Keluarga, Benteng Menghadapi Corona

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI); anggota Balai Pertimbangan Pemasyarakatan Kemkumham RI

Selasa, 24 Maret 2020 | 08:00 WIB

“Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman.”

Ungkapan klasik itu menemukan tantangannya hari ini. Kesiapsediaan masyarakat dalam menghadapi peristiwa tak terduga, menjadi sorotan kita pekan-pekan terakhir ini.

Salah satu sisi hidup yang ditantang oleh ungkapan budaya Jawa tersebut adalah dunia pendidikan. Secara spesifik, belajar mandiri. Istilah ini sudah masyarakat dengar dan praktikkan sejak berpuluh tahun lalu. Apalagi sejak berkembang teknologi pendidikan jarak jauh, belajar tanpa supervisi sudah menjadi makanan sehari-hari, bahkan di kalangan anak-anak. Sistem sekolah berbasis rumah (home schooling) pun demikian. Saya termasuk pihak yang terus memperjuangkan dan menyosialisasikan home schooling sejak bermasa-masa silam.

Tidak ada persoalan terkait belajar mandiri, home schooling, dan program-program sejenis lainnya.

Namun beda situasi ketika kini para siswa “diliburkan” dan dikondisikan untuk tetap belajar di rumah, menyusul pandemi Covid-19. Mengamati praktik belajar dalam situasi wabah kali ini, saya menyimpulkan bahwa proses belajar-mengajar di rumah tak semudah membalik telapak tangan. Bukan hanya siswa yang terkesan terbata-bata, para guru pun tampak mengalami kekikukan sedemikian rupa. Apalagi saat dihadapkan pada pertanyaan tentang kelanjutan sekolah pascakarantina empat belas hari ini. Sekian banyak sekolah tidak mampu memberikan jawaban gamblang. Tidak sedikit pula orang tua yang pening memiliki peran tambahan sebagai guru yang harus mengantarkan materi berbasis kurikulum formal.

Mengapa belajar mandiri di rumah kali ini dilalui dengan sekian banyak kecanggungan? Jawabannya tak lain adalah karena program belajar mandiri di rumah kali ini datang secara tiba-tiba. Ini bukan program yang disiapkan dengan penuh persiapan sebelumnya, melainkan justru diselenggarakan dengan keterpaksaan. Ini tidak bulat seirama dengan program pemerintah, melainkan lebih karena intimidasi pandemi.

Episode ini semakin tak mudah dilalui, karena, sebagaimana bisa disimak pada tayangan media, banyak anggota masyarakat (orang dewasa) yang menyikapi situasi pandemi dengan psikologi yang kurang tepat.

Pada satu sisi, meski sudah diingatkan berulang kali untuk mengisolasi diri dan keluar rumah hanya bila benar-benar diperlukan, tetap saja banyak orang yang gegabah bersuka ria di ruang publik. Mereka saling duduk berdekatan, bersentuhan, merokok, dan berperilaku penuh risiko lainnya. Disebut berisiko karena tindak-tanduk sedemikian rupa membuat mereka rentan tertular atau pun berpotensi menjadi agen penularan virus korona. Lebih mengerikan lagi, orang-orang dewasa tersebut berkeliling dengan membawa serta anak-anak.

Perilaku penuh risiko seperti itu bersumber dari hindsight bias. Kekacauan berpikir tersebut disebabkan oleh pandangan berlebihan terhadap diri sendiri, seolah dirinya memiliki kekebalan ekstra, ia akan dapat menaklukkan virus korona, dan keluarganya tetap sehat sentosa. Jelas, hindsight bias ini merupakan kondisi psikologis yang menjadi titik awal penularan wabah ke skala lebih ekstrem lagi. Dan dapat diduga, saat hindsight bias kemudian terkoreksi oleh anak isteri yang sungguh-sungguh jatuh sakit, yang muncul kemudian hanyalah penyesalan diri atau pun murka mencari pihak yang dapat dikambinghitamkan.

Pada sisi lain, ternyata ada juga kalangan yang kecemasannya semakin menjadi seiring tumpah ruahnya informasi tentang Covid-19. Ketidakjelasan informasi, mana fakta dan mana hoaks, membuat orang-orang semakin risau akan kondisi kesehatan mereka.

Sebagai contoh, peringatan untuk tidak menyentuh hidung justru membuat orang “sadar” bahwa ada timbunan virus di hidungnya. Saat diimbau untuk mengecek suhu badan, orang malah tiba-tiba merasa demam. Bahkan ketika bagian tubuh tertentu terasa kurang nyaman, dan belum ada informasi apa pun yang dapat dijadikan rujukan tentang itu, orang justru yakin pada dirinya telah berkembang gejala baru Covid-19.

Gejala Hipokondria
Kepedulian bahwa “saya tidak sehat” mirip dengan kondisi hipokondria. Hipokondria ditandai oleh kecemasan berlebihan bahwa orang telah terjangkit penyakit tertentu. Kondisi seperti hipokondria berpotensi mengganggu irama hidup manusia. Produktivitas pun anjlok, interaksi sosialnya sangat minimal. Dapat pula disertai kebiasaan sehat yang tidak lagi sehat. Contohnya, mengonsumsi suplemen vitamin melampaui takaran, meminum berbagai obat, berulang kali berdiam diri di bawah pancuran berpuluh-puluh menit, dan lainnya.

Kondisi menyerupai hipokondria tersebut dapat bertambah buruk bila pada saat yang sama pemda setempat kurang memberikan dukungan sosial yang memadai. Misalnya, warga diharuskan mengunci diri di dalam rumah, kemudian warga membangun pemikiran bahwa ia betul-betul sakit, sementara ketersediaan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga semakin tipis. Demikian ilustrasinya.

Dengan gambaran perilaku seperti itu, jasmani orang yang bersangkutan mungkin masih bersih dari virus. Namun, rohaninya sesungguhnya merintih mencari bantuan.

Pada tahapan krisis sebagaimana tergambar di atas, saya tidak tahu mana yang sesungguhnya lebih serius, masalah akibat paparan virus atau masalah akibat gejolak psikologi-sosial. Yang jelas, terbelenggu dalam persepsi diri negatif (demoralisasi) sekian lama, individu-individu semacam demikian kelak memerlukan semacam intervensi moral eksistensial agar tidak melulu melihat diri dan dunianya sendiri sebagai sesuatu yang serba-negatif.

Cermin
Secara fisik, virus korona memang patut digempur dengan obat dan vaksin. Tapi persoalan yang dihadapi masyarakat di tengah pandemi ini memang sudah berkembang luas. Tidak sebatas masalah kesehatan fisik, namun juga kesehatan dan kestabilan psikis.

Jalan keluar untuk itu sudah sepatutnya bertitik tolak dari sikap penuh welas asih. Sikap welas asih ditandai oleh tidak lunturnya kesadaran diri di tengah kecamuk berbagai kesulitan hidup. Kesadaran itu merekah pada ketenangan dan keutuhan dalam memahami diri, disertai ikhtiar untuk keluar dari problema yang ada. Welas asih itu pula merupakan pijakan utama bagi para orang tua dalam membimbing anak-anak dengan tenang dan penuh kekuatan cinta melewati musim pagebluk ini.

Anak-anak, hingga beberapa segi, bereaksi sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka, terutama orangtua. Apabila orangtua atau pengasuh lainnya bersikap tenang dan percaya diri, mereka akan menjadi purwarupa tentang adaptasi yang efektif di masa wabah. Orang tua akan lebih mampu berperan ideal, seandainya mereka memiliki persiapan yang memadai.

Sangat baik apabila ayah bunda mengajak anak-anak berbincang tentang Covid-19. Tidak hanya tentang narasi positifnya, tetapi juga aspek-aspek negatif yang perlu diwaspadai. Tentu, obrolan tersebut patut disesuaikan dengan tingkat kecerdasan dan kematangan anak. Perbincangan yang diselingi dengan kegiatan mendongeng, bernyanyi bersama, permainan sulap, petak umpet, serta kegiatan-kegiatan ceria dan kreatif lainnya diharapkan mampu membangun prakondisi yang baik sebelum anak-anak mulai berbagi cerita.

Ayah bunda juga perlu memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mencurahkan isi hati mereka. Dengan kata lain, tidak hanya pertukaran informasi, orangtua juga perlu pula menyodorkan telinga mereka terhadap keluh kesah anak-anak. Apa pun isi keluh kesah itu, ayah bunda sepatutnya dapat meyakinkan anak-anak bahwa mereka akan tetap melalui masa sulit ini bersama-sama sebagai sebuah keluarga.

Untuk menangkal information fatigue syndrome, ada baiknya orangtua membatasi warta atau berita tentang Covid-19. Sebagai gantinya, sedapat mungkin orangtua mempertahankan rutinitas kehidupan anak. Sehingga, informasi yang diterima anak-anak pun tetap terkendali dalam koridor pembelajaran di sekolah.

Saya menaruh empati. Pada situasi seperti sekarang ini, ayah bunda juga bisa mengalami burn out. Kehabisan stamina lahir batin. Oleh karena itu, setelah tampil sebagai sosok teladan bagi putra-putri tercinta, orangtua juga patut mengambil rehat untuk menyelami perasaan mereka sendiri.

Me time”. Demikian sebutan populernya. Inilah momen penting saat ayah bunda bisa lebih berfokus pada kesenangan mereka sendiri. Kekhawatiran terkait ayah sebagai tulang punggung rumah tangga dan ibu selaku tulang rusuk keluarga, misalnya, dapat saling dipertukarkan di sini.

Saya sungguh percaya penuh akan kekuatan keluarga sebagai tempat terejawantahkannya “datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelanga” (jangan marah bila musibah menimpa diri, jangan sedih bila kehilangan sesuatu). Bahwa, musibah seberat apa pun tetap harus dihadapi dengan pikiran jernih. Berangkat dari situlah, pandemi Covid-19 seyogianya tidak meruntuhkan instrumen utama yang kita butuhkan untuk membangun resiliensi di masa penuh cobaan ini.

Semoga.