Dokter Cipto, Dokter Handoko, dan Covid-19

Opini: Eko Sulistyo

Penulis adalah Sejarawan, Deputi di Kantor Staf Presiden (2015-2019)

Kamis, 19 Maret 2020 | 08:00 WIB

Selasa (17/3) sore, teman saya dokter yang sama-sama pernah bertugas di Kantor Staf Presiden (KSP), mengirim pesan via WhatsApp mengabarkan tentang pengabdian yang luar biasa seorang dokter di Rumah Sakit Kedoya, Jakarta, dalam menangani pasien Covid-19 atau virus korona. Disebutkan, dokter spesialis penyakit paru ini bernama Handoko Gunawan, bekerja sampai jam 3 pagi karena dokter yang muda banyak yang takut.

Usianya tergolong sudah tidak muda lagi, mendekati 80 tahun. Tanpa menghiraukan kesehatannya maupun saran dari anak-anaknya untuk tidak menangani pasien Covid-19, tapi dr Handoko terus bekerja untuk kemanusian meski nyawanya sendiri menjadi taruhannya. Sempat dikabarkan jika dokter sepuh ini harus masuk ICU akibat kelelahan menangani pasien Covid-19.

Cerita ini tentu saja sangat menyentuh dan menggugah siapa saja yang membacanya. Apalagi di saat pemerintah Indonesia sedang berjibaku mencegah penularan penyakit yang diketahui pertama kali penyebarannya di kota Wuhan, Tiongkok. Tidak heran jika berita tentang kerja keras dr Handoko menangani pasien korona menjadi viral dan mendapat simpati dari para netizen.

Bagi masyarakat Indonesia yang sedang dilanda kekhawatiran terkena wabah Convid-19, cerita dr Handoko ini bisa menjadi lentera untuk menyalakan api semangat bersama sebagai bangsa dalam mencegah dan memerangi wabah korona. Pengabdiannya merawat pasien korona, memberi harapan bahwa dokter-dokter dan tenaga medis Indonesia siap dan mampu menghadapi pandemi global korona.

Dr Cipto dan Wabah Pes
Dalam sejarah, kita dikenalkan akan keberanian dr Cipto Mangunkusumo yang tampil ke depan memerangi wabah penyakit pes. Dokter Cipto Mangunkusumo, yang namanya kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) di Jakarta, selain dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional, juga seorang dokter bumiputera yang punya pendirian teguh dalam membela rakyatnya.

Ketika wabah pes menyerang Malang pada 1910, dr Cipto tercatat sebagai orang pertama yang mendaftar menjadi sukarelawan pada dinas pemerintah di Batavia (Jakarta) untuk membasmi wabah tersebut. Karena saking parahnya wabah ini, para dokter Belanda dan Eropa banyak yang menolak untuk dikirim ke Malang. Atas dedikasinya ini, dr Cipto dianugerahi tanda jasa Ridderkruis (lencana kehormatan Belanda) Orde van Oranje-Nassau pada awal 1912 oleh pemerintah Belanda.

Sebagai gambaran kondisi wabah pes saat itu disebutkan pes merajalela di rumah-rumah bambu rakyat dan menelan korban beribu-ribu jiwa. Kematian manusia seakan sebanyak kematian tikus yang membawa virus pes. Beratus-ratus rumah harus dibakar dan penghuninya yang masih hidup terlentang dalam barak-barak rumah sakit penuh sesak. Sementara faktor iklim Malang yang sejuk membuat bakteri dan virus pes mampu bertahan lebih lama.

Dalam biografinya yang ditulis oleh Balfas, dr Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sedjati (1952), disebutkan dr Cipto bekerja di daerah yang dilanda pes paling parah. Dia bekerja tidak kenal letih, keluar masuk kampung tanpa memakai masker, sarung tangan, dan seluruh badannya terbalut untuk mencegah penularan. Sebagai orang berpendidikan kedokteran, sikapnya ini terbilang semberono. Tapi ia sudah pasrahkan hidupnya kepada nasib.

Dalam tugas kemanusiannya di Malang, dokter yang digelari Sang Satria ini sempat mengadopsi bayi perempuan yang diambilnya dari sebuah rumah yang akan dibakar karena penghuninya sudah mati semua kecuali tangis bayi tersebut. Sebagai kenangan pada peristiwa tersebut, bayi ini diberi nama Pesjati (Pest atau penyakit). Pesjati kelak tumbuh dewasa diasuh oleh keluarga dr Cipto sampai akhir hidupnya.

Ada cerita menarik ketika dr Cipto ditolak pemerintah kolonial untuk bekerja kembali memerangi wabah pes yang menyerang daerah Solo. Penolakan ini, bagi dr Cipto, sama saja artinya dengan ditolak untuk menolong rakyatnya. Akibat itu, bintang jasa Orde van Oranje Nassau yang pernah diterimanya dalam pembasmian pes, lantas ditempelkan di pantatnya sambil pergi ke Jakarta untuk dikembalikan pada pemerintah.

Tentu saja perbuatan ini menjadi cerita rakyat yang cepat menyebar tentang sosok dr Cipto yang pemberani, sederhana, jujur, dan tidak peduli pada segala sesuatu miliknya. Pada 1913, dr Cipto dibuang selama setahun di negeri Belanda akibat aktivitas politiknya. Sekembalinya dari Belanda, pada 1927 diasingkan ke Banda Neira sampai awal 1941 tatkala ia dipindahkan ke Makasar. Tak lama kemudian dr Cipto dibolehkan kembali ke Jawa dan meninggal pada 1943.

Kepahlawanan dan Keteladanan
Tulisan ini tentu tidak bermaksud membandingkan atau menyejajarkan dr Handoko dengan dr Cipto yang kebetulan sama-sama berprofesi sebagai seorang dokter. Tapi pengabdiannya untuk mengobati pasien sakit yang membutuhkan pertolongannya, telah melampaui tugas profesionalnya sebagai seorang dokter. Dengan mengabaikan kesehatannya, keduanya berserah pada nasib dan takdir dalam urusan hidup dan mati dalam tugas.

Dokter Cipto adalah pahlawan nasional yang gigih menentang kolonialisme Belanda. Ketokohannya sangat berpegaruh pada awal pergerakan nasional di Hindia Belanda. Dokter Cipto adalah priyayi Jawa yang paling idealis dan blak-blakan pada masa hidupnya. Selain dikenal pandai bicara dan tulisan penanya yang tajam, ia memiliki tujuan hidup utama untuk mengadakan perang politik terhadap ketidakadilan dan penindasan.

Menurut Savitri Scherer dalam bukunya, Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX (1985), sumbangan dr Cipto terhadap perkembangan nasionalisme Indonesia adalah sifat pribadinya yang keras kepala, tidak mementingkan diri sendiri, punya harga diri, jujur, dan idealis. Semangat revolusionernya juga mengilhami banyak pemimpin nasionalis lainnya termasuk Soekarno. Dalam sebuah wawancara pada 1959, tanpa ragu Soekarno menyebut dr Cipto adalah orang Indonesia yang paling banyak memengaruhi pemikiran politiknya.

Sementara dr Handoko adalah seorang warga Indonesia biasa, bukan seorang pahlawan nasional. Tapi dengan profesinya sebagai dokter spesialis paru, dia sadar bahwa keahliannya sangat dibutuhkan masyarakat yang mengalami kepanikan akibat korona saat ini. Dokter Hadoko hanya bekerja keras sesuai profesinya agar pasiennya bisa sembuh kembali.

Keterkenalan namanya saat ini tentu bukan suatu yang dia dan keluarganya kehendaki. Dia juga tidak akan menjawab jika ditanya polemik lockdown atau bukan lockdown yang kini cenderung dipolitisasi sebagai langkah yang perlu dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus korona. Dokter Handoko hanya memberi teladan atas pengabdian profesinya dalam menolong orang sakit.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin menunjukkan bahwa pada kondisi dan situasi yang berbeda, dr Cipto dan dr Handoko telah memberikan contoh peran dokter bukan sekadar menjalankan profesi kesehatan, tetapi juga mengedukasi masyarakat. Melalui ilmunya, keduannya tidak hanya menangani pasien, tapi juga merawat bangsa