Dunia Pendidikan di Era Covid-19

Opini: Didik Wisnu Widjajanto

Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

Kamis, 7 Mei 2020 | 11:50 WIB

Awal Februari 2020, wabah Covid-19 mulai melanda negeri tercinta. Sejak saat itu, pemerintah mulai berjaga-jaga terhadap kemungkinan yang akan menimpa kehidupan di Tanah Air dengan sistem yang sudah mapan dan berjalan hampir 75 tahun.

Waktu terus berjalan dan perkembangan kasus positif Covid-19 terus bergulir. Kita semua tahu bahwa mulai Maret sampai Juni, negeri ini selalu diramaikan dengan ujian nasional (UN) yang diikuti siswa SD, SMP, dan SMA, serta sekolah sederajat. Kelanjutan pelaksanaan UN terus menjadi perdebatan para ahli pendidikan dan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, dengan kehadiran Covid-19, runtuhlah UN tanpa syarat.

Mendikbud mengambil keputusan untuk meniadakan UN 2020 dengan alasan utama adalah keselamatan generasi muda.
UN yang beberapa tahun terakhir menjadi momok bagi siswa kelas 6, 9 dan 12, akhirnya harus berhenti tanpa perdebatan berarti. Pada tahun ini, siswa kelas 6, 9 dan 12, tanpa harus mengalami stres menghadapi UN, melenggang lulus dari tingkatan pendidikan masing-masing.

Apakah persoalan pendidikan kita selesai di sini? Tentu tidak. Perubahan yang terjadi tidak hanya pada tidak berlangsungnya UN, juga terjadi perubahan revolusioner dalam dunia pendidikan. Perubahan mendasar yang sangat cepat serasa membalik telapak tangan dari pendidikan konvensional ke pendidikan modern; dari proses pendidikan tatap muka langsung berubah menjadi pendidikan via media. Ini terjadi setelah semua lembaga pendidikan menghentikan proses pendidikan tatap muka. Siswa dan guru, mahasiswa dan dosen harus melakukan kegiatan belajar mengajar jarak jauh.

Tentu perubahan yang berjalan secara cepat ini melahirkan berbagai persoalan. Dalam teori pendidikan, performa output ditentukan oleh keberadaan input dan proses belajar mengajar yang ditentukan guru, dosen, dan tenaga kependidikan, serta fasilitas yang dimiliki oleh lembaga pendidikan tersebut. Keterbatasan orang tua dalam mendukung keberlangsungan anaknya dalam mengikuti perubahan proses pendidikan yang cepat ini menjadi persoalan lain.

Sekolah dan perguruan tinggi telah meniadakan proses pembelajaran tatap muka. Sejak saat itu siswa dan mahasiswa dituntut belajar dari rumah, demikian juga guru dan dosen. Program ini jika dilakukan dengan strategi yang sudah didesain sebelumnya tentu akan efisien. Namun, yang terjadi adalah perubahan ini sangat cepat, sehingga banyak sekali persoalan di dalamnya.

Tidak semua lembaga pendidikan memiliki jaringan atau infrastruktur internet yang baik atau kuat. Tidak semua siswa dan mahasiswa memiliki peranti pendukung yang pasti. Tidak semua guru dan dosen familier dengan berbagai media yang harus digunakan, seperti kuliah online (kulon), media video Teams, Zoom, dan masih banyak lagi. Kondisi inilah yang awalnya membuat guru, dosen, siswa dan mahasiswa, stres untuk beberapa saat, walau akhirnya setelah berjalan satu bulan, sepertinya kendala tersebut dapat diatasi.

Guru dan dosen-khususnya generasi non-milenial--yang pada awalnya sangat frustrasi dengan perubahan yang cepat ini, ternyata belakangan mampu mengikuti dengan baik, bahkan menjalankan perannya dengan sangat baik. Dengan menguasai teknologi maya, guru dan dosen tetap mampu berperan dalam menjalankan proses pembelajaran dengan baik (ing ngarso sung tulada).

Covid-19 juga membawa efek domino, yakni pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perumahan karyawan. Bagaimana bisa para orang tua memenuhi kebutuhan kuota internet anaknya, sementara untuk mencukupi kebutuhah hidup sehari hari semakin berat?

Di sini guru dan dosen dituntut untuk mampu menjalankan peran ing madya mbangun karsa. Di tengah persoalan ini, para guru dan dosen sebisanya memberikan semangat kepada siswa dan mahasiswa untuk terus berjuang menghadapi semua persoalan yang sedang dihadapi.

Para guru dan dosen harus mampu meyakinkan siswa bahwa kebersamaan akan mampu menghadapi berbagai persoalan. Kata orang bijak, badai pasti berlalu. Perubahan yang cepat ini akan mampu membawa siswa, mahasiswa, guru dan dosen untuk mengarunginya secara bersama-sama, sehingga pada saatnya output pendidikan secara mutu dapat ditingkatkan.

Di samping itu, guru dan dosen harus mampu menekan pembiayaan siswa dan mahasiswa dengan menggunakan media yang termurah dan efisien, serta menggunakan waktu secara tepat, sehingga mampu mendukung proses belajar mengajar yang efektif tanpa mengurangi mutunya.

Guru dan dosen juga harus mampu memberikan jalan keluar terbaik bagi siswa dan mahasiswa untuk mengatasi persoalan mendasar tersebut. Inilah semangat terakhir dari konsep bagawan pendidikan Indonesia, yaitu tutwuri handayani.

Perubahan besar dalam dunia pendidikan yang kita hadapi saat ini tidak perlu diterima sebagai suatu musibah, tetapi sebaliknya menjadi anugerah. Sebagai bangsa, kita memiliki keunggulan jika kita terus mau dan mampu memelihara peninggalan adiluhung bangsa ini, yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madya mbangun karsa, dan tutwuri handayani.