Pengentasan Kemiskinan dalam Ritual Kurban

Opini: Abdul Munir Mulkhan

Guru Besar Emeritus Universitas Muhammadiyah Surakarta; Wasekjen Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005)

Senin, 13 Juli 2020 | 08:00 WIB

Hari Raya Iduladha tahun 2020 ini jatuh di akhir bulan Juli yang hampir pasti masih banyak warga yang terpapar Covid-19. Salat Iduladha, bisa jadi umat Muslim kembali menunaikannya di rumah, sama seperti saat salah Idulfitri akhir Mei lalu.

Hal yang menjadi persoalan adalah bagaimana memenuhi syariat menyembelih hewan kurban dengan tetap mematuhi protokol kesehatan? Demikian pula halnya bagaimana membagikan daging hewan kurban tanpa kerumunan?

Wabah Covid-19 ini memaksa kita mengkaji ulang apa sebenarnya tujuan hakiki disyariatkannya (baca: maqashid syari’ah) penyembelihan hewan kurban? Tujuan dan fungsi utama ritual atau ibadah kurban bukanlah persembahan kepada Tuhan, melainkan bagi kepentingan kemanusiaan. Wabah Covid-19 mendorong setiap pihak berpikir ulang bagaimana memenuhi kewajiban ibadah kurban, tanpa melanggar protokol kesehatan, sekaligus menolong sesama yang lebih membutuhkan.

Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah tertanggal 24 Juni 2020, bisa dijadikan petunjuk penuntun. Dalam surat edaran tersebut dinyatakan bahwa di tengah wabah Covid-19, penyembelihan hewan kurban bisa dikonversi berupa dana bagi warga yang paling membutuhkan bantuan. Ulama mazhab Hanafiah juga membolehkan daging kurban diuangkan bagi kepentingan fakir miskin.

Penguangan daging kurban bisa dilakukan bekerja sama, misalnya, dengan restauran, rumah makan, dan hotel, yang siap menampung daging hewan kurban tersebut. Hewan yang mau disembelih sebagai kurban dijadikan ukuran berapa nilai rupiah yang dikurbankan untuk dibagikan kepada yang berhak yaitu fakir miskin.

Dana hasil konversi atau penguangan daging kurban seluruhnya adalah hak fakir miskin yang dikelola oleh panitia atau amil penyembelihan hewan kurban. Peruntukan dana yang terkumpul seluruhnya bagi kepentingan fakir miskin yang akibat wabah Covid-19 jumlahnya membengkak.

Di sinilah perlunya gerakan jihad kemanusiaan melalui ritual kurban secara nontunai bagi pemberdayaan warga miskin. Saatnya membuktikan bagaimana nilai-nilai kelima sila Pancasila menuntun perilaku beragama, yakni pembagian daging kurban secara nontunai bagi pengentasan kemiskinan.

Tata laku baru kurban nontunai bagi pengentasan kemiskinan tersebut adalah salah satu bentuk praktis penerapan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sila-sila Pancasila tersusun secara hirarkis-piramidal, suatu konsep yang muncul pertama kali tahun 1951.

Istilah hirarkis-piramidal pertama kali disebut Prof Notonagoro dalam promosi pemberian gelar honoris causa dalam ilmu hukum oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada Bung Karno pada 19 September 1951. Melalui pola hubungan hirarkis-piramidal demikian, fokus imperatif lima sila mengkristal pada sila kelima yang lebih konkret. Tujuannya agar tidak ada lagi warga bangsa ini yang menderita akibat terperangkap jerat kemiskinan.

Gotong Royong
Memenuhi ritual kurban secara nontunai, direalisasikan dalam hidup praktis secara berjamaah atau gotong royong. Dalam bahasa langit, gotong royong kemanusiaan ini disebut ta‘awun, tolong-menolong berjamaah pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui ta’awun berjamaah dari ritual kurban, jutaan orang bisa terbebas dari jebakan kemiskinan yang semakin berat di tengah wabah Covid-19.

Nilai rupiah hewan kurban sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta untuk kambing, serta Rp 20 juta hingga Rp 30 juta untuk sapi. Nilai itu akan mencapai puluhan triliun jika bisa dikumpulkan gotong-royong berjamaah secara nasional. Banyak hal bisa dilakukan dengan dana triliunan rupiah itu bagi fakir miskin agar bebas dari jerat dan perangkap kemiskinan.

Nilai triliunan rupiah itu diperoleh berdasarkan jumlah hewan kurban tahun 2019 yang dilaporkan di satu kecamatan di Kota Yogyakarta, yang meliputi 300 ekor sapi dan 600 ekor kambing. Jumlah tersebut diperkirakan hanya sekitar 25% dari jumlah seluruh hewan kurban di kecamatan ini.

Harga satu ekor sapi kurban, sebutlah rata-rata Rp 20 juta, dan harga satu ekor kambing kurban rata-rata Rp 2,5 juta. Nilai 300 ekor sapi berarti sebesar Rp 6 miliar, dan nilai 600 ekor kambing sebesar Rp 1,5 miliar. Dengan demikian, seluruh hewan kurban di kecamatan tersebut diperkirakan Rp 30 miliar.

Jumlah kecamatan di seluruh Indonesia mencapai 7.200, atau katakanlah 7.000 kecamatan. Dengan asumsi tiap kecamatan nilai keseluruhan hewan kurban Rp 3 miliar, maka jika dikalikan 7.000 kecamatan akan diperoleh jumlah Rp 21 triliun. Dari jumlah itu, dua pertiganya atau Rp 14 triliun adalah hak fakir miskin.

Jika sepakat berkurban secara nontunai, kita bisa menyetor kepada panitia atau amil penyembelihan hewan kurban sejumlah uang sesuai nilai hewan yang akan disembelih. Dana ini bisa digunakan untuk banyak kepentingan membantu warga miskin, seperti beasiswa, modal usaha, biaya pelatihan kerja, dan lain-lain.

Pertanyaannya, bersediakah kita melaksanakan ritual kurban agar bisa berfungsi lebih produktif di tengah wabah Covid-19?

Saat ini, pelaksanaan ritual kurban bukan hanya dengan memenuhi protokol kesehatan, yaitu: jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan. Lebih strategis jika bisa dilakukan secara nontunai sesuai tujuan hakiki ibadah, yaitu bagi kesejahteraan manusia.

Pemenuhan hajat kemanusiaan sebagai tujuan hakiki penyembelihan hewan kurban tersebut ditentukan jawaban pertanyaan, beranikah kita berijtihad dan berjihad bagi kemanusiaan universal melampaui tradisi atau kebiasaan normal?

Paradigma jawaban pertanyaan ini ialah tujuan hakiki pewahyuan syariat ibadah kurban, yaitu kepentingan kemanusiaan, bukan kepentingan Tuhan itu sendiri.

Manusia yang baik ialah yang berguna bagi sesama (sabda Rasul Muhammad SAW). Seperti nasihat Nabi Khidzir kepada Nabi Musa As, berkah Tuhan selalu mengiringi mereka yang bekerja membebaskan orang yang teraniaya dan orang yang kelaparan akibat kemiskinan.

Mari kita kaji bersama, pembebasan penderitaan sebagian warga bangsa ini melalui ritual penyembelihan hewan kurban secara nontunai. Jalan tol surgawi terbentang di depan mata dalam aksi kemanusiaan menapaktilasi tradisi Ibrahim As.