Cita-Cita Menjadi Dokter dan Covid-19

Opini: Seto Mulyadi

Ketua Umum LPAI; Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Senin, 18 Mei 2020 | 08:00 WIB

Hati siapa yang tak tersentuh mendengar berita sekian banyak dokter meninggal dunia setelah melayani para pasien yang datang tak kunjung henti. Juga perawat yang terpaksa terusir dari tempat tinggalnya karena dikhawatirkan menularkan virus corona. Kejadian-kejadian demikian semakin menyadarkan masyarakat betapa mulianya pekerjaan sebagai dokter dan perawat.

Seruan sekian banyak dokter dari dalam ruang praktik tentang pentingnya masyarakat berdiam diri di rumah agar grafik pasien Covid-19 melandai, juga membangun pemahaman kolektif tentang senjangnya jumlah pasien dan dokter yang mengobati mereka. Masa pandemi Covid-19 telah memberikan keinsafan masyarakat betapa tingginya kebutuhan akan dokter dan perawat, baik untuk saat ini maupun untuk masa mendatang.

Persoalannya, seberapa banyak anak-anak Indonesia yang tertarik untuk bekerja sebagai dokter suatu saat nanti?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa rasio ideal antara jumlah dokter dan jumlah populasi adalah 1:1000. Artinya, sepatutnya tersedia 1 dokter untuk melayani 1.000 warga di satu negara. Namun sekitar 44% negara anggota WHO terdata memiliki kurang dari 1 dokter per 1.000 orang. Negara-negara Barat, seperti AS, Austria, Norwegia, Swedia, Jerman, dan Swiss, memiliki rasio lebih baik daripada yang telah ditetapkan WHO. Sementara di Indonesia, saya menemukan informasi beragam.

Data WHO Indonesia, di sini terdapat 1,3 dokter per 10.000 orang. Sedangkan mengacu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) per April 2019, jumlah dokter diklaim sudah lebih tinggi daripada rasio standar, yaitu tersedia 47 dokter per 100.000 penduduk. Rasio standar yang dipakai IDI adalah 42 dokter per 100.000 penduduk atau 1:2.500.

Karena pertanyaan saya terkait dengan animo anak-anak Indonesia untuk berprofesi sebagai dokter, maka penting sesungguhnya diperoleh informasi mengenai tingkat ketertarikan anak-anak hari ini terhadap bidang kerja yang mulia itu kelak setelah mereka dewasa. Ini berarti, patut diidentifikasi cita-cita yang ingin diraih anak-anak suatu saat nanti.

Survei tentang itu memang belum tersedia. Namun sebagai gambaran, potret impian anak-anak di sejumlah negara layak untuk diperhatikan. Perkiraan saya, seiring inovasi di bidang teknologi informasi komunikasi, termasuk dengan anak-anak sebagai salah satu kelompok penggunanya, dunia akan menjelma sebagai desa global. Konsekuensinya, dinamika di negara lain pun tidak tertutup kemungkinan juga akan menjadi tren di dalam negeri. Cita-cita anak-anak di belahan dunia sana pun akan teradopsi sebagai impian anak-anak di Indonesia.

Selama ini, salah satu asumsi yang patut ditegakkan adalah anak-anak menjadikan orangtua sebagai sumber inspirasi. Itulah sebabnya, tak jarang anak-anak—setelah dewasa—menggeluti bidang pekerjaan yang sama dengan karier yang dijalani orangtua mereka.

Bertitik tolak dari asumsi itu, survei MDLinx (2019) menyajikan temuan menarik tentang para dokter AS dan anak-anak mereka. Saat ditanya ke ribuan dokter di sana, 70% dokter mengaku tetap mencintai pekerjaan mereka. Namun uniknya, 41% di antaranya tak ingin anak-anak mereka mengikuti jalan hidup mereka. Alasannya,—mirip dengan situasi di Indonesia—adalah beratnya beban tugas sebagai dokter.

Kerja-kerja administratif yang menumpuk, peer-to-peer review yang menyita waktu, regulasi pemerintah yang kadang tidak realistis, catatan medis yang menggunung, dan minimnya waktu untuk keluarga, merupakan pertimbangan mengapa banyak dokter di Negeri Paman Sam enggan mendorong putra-putri mereka menekuni dunia kedokteran. Para dokter (orangtua) itu memandang cukuplah diri mereka yang melalui masa yang penuh sesak dengan kewajiban dan tanggung jawab. Mereka percaya, anak-anak berhak hidup lebih bahagia serta lebih terjamin kesejahteraannya.

Dari situ diperoleh tanda-tanda zaman bahwa boleh jadi para orangtua tidak antusias memotivasi buah hati mereka bekerja susah payah dengan baju putih dan stetoskop menggelantung di pundak. Kalau itu juga menjadi kecenderungan orangtua di sini, bisa dibayangkan bahwa kebanyakan orangtua, bahkan dokter di Indonesia sekali pun, tidak akan mengondisikan anak-anak mereka untuk berambisi menjadi dokter di kemudian hari.

Anak Tak Tertarik
Kita pindah ke sisi anak. Hasil siginya juga tidak menggembirakan.

Pada 2017, Fatherly dan New York Life melakukan jejak pendapat. Lima profesi yang diidam-idamkan anak-anak di negeri Paman Sam adalah—secara berurutan—dokter (manusia), dokter hewan, insinyur, polisi, dan guru.

Sayangnya, dua tahun kemudian, diperoleh aspirasi berbeda. Kali ini diselenggarakan oleh perusahaan mainan, Lego, profesi dokter menghilang dari daftar cita-cita anak-anak di AS dan Inggris. Sebagai gantinya, mereka memimpikan diri menjadi vlogger atau Youtuber, guru, atlet profesional, musisi, dan astronaut. Di Tiongkok pun mirip, anak-anak ingin menjadi astronaut, guru, musisi, atlet profesional, dan vlogger atau Youtuber.

Mengaitkan kedua kelompok survei tersebut, “sempurna” sudah. Orangtua tidak menyemangati anak-anak mereka menjadi dokter, dan anak-anak pun tak lagi bergairah bekerja sebagai dokter. Bila kondisi yang sama berlangsung di Indonesia, maka krisis dokter di masa depan pun bukan hal yang mustahil dan patut kita khawatirkan.

Tentu, saya tetap mendorong optimisme bahwa anak-anak Indonesia akan gemilang menjadi generasi emas, termasuk menjadi dokter. Langkah ke arah itu patut kita lakukan dengan serius serta memanfaatkan momentum pandemi Covid-19. Para dokter dan perawat perlu membuat video-video singkat yang disisipi pesan menginspirasi bagi anak-anak. Para guru pun dapat memberikan penugasan yang menarik kepada siswa untuk membuat kreasi yang berhubungan dengan profesi dokter, seperti menggambar dokter, menulis puisi tentang dokter, bermain peran sebagai dokter, bahkan mewawancarai dokter yang dihadirkan sebagai guru tamu.

Pun para ayah bunda, berkenan membisikkan kembali kehebatan sekaligus kemuliaan pekerjaan para dokter ke telinga anak-anak sebagai pengantar tidur. Atau bisa juga kisah-kisah tentang dokter keluarga sendiri.

Kiranya hal ini akan semakin memotivasi anak-anak negeri ini dalam memegang teguh niat dan cita-citanya untuk tetap menjadi dokter. Sehingga diharapkan rasio ideal jumlah dokter dan jumlah populasi sebagaimana telah ditetapkan WHO di masa mendatang tidak akan terlalu timpang.

Semoga.