Perginya sang Maestro Campursari

Opini: Eko Sulistyo

Penulis adalah Sejarawan, Deputi di Kantor Staf Presiden (2015-2019)

Jumat, 8 Mei 2020 | 08:00 WIB

Kaget dan juga sedih, mendengar kabar Didi Kempot meninggal dunia pada Selasa, 5 Mei 2020. Bagaimana tidak? Penyanyi dan pencipta lagu campursari asal Solo yang dijuluki “Lord Didi” tersebut, selama ini kelihatan sehat-sehat saja, tidak menunjukkan dirinya sedang sakit. Di Instagram resminya, @didikempot_official, ia masih rutin menyapa penggemarnya dan mengabarkan rencana konser yang akan digelar bersama penyanyi lainnya.

Dua bulan lalu, sehari setelah saya menulis artikel “Sobat Ambyar dan Nasionalisme Multikultural” di Suara Pembaruan, 9 Maret 2020, saya sempat bertemu dengannya. Kebetulan kami satu pesawat menuju Jakarta. Didi Kempot ditemani istri dan kru campursarinya untuk mengisi sebuah acara di Taman Mini.

Di pesawat, saya dikenalkan dengan istrinya, Yan Vellia, yang merangkap sebagai managernya, dan dengan seluruh krunya. Dia sangat senang membaca artikel di Suara Pembaruan yang mengulas tentang sobat ambyar dalam perspektif nasionalisme. Artikel itu saya tulis dalam rangka Hari Musik Nasional 9 Maret. Dia lantas meminta artikel saya dikirim via WhatsApp ke istrinya sebagai dokumentasi. Sebaliknya, saya minta tanggapannya atas artikel tersebut, yang kemudian saya unggah di Instagram dan Facebook pribadi.

Saat mendarat di Bandara Halim, Jakarta, sepanjang jalan sejak turun dari pesawat sampai pintu keluar bandara, saya menyaksikan Didi Kempot begitu grapyak (ramah) meladeni ajakan foto penggemarnya. Sempat saya ledek, “Wah nek ngene awakmu iso-iso dadi presiden 2024” (Kalau begini, kamu bisa-bisa jadi presiden di 2024).

Seperti biasa dia merespons ledekan saya dengan ketawa lepas sambil merapikan rambut gondrong yang menjadi ciri khasnya. Itulah momen terakhir saya bertemu almarhum Didi Kempot. Sebelumnya, kalau bertemu, dia selalu menitipkan salam kepada Presiden Joko Widodo dan keinginannya bisa diundang menyanyi di Istana.

Tahun lalu, keinginannya terwujud. Didi Kempot menjadi pengisi acara yang paling ditunggu dalam pergelaran wayang kulit memperingati Hari Kemerdekaan di Istana Merdeka. Didi Kempot menyanyikan salah satu lagu populernya, “Sewu Kutha” di hadapan Presiden dan Ibu Negara serta tamu undangan lainnya. Videonya sempat viral saat Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana merasa terhibur dengan turut menyanyikannya.

Maestro Campursari
Terlahir dari keluarga seniman. Didi Kempot yang bernama asli Dionisius Prasetyo, lahir 31 Desember 1966, dan meninggal dalam usia 53 tahun. Ayahnya Ranto Edi Gudel atau dikenal dengan Mbah Ranto, adalah seorang seniman tradisional pencipta lagu “Anoman Obong” yang terkenal pada era 90-an. Kakaknya, Mamiek Prakoso atau Mamiek Podang, dikenal sebagai pelawak Srimulat.

Nama Kempot di belakang nama panggilannya adalah singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar yang mengajaknya hijrah ke Ibu Kota. Sebelum terkenal, Didi Kempot adalah pengamen jalanan di Solo sejak tahun 1984 dan di Jakarta pada 1986. Didi Kempot dikenal sebagai pengamen yang melantunkan lagu-lagu campursari ciptaannya sendiri.

Sejak 1989, namanya mulai dikenal di jagad hiburan dan menghasilkan beberapa album. Lebih 700 lagu campursari diciptakannya, termasuk yang dinyanyikan oleh orang lain. Kehadirannnya mampu mengubah image campursari dari kesan kampungan dan kelas bawah ke panggung musik nasional menembus batas modernitas.

Lewat lagu-lagunya, kini campursari terasa akrab tidak hanya di telinga masyarakat Indonesia, tetapi juga luar negeri, seperti di Suriname dan Belanda. Bahkan, pada September 2018, Didi Kempot mendapat penghargaan dari Presiden Suriname dalam sebuah konser bertajuk “Layang Kangen”. Penghargaan ini tidak sekadar bentuk apresiasi, tapi juga soft diplomacy dua negara yang dikenal memiliki hubungan keturunan di antara warganya akibat kolonialisme.

Didi Kempot memang tidak bisa dipisahkan dengan dunia campursari. Secara de facto, Didi Kempot telah memberi warna baru dalam perjalanan musik populer Indonesia bergenre campursari. Sementara lagu campursari telah melambungkan namanya sebagai seorang maestro sekaligus legenda musik Indonesia.

Untuk menggambarkan perannya, saya pinjam kata-kata kritikus dan kolumnis musik Suka Hardjana dalam bukunya, Musik Antara Kritik dan Apresiasi (2004), bahwa “tradisi itulah modern”. Di tangan Didi Kempot, campursari yang berakar pada tradisi budaya masyarakat etnolinguistik Jawa, dijadikannya “barang modern” tanpa harus kikuk di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern itu sendiri.

Penampilannya yang unik dengan beskap Jawa, komplet dengan sandal selop dan blangkonnya, justru menjadi kekuatan aksi panggungnya. Sementara lagu-lagunya yang berbahasa Jawa, ditransformasikannya menjadi nilai-nilai baru dalam budaya populer yang dapat diterima masyarakat Indonesia yang multietnis. Dalam konteks ini, Didi Kempot berhasil menjaga dan mewariskan seni budaya bangsa melalui medium campursari.

Warisan Campursari
Kini sang maestro telah pergi meninggalkan warisan lagu-lagu campursari yang enak didendangkan oleh semua kalangan. Hampir semua lagunya bertemakan patah hati yang menjadikannya dijuluki “The Godfather of Broken Heart”. Maka tidak heran jika para penggemarnya dari kalangan milenial menamakannya sad boy dan sad girl sebagai manifestasi ambyarnya atau hancurnya hati orang yang dikhianati.

Kisah manusia dalam percintaan memang seperti abadi untuk dibuat puisi atau lagu. Sejak manusia ada di bumi, kisah percintaan manusia telah menjadi bagian dari sejarah peradaban itu sendiri. Tidak heran jika dalam banyak mitologi di Indonesia dan dunia, digambarkan adanya dewa dewi yang saling jatuh cinta atau dipisahkan oleh cinta terlarang mereka.

Di sinilah peran kreatif seorang Didi Kempot menangkap universalitas cinta dalam keseharian hidup manusia. Tema yang sebenarnya sangat sederhana. Tapi di tangan Didi Kempot, tema kesedihan dalam kisah kasih manusia itu dirayakannya untuk memberi semangat lebih baik lagi. “Daripada patah hati, mending dijogeti”, begitu dalihnya.

Selain warisan lagu, kisah hidup Didi Kempot bisa menjadi contoh generasi muda saat ini bahwa kesuksesan seseorang tidak diraih begitu saja tanpa perjuangan. Didi Kempot telah membuktikannya. Di balik kesuksesannya, ada juga fase kegagalan yang dialami sebagai pencipta dan penyanyi lagu campursari.

Namun kesuksesan yang diraihnya, juga tidak melupakan untuk berbagi dan membantu kepada yang membutuhkannya. Seperti dibuktikannya lewat “Konser Amal Dari Rumah” yang ditayangkan sebuah stasiun TV swasta, 11 April 2020. Konser ini tidak hanya mampu mengumpulkan dana lebih Rp 7 miliar untuk membantu meringankan warga terdampak Covid-19, tapi juga menjadi konser pamungkasnya sebelum meninggal.

Menanggapi kesuksesan konser amalnya, dengan rendah hati di Instagram-nya, Didi Kempot mengatakan, sebagai seniman ia merasa hanya bisa membantu dengan tenaga dan talenta yang diberikan Allah kepadanya melalui konser amal tersebut. Ia juga tidak menduga jika konser amalnya tersebut mampu mengumpulkan uang dengan jumlah di luar perkiraannya.

Tentu masih banyak rencana konser amal yang dirancangnya untuk membantu masyarakat di tengah kesulitan akibat wabah corona. Namun takdir telah memanggilnya kembali kepada Sang Khalik. Semoga keteladananmu sebagai seniman dapat diteruskan generasi kemudian.

Selamat Jalan Sang Maestro.