolit atau memiliki status sosial tinggi, early adopters tidak terlalu jauh di atas rata-rata individu lain dalam tingkat inovasi, walaupun demikian mereka dianggap sebagai panutan dalam sistem sosial atau dapat memberikan pengaruh (influencer).

Untuk mempertahankan peran sentral mereka dalam sistem komunikasi sosial dan penghargaan rekan-rekan mereka, mereka menyadari bahwa harus membuat pilihan yang lebih bijaksana dalam adopsi daripada inovator. Individu dengan klasifikasi ini cenderung lebih muda, cenderung berstatus sosial yang lebih tinggi dari yang lain kecuali inovator, memiliki tingkat nalar tinggi, dan lebih maju secara sosial daripada pengadopsi yang lebih lambat.

Rogers berpendapat bahwa early adopters membantu memicu masa kritis dengan mengurangi ketidakpastian tentang ide baru. Mereka adalah orang-orang yang visioner atau berpandangan maju.

Mayoritas awal dengan persentase 34% dari populasi adalah kategori individu yang membuat keputusan untuk mengadopsi inovasi setelah periode yang relatif lebih lama daripada inovator dan pengadopsi awal. Mereka membutuhkan dalil atau teori yang kuat dan terbukti untuk membuat suatu perubahan, biasanya mencari bukti bahwa suatu inovasi bekerja sebelum mereka mau mengadopsinya.

Mereka biasanya memiliki status sosial di atas rata-rata, sering berinteraksi dengan pengadopsi awal tetapi jarang dalam posisi untuk menjadi pemimpin dalam sistem sosial. Mereka adalah orang-orang pragmatis yang baru mau mencoba hal baru jika orang-orang lain melakukan hal tersebut juga.

Mayoritas lambat dengan persentase 34% dari populasi, adalah kelompok yang membuat keputusan untuk mengadopsi inovasi setelah yang lain telah mengadopsinya. Mereka cenderung memandang sebuah inovasi baru dengan sangat hati-hati dan skeptisme yang tinggi. Adopsi oleh individu dengan kategori ini terjadi karena tekanan lingkungan seperti peer pressure atau tuntutan kerja. Biasanya mereka cenderung memiliki status sosial ekonomi yang lebih rendah, memiliki tingkat finansial yang tidak tinggi, dan pengaruh yang sangat sedikit pada opini lingkungan. Mereka adalah orang-orang yang konservatif.

Adapun kelompok terlambat dengan persentase 16% dari populasi, adalah kategori individu yang terakhir mengadopsi inovasi. Mereka sangat sedikit bahkan sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap opini lingkungan, lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang yang berpikiran tradisional dan biasanya lebih tua. Mereka menolak untuk berubah dengan kejayaan masa lampau selalu menjadi titik rujukan. Kategori ini selalu skeptis pada perubahan karena sudah terlampau nyaman dalam zonanya.

Kunci Difusi Inovasi
Penelitian menunjukkan bahwa lompatan dari pengadopsi awal ke mayoritas awal adalah yang paling sulit dibuat dari seluruh siklus adopsi inovasi. Geoffrey Moore, seorang pakar teori organisasi, konsultan manajemen, dan penulis Amerika, yang dalam karya popularnya Crossing the Chasm, menjelaskan bahwa perubahan masif baru terjadi jika jurang antara pengadopsi awal dan mayoritas awal dapat dijembatani. Inovasi baru harus selamat dari kerasnya pengujian pengadopsi awal untuk mengatasi skeptisme, jika ingin diterima oleh lingkungan. Pengadopsi awal adalah kumpulan individu yang paling tepat dalam mempengaruhi orang lain berdasarkan pada kredibilitas mereka yang didasarkan pada otoritas, pengetahuan, posisi, atau hubungan mereka dengan kategori lain.

Penulis buku The Lean Startup, Eric Reis mengatakan, dengan memanfaatkan pengadopsi awal, transisi inovasi baru bisa berjalan lebih mulus. “Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan inovasi baru seperti pada awal diperkenalkan, melainkan visi dari apa yang dapat dihasilkan dari inovasi tersebut. Dan dengan berdialog terus-menerus dengan mereka, kami dapat belajar banyak pelajaran penting tentang invoasi apa yang dibutuhkan untuk akhirnya mencapai harapan,” kata Reis dalam pidatonya tahun 2009, di Universitas Stanford, Amerika Serikat.

Para guru dengan klasifikasi pengadopsi awal ini adalah guru-guru penggerak yang perlu dibina secara intensif agar mampu menyiapkan generasi masa depan yang unggul. Mereka akan menjadi contoh serta teladan bagi guru-guru lain dalam membuat perubahan. Penentuan klasifikasi ini biasanya ditentukan dari hasil obervasi, bagaimana para guru mengikuti sebuah lokakarya difusi inovasi selama minimal 2 hari tatap muka yang dikombinasikan dengan kegiatan dalam jaringan (daring), dan juga hasil penilaian kinerja dari pimpinan sekolah terhadap para guru tersebut.

Pelatihan Guru Penggerak
Kesimpulannya, program pembangunan SDM unggul akan berhasil jika dimulai dari stimulasi guru penggerak atau pengadopsi awal dalam bentuk pelatihan. Persentasi guru penggerak adalah 13,5% dari polulasi 3 juta guru, atau sekitar 400.000 guru.

Jika tahun 2020 ini difokuskan untuk menyiapan para pelatih guru penggerak, maka mulai tahun 2021 cukup melatih 100.000 guru penggerak per tahun saja. Jumlah ini jika dibagi dengan jumlah Lembaga Pelatihan Tenaga Kependidikan (LPTK) penyelenggara Pendidikan Profesi Guru (PPG) sejumlah 65, ditambah pusat pelatihan Kemdikbud (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan/PPPTK dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan/LPMP) dengan jumlah 35, maka setiap tempat pelatihan cukup melatih 1.000 guru penggerak per tahun. Jumlah yang mudah dikelola dan hasilnya juga mudah dipertanggungjawabkan.

Alvin Toffler mengatakan, “Di abad 21 ini, mereka yang disebut tunaaksara atau buta huruf bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak bisa learn, unlearn, dan relearn.”

Untuk menjadi guru penggerak tidak bisa disiapkan dalam konsep learn, melainkan harus unlearn, baru kemudian relearn. Lokakarya yang selama ini diberikan oleh Kemdikbud akan diterima dengan konsep learn. Analoginya sama dengan mengisi sebuah gelas. Apabila gelasnya sudah penuh maka apapun yang diisi hanya akan tumpah.

Para guru sudah penuh otaknya dengan konsep pendidikan lama, di mana guru menjadi satu-satunya sumber belajar dan pola pendidikannya didorong oleh pola manufaktur. Agar berubah menjadi guru penggerak, mereka harus di-unlearn dulu konsep pedagoginya. Analoginya seperti membuang isi di dalam gelas. Proses unlearn ini butuh waktu yang cukup panjang karena mengubah suatu kebiasaan atau habitus.

Berdasarkan pengalaman penulis di beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Thailand, proses unlearn membutuhkan waktu minimum 6 bulan sampai dengan 12 bulan. Setelah unlearn, proses relearn atau mengisi gelas dengan isi baru akan cepat sekali.