Pendekatan Budaya Menghadapi Covid-19

Opini: Parulian Manullang

Pemerhati masalah sosial dan aktif dalam kajian strategis

Jumat, 17 Juli 2020 | 08:00 WIB

Setelah melewati masa enam bulan yang mencekam akibat pandemi Covid-19 yang melanda berbagai belahan dunia itu, kini terjadi pergeseran bentuk kecemasan di masyarakat. Semula publik cemas terpapar virus corona, tetapi kini publik tampaknya lebih cemas oleh kesulitan ekonomi.

Oleh karenanya, kebijakan yang diintrodusir pemerintah dengan berdasarkan konsep new normal bisa dikatakan agak melegakan. Di satu sisi, publik diberi akses untuk kembali beraktifitas, di sisi lain penerapan protokol kesehatan tetap diberlakukan. Ini berarti bahwa kehidupan ekonomi didorong agar lebih produktif sementara kaidah kesehatan tetap terjamin.

New normal tentu saja mensyaratkan sikap dan perilaku tertentu dari semua pihak agar tujuan dari konsep tersebut dapat diwujudkan. Dengan kata lain, sikap dan perilaku itu, sebagaimana yang tercermin dalam pengertian new normal tersebut, mengisyaratkan bahwa aspek budaya masyarakat dalam mencegah penularan virus tersebut memegang peran sentral.

Konsep new normal tidak hanya terjadi di Indonesia. Konsep itu mulai diterapkan di beberapa negara Eropa agak lebih awal dibandingkan di negara kita. Secara prinsip, new normal yang dikembangkan di berbagai negara, termasuk di Indonesia, memang bertujuan agar masyarakat membudayakan cara hidup baru dalam rangka meminimalisasi dampak negatif Covid-19.

Cara Manusia Beradaptasi
Gagasan tentang proses terjadinya evolusi mahluk hidup sudah cukup lama menjadi pusat perhatian manusia. Namun demikian, dari berbagai teori evolusi yang ada, teori yang dikemukakan Charles Darwin, biolog ternama asal Inggris, tergolong paling sering diperbincangkan serta dianggap didukung oleh bukti-bukti empirik.

Dalam konteks kemampuan adaptasi manusia, Darwin berpendapat bahwa pola evolusi bersifat gradual. Berdasarkan cara pandang ini, kemampuan adaptasi manusia terhadap lingkungannya lebih tinggi dibandingkan mahluk hidup lain. Hal ini karena manusia memiliki syarat-syarat yang cukup untuk menopang hidupnya secara berkelanjutan dibanding makhluk hidup lain.

Kemampuan untuk beradaptasi terhadap lingkungannya, termasuk kemungkinan terserang penyakit, telah memunculkan ide atau gagasan bagi manusia untuk mengantisipasinya melalui berbagai upaya. Melalui pengalaman dan akal budinya, manusia akhirnya selalu dapat menemukan upaya-upaya tertentu dalam menjawab tantangan alam dan lingkungan dengan segala risiko hidupnya. Inilah yang secara umum kita sebut sebagai budaya.

Terkait dengan itu, penanganan wabah penyakit memang tidak bisa dilepaskan dari pendekatan sosial budaya. Berbagai catatan sejarah penangan wabah di seluruh dunia memberikan informasi bahwa penanganan wabah penyakit tidak bisa jika dilakukan dengan hanya melibatkan aspek medis.

Cara pandang ini bertumpu pada asumsi bahwa wabah atau penyakit dan aspek sosial budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi, kita tidak dapat mengingkari suatu fakta bahwa penyakit seringkali disebabkan oleh budaya (cara-cara hidup) manusia, atau setidaknya penyakit mudah menjadi wabah karena perilaku atau budaya tertentu dalam masyarakat. Di sisi lain penyakit juga memberikan dampak yang luar biasa dalam aspek budaya manusia.

Penyakit kolera, misalnya, diketahui muncul dari budaya atau perilaku penggunaan sarana sanitasi yang buruk dan tidak sesuai dengan kaidah kesehatan. Penyebaran kolera dimungkinkan karena pola hidup yang tidak bersih.

Budaya Nusantara
Kepercayaan dan praktik yang berkenaan dengan penyakit, yang merupakan hasil dari perkembangan kebudayaan asli dan yang eksplisit, tidak berasal dari kerangka kedokteran modern atau dipandang sebagai sistem medis non-Barat. Secara antropologis, sistem pengobatan atau kesehatan asli sering dianggap sebagai bagian pranata sosial pada umumnya, dan bahwa praktik-praktik pengobatan asli.

Para antropolog moderen bahkan takjub melihat beberapa praktik yang berkenaan dengan penyakit dari masyarakat kuno dilakukan secara rasional. Sejumlah tabib di masa lalu terbukti mengenalisis penyakit melalui hubungan sebab akibat.

Di seluruh negeri di dunia, termasuk di bumi Nusantara, telah lama dikenal berbagai cara dan upaya masyarakat lokal untuk melawan atau menanggulangi terhadap apa yang mereka anggap penyakit. Dengan demikian, ini berarti bahwa nilai dan norma kebudayaan serta sistem sosial menentukan usaha kesehatan, tidak saja dari aspek biomedis (medis modern) atau kesehatan tradisional (medis tradisional), tetapi juga dalam kesehatan keluarga atau upaya sendiri (home atau self treatment).

Esensi nilai, norma, dan organisasi sosial yang terkait dengan penyakit memberi makna bahwa upaya kesehatan, penyebab dan penyebaran penyakit serta model pengobatan dan penyembuhannya dipengaruhi kebudayaan dan peradaban masyarakat sesuai dengan konteks lokalitasnya. Ini berarti bahwa sistem pengobatan tradisional bukan sekedar sebagai fenomena medis dan ekonomi, tetapi jauh lebih luas lagi, yaitu fenomena sosial budaya. Hal ini terjadi dalam kehidupan masyarakat, terutama kehidupan yang menyangkut kesehatan individu maupun kesehatan publik.

Sebagian masyarakat awam saat ini cenderung memandang pengobatan tradisional dari perspektif ekonomi dan medis semata. Di masa lalu, jarang muncul upaya riset yang lebih khusus melalui perspektif sosial dan budaya dengan cara terjun langsung dalam kehidupan masyarakat, misalnya, dengan mengukur sejauh mana herbal maupun obat-obatan tradisional dipandang sebagai kebutuhan perawatan kesehatan oleh masyarakat.

Padahal, sebelum ditemukan teknologi medis modern telah sejak lama pengobatan dan obat tradisional telah menyatu dengan kehidupan masyarakat serta selalu digunakan dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan. Ini berarti bahwa kemampuan masyarakat untuk mengenal gejala penyakit, menemukan obat penawar, mengobati sendiri, dan memelihara kesehatan telah berlangsung cukup lama di Nusantara.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) di tahun 1993 telah menyadari pentingnya pengobatan tradisional untuk penduduk dunia umumnya. Melalui pengakuan terhadap manfaat obat tradisional, organisasi dunia ini bermaksud mengembangkan kenaikan perluasan secara rasional keselamatan penggunaan secara efektif untuk semua penduduk di dunia di waktu kini maupun mendatang.

Di Indonesia, upaya pengobatan tradisional hanya dan masih berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. Patut disayangkan jika saat ini belum ada upaya yang modern sekaligus masif untuk mengembangkan industri herbal berbasis sumber daya lokal, misalnya. Dengan kata lain, pola-pola budaya masyarakat dalam upaya menjadikan kehidupan yang lebih sehat hingga hari ini belum banyak memperoleh insentif dari negara.

Budaya hidup sehat yang selama ini diterapkan oleh masyarakat tradisional jelas memerlukan upaya fasilitasi dari berbagai pihak. Oleh karenanya, berbeda dari negara-negara lainnya, terutama di Asia seperti RRT dan India, cara-cara pengobatan tradisional dan cara pengobatan modern dilakukan dalam sistem pelayanan kesehatan formal dan terpadu. Dua negara tersebut merupakan contoh di mana kebudayaan dipadukan dengan unsur medis sebagai upaya menyehatkan masyarakat. Upaya semacam itu dimaksudkan agar pencapaian tingkat kesehatan masyarakat dapat diwujudkan secara efektif.

Sejalan dengan itu, pemanfaatan budaya lokal sebagai modal sosial dalam pengobatan juga dimaksudkan agar aspek budaya tetap langgeng dan relevan. Di sisi lain, fasilitas pelayanan kesehatan publik di Tanah Air, baik pada tingkat rujukan pertama dan rujukan yang lebih tinggi masih terbatas daya jangkaunya. Sementara pemenuhan aspek kesehatan pada tingkat rumah tangga masih memegang peran utama. Faktor ini jelas merupakan tantangan yang cukup bagi para pemangku kepentingan di sektor kesehatan.

Gotong Royong
Masa enam bulan pandemi Covid-19 yang melanda dunia di satu sisi, serta khasanah kebudayaan Nusantara sebagai benteng sosiologis untuk mencegah penyakit menular, telah membuat banyak pihak berupaya mengambil atau memetik pelajaran berharga dari masalah ini. Satu hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa pada umumnya orang-orang yang berpandangan sempit akan bersikap semakin egois dari kehidupan sosial. Hal ini terjadi karena mereka merasa khawatir atau merasa terancam akibat dampak penyakit yang diketahui bersumber virus yang ditularkan oleh sesama manusia.

Hikmah dari Covid 19, terutama bagi manusia yang memanfaatkan nalarnya secara sehat justru berpandangan sebaliknya. Ini berarti sikap atau perilaku gotong royong perlu menjadi tema sentral terkait perlunya budaya baru dalam menghadapi Covid 19.

Cara hidup atau perilaku egois dalam menghadapi Covid 19 justru tidak efektif dalam mencegah penularan virus tersebut. Sebaliknya, sikap solider dengan, misalnya, saling mengingatkan agar melaksanakan protokol kesehatan terhadap sesama anggota masyarakat, justru sangat penting untuk menjaga kesehatan bersama, ketimbang bersikap egois.

Sikap yang ditunjukkan beberapa desa di Jawa dalam mengantisipasi meluasnya Covid 19 dengan cara mengisolasi warga yang baru datang, misalnya, justru merupakan sikap yang tepat. Di satu sisi, upaya tersebut menumbuhkan partisipasi warga setempat untuk selalu waspada. Di sisi lain dengan isolasi terhadap warga yang baru datang membuat warga yang sedang bertugas justru terdorong untuk mengayomi dan melayani saudara-saudaranya yang terkena isolasi.

Perilaku semacam ini dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk solidaritas sosial, namun dengan cara yang baru dan berbeda dengan cara sebelumnya. Sampai tahap tertentu Covid 19 ternyata memberikan efek budaya bagi masyarakat dalam hal meningkatnya solidaritas sosial dalam berbagai bentuk.

Jika ditelusuri lebih dalam, solidaritas sosial yang muncul karena dampak Covid 19 ini sesungguhnya merupakan wujudan dari sikap gotong-royong masyarakat Nusantara yang telah hidup sejak beberapa abad yang lalu. Kali ini, budaya gotong-royong diekspresikan dalam bentuk baru berdasarkan tuntutan protokol kesehatan.