Masih Bersikeras Menjadi Sekolah Antigawai?

Opini: Indra Charismiadji

Penulis adalah Pemerhati dan Praktisi Edukasi 4.0, Direktur Eksekutif CERDAS (Center for Education Regulations & Development Analysis)

Senin, 23 Maret 2020 | 08:00 WIB

Pekan lalu, begitu saya mendarat dari Makassar, ada sebuah pesan elektronik masuk ke ponsel saya dari seorang kepala sekolah, yang isinya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan saya membantu pelaksanaan pembelajaran berbasis komputasi awan (cloud) dengan menggunakan Microsoft® 365. Tanpa aplikasi tersebut mereka tidak akan tahu bagaimana caranya menjalankan kegiatan belajar di rumah, karena kepala daerah sudah memberikan instruksi untuk meniadakan semua kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Tidak lama kemudian pesan sejenis masuk juga dari kepala sekolah di daerah lain yang sudah saya bantu menggunakan aplikasi Google Suite for Education. Siang itu saya mendapatkan berbagai pesan sejenis yang mengapresiasi bantuan yang telah saya berikan selama ini untuk membuat sekolah menjadi siap dengan pembelajaran abad 21 yang berbasis teknologi digital.

Perjuangan saya ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2002. Sudah ribuan sekolah dan perguruan tinggi yang telah saya bantu untuk menerapkan pembelajaran digital. Sayangnya, hampir seluruhnya menganggap konsep ini sebagai sampingan semata. Tidak sedikit yang bahkan sudah kembali ke model tradisional dengan guru mengajar di depan kelas, sumber belajar dari buku teks saja, dan evaluasi dalam bentuk ulangan atau ujian berbasis hafalan. Tidak heran jika mutu pendidikan Indonesia menjadi salah satu yang terburuk di dunia.

Di sisi lain, yang menghambat modernisasi adalah banyaknya tokoh pendidikan Indonesia yang berpendapat bahwa penggunaan teknologi digital dalam pendidikan lebih banyak mudaratnya dibandingkan dengan maslahatnya. Menurut mereka, permasalahan mulai dari kesehatan mata, kesehatan jiwa, kecanduan, sampai dengan banyaknya konten-konten negatif yang merusak akhlak peserta didik. Sudah sering kali saya berbedat dengan mereka baik melalui tulisan maupun diskusi. Intinya sulit bagi mereka meninggalkan status quo.

Dipaksa Covid-19
Bagaimana dengan kondisi seperti sekarang saat Mendikbud sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 agar seluruh kegiatan belajar-mengajar baik di sekolah maupun kampus perguruan tinggi menggunakan metoda dalam jaringan (daring) alias online sebagai upaya pencegahan terhadap perkembangan dan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19)? Masihkah ada lembaga pendidikan yang bersikeras menjadi sekolah antigawai (gadget)?

Sekolah-sekolah yang sampai sekarang masih antigadget pasti menjadi sekolah yang kebingungan dalam menghadapi situasi ini. Ujung-ujungnya hanya bisa meliburkan siswa alias meniadakan proses belajar-mengajar sama sekali. Siapa yang dirugikan? Tentu saja para peserta didik yang sudah kehilangan waktu untuk menuntut ilmu.

Sudah banyak orang tua yang meminta adanya pemotongan uang sekolah (SPP) bulanan karena mereka merasa tidak mendapatkan layanan pendidkan sama sekali. Tak hanya itu, mereka pun direpotkan dengan anak-anaknya yang tidak memiliki kegiatan sama sekali di rumah, apalagi mereka pun harus bekerja dari rumah.

Secara regulasi, konsep pembelajaran berbasis digital ini sudah diatur dalam Peraturan Mendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses, di mana prinsip pembelajarannya harusnya berjalan sebagai berikut:
1. Dari peserta didik diberi tahu, menuju peserta didik mencari tahu;
2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar, menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
3. Dari pendekatan tekstual, menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
4. Dari pembelajaran berbasis konten, menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5. Dari pembelajaran parsial, menuju pembelajaran terpadu;
6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal, menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi;
7. Dari pembelajaran verbalisme, menuju keterampilan aplikatif;
8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarsa sung tuladha), membangun kemauan (ing madya mangun karsa), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa
saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran; serta
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.

Apabila sekolah-sekolah, termasuk para pengawas sekolah, di Indonesia sudah memastikan jalannya proses pembelajaran sesuai dengan standar proses, maka kekacauan yang muncul akibat edaran agar pembelajaran di rumah dilakukan dengan proses daring tidak akan terjadi. Poin 11, 12, dan 13 sudah menjelaskan bahwa konsep belajar harus memanfaatkan teknologi digital dan belajar tidak hanya di sekolah. Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tidak pernah mengikuti peraturan/standar yang dibuat dirinya sendiri.

Banyak kejadian lucu yang saya temui dalam usaha sekolah membuat proses pembelajaran daring. Ada yang membuat konsep ceramah online, ada yang tetap mengajar di kelas seperti biasa tetapi divideokan yang menjadi lucu karena mengajar bangku-bangku kosong, serta ada yang memanfaatkan konten-konten gratis dari berbagai sumber.

Suatu usaha awal yang baik, tetapi pada dasarnya tidak sesuai dengan pedagogi digital (e-pedagogy). Sebab, konten sudah tidak penting lagi karena dengan adanya internet betapa mudahnya mendapatkan konten dan sebagian besar gratis. Fokus di pendidikan era 4.0 bukan lagi apa yang dipelajari (what to learn) melainkan bagaimana caranya belajar (how to learn). Di sinilah pentingnya posisi seorang pendidik, karena mereka harus membimbing peserta didik tentang caranya belajar termasuk belajar dengan memanfaatkan internet.

Perkembangan dan penyebaran Covid -19 adalah sebuah musibah bagi umat manusia. Namun, di balik itu ternyata ada dampak positif bagi dunia pendidikan Indonesia. Proses pembelajaran di lembaga pendidikan di Tanah Air akan menjadi lebih modern, karena dipaksa untuk melakukan kegiatan dalam jaringan dan memanfaatkan gawai. Saya pun akhirnya melihat banyak guru yang terpaksa belajar konsep e-pedagogy, semua karena the power of kepepet. Inilah negara “+62”.