Keluargaku, Istanaku

Opini: BS Mardiatmadja

Pemerhati pendidikan

Selasa, 12 Mei 2020 | 08:00 WIB

Peristiwa pandemi corona mengondisikan banyak keluarga menyatu, jauh lebih dekat, daripada yang dapat dibayangkan sebelumnya. Selama bertahun-tahun, keluarga-keluarga baik yang kaya maupun sederhana, yang penuh kecerdasan maupun yang bependidikan rendah, tokoh besar di negara maupun rakyat jelata, memakai waktu dan hati jauh lebih intensif untuk pergi bisnis daripada untuk berpadu dengan keluarga serta mendidik anaknya. Berpulangnya Adi Kurdi belum lama ini, mengingatkan kita kembali akan peran pendidikan keluarga.

Rangkaian kisah yang berjudul “Keluarga Cemara” lama sekali menghibur dan menghamparkan arena pendidikan, yang lama sekali direbut oleh sekolah. Ada beberapa hal, yang dipimpin Abah—yang diperankan mendiang Adi Kurdi—, terhidang dalam “Keluarga Cemara”.

Pertama, peran Emak dan Abah yang tegas dalam kemesraannya mendidik; kedua, kakak-adik yang saling mendidik secara anak-anak; ketiga, hubungan teman-teman sebaya di kampung untuk saling mendidik dengan tunggang rasa tinggi; keempat, interaksi di sekolah dasar yang memperluas proses didik dari segi sosialitas; kelima, interpersonalitas bergabung dengan pengembangan akal budi melalui pengenalan dasar-dasar keilmuan, yang selanjutnya dilengkapi dengan pencerdasan ilmiah dalam pendidikan menengah dan tinggi; serta keenam, pendalaman pendidikan nilai yang bersumber pada hidup-batin, tanpa fanatisme religius. Unsur-unsur tersebut memperkuat “Keluarga Cemara” dalam sumbangsihnya kepada dunia pendidikan tahun 1990-an.

Pendidikan dalam Keluarga
Dalam seluruh proses itu, tokoh Emak dan Abah menjadi pendidik yang dianugerahi oleh kodrat mengawali seluruh proses didik. Kodrat orangtua sungguh ikut berkreasi menghadirkan manusia muda ke dunia. Hal ini amat bagus terlukis dalam rangkaian kisah mereka, sebagai orangtua sekaligus sebagai pendidik perdana.

Seberapa sederhana pun, setiap Emak dan Abah, bahkan yang tinggal di bawah jembatan, sesungguhnya mendidik anak-anaknya secara perdana, untuk menyadari dirinya sebagai manusia yang tahu diri, memiliki perasaan, serta sikap dasar jujur dan adil. Dalam “Keluarga Cemara” pendidikan perdana memang diakui ada dalam diri orangtua. Pihak lain hanya berperan secara subsider. Guru, yayasan, kementerian dan seterusnya hanya berperan sebagai pendukung pendidik perdana dan pendidik kodrati yakni orangtua. Di sanalah ditemukan hak asasi kependidikan orangtua.

Padahal isi perdana pendidikan orangtua adalah mendukung terbentuknya kemesraan dalam diri seorang manusia muda. Ketika seseorang menemukan harga dirinya yang terdalam, sehingga juga merasakan harga diri sesamanya untuk kemudian mampu membangun relasi pribadi terdalam. Tanpa itu, tiada manusia akan tumbuh dewasa betapa pun trampil dan cerdasnya.

Dalam proses itulah pribadi muda mengembangkan kemandiriannya sebagai manusia. Tanpa kemandirian itu, kepribadiannya sebagai manusia tidak terbentuk (mengalami formation). Sebab, ia jatuh dalam bahaya untuk bergantung pada orang lain, pada komputer, mesin, uang, atau apa pun yang lain.

“Keluarga Cemara” menjelaskan peran Emak dan Abah, yang tegas dalam kemesraannya mendidik. Untuk dapat mengembangkan kepribadiannya yang mandiri, anak-anak mereka berproses dari amat bergantung pada lingkungannya sampai mandiri; bahkan mengembangkan diri dan sesama serta dunianya. Pendampingan utamanya adalah si orangtua. Itulah pendidikan.

Untuk terwujud dengan baik, pendampingan perlu disambut. Syarat untuk disambut adalah suasana mesra antara Emak dan Abah dengan anak. Di sana jasa “Keluarga Cemara” mencolok dan mudah tersemikan lagi dengan kondisi harus lebih banyak tinggal di rumah sebagai keluarga masa kini.

Kecuali itu, relasi kakak-adik menciptakan formation yang saling mendidik secara anak-anak. Relasi yang sejajar ini melengkapi komunikasi otoritatif (berbeda dengan otoriter) antara orangtua dan anak. Kehidupan bersama, dengan saling mendidik, telah membantu perkembangan seorang anak untuk tumbuh sehat lahir batin.

Perkembangan kemandirian memerlukan latihan progresif untuk mandiri. Perlahan-lahan anak belajar mengambil sikap, bahkan saat kecakapan dan keterampilannya masih amat sederhana. Usia yang berdekatan antara kakak adik dapat menciptakan proses saling mendidik yang memadai.

Dengan demikian, pendidikan bangsa ini akan membaik, apabila kita semua membantu, supaya pendidikan keluarga dikembalikan pada posisi yang semula. Jangan sampai malah dilindas oleh pengajaran online.

Di Lingkungan Luas
Ketika seorang anak masuk lingkungan kampung atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), suatu bentuk pendidikan baru dialami. Di sana kemesraan keluarga dilengkapi dengan cakrawala persahabatan, yang memiliki jenis baru afektivitas dan sekaligus menambah pengetahuan perihal cara bicara, cara bergaul maupun cara bertindak yang baru.

Emak dan Abah memang masih mendampingi terus, namun dilengkapi dengan pola dari pasangan emak dan abah yang lain. Kadang kala ada kebiasaan baru berbicara, bergaul dan bersikap, yang melatih anak mengintegrasikan gaya beraneka. Teman-teman sebaya di kampung menciptakan saling didik antara anak-anak, dan memperkenalkan mereka dengan kebutuhan tenggang rasa. Sebab, tanpa sikap dan cara baru itu, seberapa pun anak terampil, pintar atau cerdas, tidak mungkin hidup mereka maju dalam masyarakat.

Hubungan teman-teman sebaya di kampung sangat diperlukan untuk saling didik dengan tenggang rasa tinggi. Tidak jarang mereka berjumpa dengan nyanyian baru, bahasa baru, cara baru dalam saling memperlakukan sepanjang perjumpaan harian. Mereka ditatapkan dengan pertemuan yang lebih menarik, dengan sebaya maupun orang yang lebih tua.

Di beberapa negara, pendidikan di awal perjumpaan persekolahan diteguhkan dalam saling menghargai, mendidik murid-murid berjalan dalam antrean, dan kerelaan untuk membersihkan sendiri alat-alat makan mereka. Kepribadian serta hidup bersama mereka ditumbuhkan sebagai persiapan hidup bersama dalam masyarakat.

Pengalaman itu mendapat segi baru di sekolah dasar, yang memperluas proses didik dari segi sosialitas. Pada awalnya, kemesraan yang di rumah serta dalam PAUD dikembangkan, mulai dilengkapi dengan cara pandang baru terhadap dunia, berawal perjumpaan dengan guru kelas dan teman sekelas, bukan dengan ilmu. Anak diperkenalkan dengan cara baru memandang dunia.

Di sekolah dasar mereka berjumpa dengan dunia, yang kelak akan mereka pahami sebagai diferensiasi, sesuatu yang nantinya berkembang dan terdalami di arena ilmu. Di situlah mereka perlahan-lahan berjumpa dengan cara memandang benda-benda maupun tetumbuhan dari sudut pembedaan satuan atau gugus dan kumpulan.

Perjumpaan dengan bahasa dan awal ilmu alam menyebabkan anak memandang dunia tidak sekadar sebagai gundukan benda. Yang mereka jumpai lebih dari kumpulan angka matematis, melainkan cara memandang dunia.

Begitulah Emak dan Abah dalam “Keluarga Cemara” mendampingi anak-anaknya berkembang, ketika mereka secara cermat mengikuti hidup anak-anak diperkaya.

Almarhum Adi Kurdi pernah berbagi pengalaman mengenai caranya mendidik anaknya sendiri yang berangkat maupun pulang sekolah, seraya berkisah susah payah dan duka cerita tentang dunia di luar keluarga.

Cara pandang, yang mengandung interpersonalitas baru, bergabung dengan pengembangan akal budi melalui pengenalan dasar-dasar keilmuan. Ketika di sekolah menengah para murid diperkenalkan dengan pokok-pokok buah keilmuan. Hal itu terjadi ketika beberapa unsur pengertian dasar ilmiah dijelaskan dan dibiasakan menjadi pola pandang yang bertanggung jawab. Kepada murid dibiasakan untuk mempertanggungjawabkan pendirian keilmuan tertentu.

Ungkapan itu pun memperluas cara bicara mengenai pengajaran ilmu di sekolah menengah. Butir terdalam adalah mempertanggungjawabkan pemikiran dengan dasar-dasar universal, melampaui pendirian individualnya. Dengan demikian, pendidikan mempertemukan seorang muda dengan universum, yang menyongsong hidupnya nanti jauh melampaui angka, rumus atau ungkapan ilmiah mana pun.

Manusia muda pada tahap ini dipersilakan mengambil tempat dalam cakrawala universal seturut pendirian-pendirian keilmuan. Sekaligus diperkenalkan dengan lebih cermat, betapa, kisaran keilmuan bukanlah satu kotak, melainkan suatu kemajemukan cara mempertanggungjawabkan pendapat tentang gejala-gejala keilmuan.

Pemanusiawian interdisiplinaritas ilmu ini merupakan kelanjutan dari berdirinya universitas, yang berarti keseluruhan orang-orang yang mengajar dan belajar (Universitas docentium et studentium). Dalam tahap ini, Emak dan Abah tetap memainkan peran. Sebab, dalam hiruk pikuk keilmuan itu, integrasi pribadi perlu didampingi, demi keutuhan pemanusiawian proses berilmu.

Proses itu mencakup pendidikan menengah sampai dengan pendidikan tinggi, dengan kecermatan pertanggungjawaban ilmiah, yang semakin lama semakin harus tajam.

Nilai Dasar Pendidikan
Beberapa diskusi mengenai pembaruan pendidikan akhir-akhir ini tersudutkan pada suatu bidang ilmu, yang dianggap merupakan dasar kemajuan Indonesia mendatang. Memang ada sejumlah segi ilmu yang menantikan ilmuwan Indonesia di masa depan, karena banyak meresapi ilmu-ilmu dan teknologi modern. Pendidikan orang muda dinilai sampai sejauh ini kurang cukup mencermati segi-segi, yang tentu saja belum masuk perhitungan orang-orang yang menggarap “Keluarga Cemara”.

Namun, perlu dipahami, bahwa dalam pola didik dan sikap didik mana pun, pengajaran dan pengetahuan keilmuan senantiasa mengandaikan, bahwa seseorang yang dididik perlu menemukan nilai dalam bagian ilmu tertentu bagi hidupnya. Dengan kata lain, setiap pendidikan perlu mendasarkan pengajaran dan pengilmuan dalam tata nilai, yang dihayati dan dimengerti oleh orang yang dididik.

Tata nilai itu dapat bersumber dari tata batin si pribadi, yang ditimbanya dari sistem nilai Emak dan Abah sejak kecil. Tidak jarang, hal itu berkaitan erat dengan tata iman yang mereka dalami, walaupun sama-sama menghormati tata iman lain. Oleh sebab itu, dalam setiap pendidikan, pendalaman demi pemahaman tata nilai merupakan dasar yang tidak dapat dihindari. Bahkan seluruh pendidikan (ongoing formation) mendasarkan diri pada pendidikan nilai yang mendalam, dan senantiasa mendasari segala pilihan.

Dengan kata lain, situasi dan kondisi pendidikan Indonesia masa kini memerlukan gerak mendalami tata nilai yang universal, supaya dapat mendorong manusia muda kita memahami, menghayati, dan menggunakan nilai-nilai terdalam hidupnya. Lebih jauh dari itu, bersama orang lain membangun masa depan yang mewujudkan nilai-nilai bersama, yang diresapi bersama.

Itulah yang dipegang teguh Emak dan Abah dalam “Keluarga Cemara”, menembus segala kecerdasan, keterampilan, dan kepandaian yang dikejar dalam pendidikan seumur hidup manusia muda. Dasarnya adalah pendidikan kodrati manusiawi dalam keluarga. Elemen lainnya memfasilitasi perkembangan pendidikan menyeluruh. Harta yang paling berharga adalah keluarga. Memang, keluargaku adalah istanaku, asal dan isi serta tujuan pendidikan.