Dibekap Virus, Dicekik Rokok

Opini: Seto Mulyadi

Ketua Umum LPAI; Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Jumat, 29 Mei 2020 | 08:00 WIB

“Sudah jelas berbahaya. Tapi semakin malam, semakin banyak iklannya,” komentar seorang anak berusia sembilan tahun saat menyaksikan deretan iklan rokok di layar televisi.

Ia sengaja lembur beberapa malam, sebagai bagian dari proyek belajarnya di saat harus belajar di rumah saja. Ini membuktikan bahwa di musim penyakit Covid-19 sekali pun industri rokok tetap gencar menghipnosis masyarakat.

Tindakan dimaksud, dalam khazanah psikologi, sering disebut sebagai disonansi kognitif. Caranya memadukan sesuatu yang buruk dengan sesuatu yang baik, sehingga terjadi kebingungan di kepala publik. Objek yang buruk itu adalah rokok. Namun, dalam iklan, wujud objeknya tidak diperlihatkan. Sebagai gantinya disajikan berbagai adegan positif, seperti olah raga, petualangan alam bebas, kesetiakawanan, dan tindak-tanduk positif lainnya dari kaum muda. Siapa lagi yang disasar industri rokok dari tayangan iklan sedemikian rupa kalau bukan--terutama--kalangan generasi muda.

Rokok dan Covid-19 memang sepasang pandemik yang patut diberikan perhatian khusus. Dua akademisi University of Tasmania, Australia, Kathryn Barnsley dan Sukhwinder Singh Sohal menyajikan fakta ironis dalam tulisan mereka. Catatan mereka, banyak negara mulai menyadari kenyataan bahwa perokok 14 kali lebih berisiko mengalami kematian akibat Covid-19. Namun, hanya sedikit negara yang mengampanyekan berhenti merokok. Pernyataan tersebut berlaku pula di Indonesia.

Cukup banyak studi yang menyimpulkan bahwa para perokok, baik rokok bakar maupun rokok elektronik, menghadapi risiko infeksi lebih tinggi dari Covid-19. Dari situ dapat dibayangkan bahwa dalam situasi normal saja, biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi masalah kesehatan akibat rokok mencapai US$ 460 miliar. Apalagi dewasa ini ketika terjadi penambahan beban ekstra akibat rokok dan komplikasi Covid-19.

Industri rokok mengalami penurunan laba dan nilai saham di masa pandemik ini. Namun, siapa pun tahu kecanggihan industri rokok dalam mendesain strategi bisnisnya. Modifikasi dalam sistem produksi dan jalur distribusi niscaya akan dilakukan secara gencar. Dan hasilnya mulai terbukti. Jaringan retail rokok elektronik bernama Vape Club, di musim wabah corona ini justru mencatat kenaikan permintaan konsumen hingga 200%.

Pada saat yang sama, beban psikis akibat Covid-19 sangat mungkin mengaktifkan kembali mekanisme klasik bahwa semakin stres individu, semakin tinggi pula perilaku merokoknya. Semakin tak jelas kapan wabah ini akan berakhir, sangat mungkin akan semakin dahsyat pula desakan yang publik rasakan untuk melarikan diri ke rokok.

Sikap Pemerintah
Sampai di situ saja sesungguhnya telah tersedia alasan yang memadai bagi pemerintah untuk bergerak cepat guna membendung bahaya rokok. Bila belum juga terasa cukup kuat, jajaran elit negeri ini patut diingatkan kembali tentang hasil Survei Kesehatan Nasional bahwa pemerintah belum berhasil menurunkan jumlah perokok belia dan menangkal terjadinya pertumbuhan perokok pemula.

Patut disesalkan, bila kita tidak dapat memanfaatkan masa pageblug Covid-19 ini sebagai momentum untuk memerangi rokok, khususnya bagi perokok kanak-kanak.

Sebagai contoh, pemerintah--dalam hal ini Kementerian Perindustrian--justru menetralisasi potensi bahaya akibat terjangkit positifnya sekian banyak karyawan di salah satu pabrik rokok oleh virus corona. Bukannya mempertegas risiko buruk yang dapat dialami perokok atau menghentikan operasi pabrik rokok, Kemenperin justru menyatakan perusahaan tersebut sudah mengantongi Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Dengan demikian mereka diperbolehkan beroperasi selama pandemi Covid-19.

Situasinya mirip dengan gerakan menolak unsur eksploitasi dalam audisi badminton sebuah perusahaan rokok tahun lalu. Komisi Perlindungan Anak Indonesia bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, sudah satu suara menentang eksploitasi itu. Namun antiklimaks, Kantor Staf Kepresidenan justru meng-endorse kegiatan tersebut dengan mengenakan kaos serupa yang juga dipakai oleh anak-anak peserta audisi. Pemerintah, diwakili Kementerian Pemuda dan Olahraga akhirnya melakukan mediasi. Politik jalan tengah itu memunculkan anekdot bahwa di Indonesia, anak-anak seolah boleh merokok asalkan setengah batang saja.

Kembali ke masalah rokok dan Covid-19. Kepala Sekretariat FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), Dr Adriana Blanco Marquizo, menyebut bahwa industri rokok juga memanfaatkan situasi krisis Covid-19 sebagai momen untuk mempertontonkan wajah “budiman”-nya. Yakni, dengan memberikan berbagai bentuk donasi uang, perlengkapan perlindungan dan kesehatan, ventilator, dan kegiatan-kegiatan filantropi lainnya. Tren serupa juga sudah berlangsung di sini. Beberapa produsen rokok raksasa dikabarkan telah menyumbangkan sekian miliar rupiah dan ribuan alat perlindungan diri sebagai bentuk dukungan melawan Covid-19. Sepintas terkesan fantastis. Namun jika dibandingkan dengan keuntungan yang mereka peroleh, ditambah dengan beban kesehatan masyarakat yang diciptakan oleh perusahaan-perusahaan itu, jumlah “kebaikan” berupa uang dan barang itu tentu tidak sebanding.

Sikap pemerintah terhadap rokok, terlebih di masa pandemik Covid-19, tampak masih setengah hati. Apalagi jika dibandingkan dengan langkah berani yang diambil Pemerintah Afrika Selatan. Sejak Maret lalu, saat virus corona mewabah, pemerintah Afrika Selatan melarang penjualan rokok dan alkohol sebagai bagian dari lockdown berskala besar. Bahkan kini, ketika lockdown sudah dihentikan, pelarangan terhadap dua racun tadi tetap dilanjutkan.

Pada akhirnya, penting menjadi kesadaran seluruh elemen bangsa bahwa Indonesia sejatinya tidak hanya berhadapan dengan pandemik Covid-19. Sejak dahulu, Indonesia telah dilanda pandemik rokok. Anggaplah, penangkal terhadap rokok bakar telah tersedia, meski masih sangat jauh dari ideal. Sementara itu, karena belum masuk dalam radar pemerintah, rokok elektronik masih leluasa berekspansi. Ratifikasi terhadap FCTC pun belum juga menjadi perhatian pemerintah.

Kita akan terus melawan virus corona. Demikian pula, genderang perang terhadap rokok pun patut terus didentumkan. Karena rokok tidak layak untuk menjadi bagian dari new normal Indonesia.