Perempuan Lebih Menderita Karena Covid-19

Opini: Solita Sarwono

Psikolog, sosiolog, dan spesialis gender, bermukim di Negeri Belanda

Senin, 11 Mei 2020 | 08:00 WIB

Covid-19 tidak pandang bulu. Dia bisa menulari siapa saja, yang kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Derajat keparahan penyakit tersebut bergantung pada kondisi kesehatan individu yang tertulari kuman tersebut.

Tampaknya, orang-orang yang berusia lanjut dan/atau yang mengidap penyakit kronis, cenderung menunjukkan gejala-gejala Covid-19 yang lebih parah daripada orang muda yang sehat. Kemungkinan untuk sembuh pun makin besar pada orang-orang yang masih muda dan sehat. Tetapi tidak jelas apakah ada perbedaan berdasarkan gender dalam angka-angka kesakitan dan kematian karena Covid-19.

Itu tinjauan dari aspek kesehatan. Namun dari segi psiko-sosial, kesenjangan gender makin melebar. Perempuan makin tidak berdaya menentukan keinginan atau keputusannya sendiri. Misalnya untuk melindungi diri dari kehamilan yang mungkin terjadi karena suami lebih lama berada di rumah. Kegiatan seksual meningkat. Sedangkan akses terhadap alat-alat kontrasepsi berkurang, terutama di negara-negara berkembang. Kaum perempuan tidak dapat ke klinik untuk memperoleh alat kontrasepsi. Ibu-ibu yang hamil kurang mendapat perhatian pada saat memeriksakan diri ke pusat-pusat kesehatan, sebab petugas kesehatan disibukkan dengan penanganan kasus Covid.

UNFPA (United Nations Population Fund) atau lembaga PBB yang memusatkan kegiatannya pada kesehatan reproduksi, serta lembaga-lembaga serupa di berbagai negara memperkirakan ada 450 juta perempuan miskin di 114 negara berkembang yang memakai alat kontrasepsi. Apabila pandemi Covid terus berlangsung selama 6 bulan, 47 juta di antara mereka tidak dapat mengakses alat kontrasepsi. Hal itu berarti dapat terjadi 7 juta kehamilan yang tidak diharapkan.

UNFPA memperkirakan angka kekerasan berbasis gender di dunia akan bertambah 31 juta kasus, jika warga “dirumahkan” sampai 6 bulan. Estimasi tersebut itu diyakini tidak akurat karena banyak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tidak melaporkannya. Rasa malu terhadap orang luar dan takut terhadap si pelaku merupakan alasan utama mengapa korban KDRT berdiam diri.

Pelayanan di Apotek
Sebagai salah satu upaya untuk membantu korban, di Belanda banyak apotek yang memberikan pelayanan konseling. Perempuan yang memerlukan bantuan itu datang dan memberikan kode tertentu, dengan menyatakan, “Saya ingin membeli masker-19”. Staf apotek akan mempersilakan pelanggan itu masuk ke ruang khusus.

Mengapa layanan konseling itu disediakan di apotik? Memberikan alasan pergi ke apotek untuk membeli obat tentu lebih memungkinkan dan tidak mencurigakan, daripada menyatakan akan pergi ke konselor. Di apotek-apotek itu disediakan tenaga konselor yang akan memberikan pelayanan konseling kepada korban. Tindakan kekerasan yang berat akan dilaporkan kepada polisi, agar pelakunya dapat ditangkap.

Sekalipun tidak sampai melakukan kekerasan fisik, para suami/ayah yang merasa tertekan karena berminggu-minggu tidak boleh ke luar rumah, dapat juga membuat suasana rumah menjadi tertekan. Emosinya gampang terbakar, marah-marah tentang hal-hal remeh yang selama ini tidak diperhatikannya, dan mengeluarkan kata-kata kasar.

Rasa takut membuat suasana rumah terasa mencekam. Anak-anak yang dianggap nakal atau berisik mendapat hukuman, misalnya dengan direnggutnya permainan atau tablet mereka. Padahal anak-anak juga tertekan karena terkungkung di dalam rumah dalam waktu yang lama. Justru melalui tablet itulah, anak-anak masih dapat berhubungan dengan dunia luar, dengan teman-teman dan gurunya. Jika anak-anak diancam atau dihukum oleh ayahnya, tentu ibu akan membela dan melindungi mereka, sehingga konfliknya berubah menjadi konflik suami-istri.

Covid-19 pun mengguncangkan ekonomi negara. Lockdown, kewajiban tinggal di rumah, menjaga jarak sosial, penutupan usaha/industri dan larangan berdagan yang berujung PHK, menyebabkan penghasilan penduduk berkurang, bahkan hilang sama sekali. Dampak ekonomi itu sangat terasa pada penduduk yang tidak mampu. Mereka kehilangan pekerjaan sehingga tidak mampu menghidupi keluarganya.

Para istri harus bersusah payah mencari akal untuk menjaga agar dapur tetap berasap bagi seluruh penghuni rumahnya. Beban ibu tunggal lebih berat, jika dia kehilangan pekerjaannya.

Dalam kondisi seperti ini, di negara-negara berkembang tidak jarang orangtua lalu menikahkan anak perempuannya yang masih di bawah umur untuk mengurangi jumlah warga yang harus ditanggung. Uang mahar yang diperoleh dapat dipakai untuk menghidupi seluruh keluarga. Ilmuwan-ilmuwan internasional menghawatirkan perkawinan anak akan bertambah hingga13 juta kasus gara-gara Covid-19.

Pihak yang juga rawan tertular virus corona adalah petugas medis. Cukup banyak dokter, perawat dan relawan yang telah kehilangan nyawa oleh karenanya. Yang mengambil profesi perawat sebagian besar adalah perempuan, sesuai dengan intuisinya untuk mengasuh dan merawat. Bidang kedokteran pun tidak lagi didominasi laki-laki.

Di samping itu kaum ibu juga sangat aktif menjadi relawan dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan. Jadi regu penolong itu sebagian besar adalah kaum perempuan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ditinjau dari segi gender, dibandingkan dengan laki-laki, kaum perempuan lebih menderita karena virus corona, baik sebagai pasien/penderita, maupun sebagai sosok yang berupaya menyelamatkan nyawa para penderita Covid-19.