Habibie dan Kesinambungan Industri Pesawat Terbang Nasional

Opini: Delianur

Pemerhati kemasyarakatan dan masalah kedirgantaraan, tinggal di Bandung

Jumat, 17 Juli 2020 | 22:31 WIB

Pada festival teknologi 7-13 Agustus 2017 yang dilaksanakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), pesawat R80 turut dipamerkan. Pesawat R80 akan dibuat PT Regio Aviasi Industri (RAI) mulai dari tahapan desain produksi, sertifikasi sampai assembly. PT RAI sendiri adalah sebuah perusahaan yang didirikan presiden ke-3, BJ Habibie, beserta putranya Ilham Habibie.

Pada waktu itu, proyek R80 masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Perpres 58/2017. Sebuah keputusan Presiden yang dalam 3 tahun belakang kita ketahui dianulir. R80 dikeluarkan dari PSN dengan alasan negara sedang krisis keuangan karena sedang menghadapi pandemi Covid-19. Pada waktu bersamaan pemerintah tetap mencantumkan proyek Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Drone Elang Hitam Kombatan, Elang Hitam (EH-4) dan EH-5, yang dibuat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

R80 sendiri adalah sebuah pesawat komersial yang memiliki dimensi panjang 32,3 meter dengan lebar sayap 30,5 meter, dan tinggi 8,5 meter. Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 330 knots atau sekitar 611 km per jam dengan kecepatan ekonomisnya mencapai 290 knots atau sekitar 537 km per jam, serta jangkauan 1.480 km. Memakai teknologi fly by wire, maka semua kontrol pengendalian R80 bisa dilakukan melalui komputer.

R dalam R80 sendiri bermakna “Regional”. Sedangkan 80 bermakna jumlah penumpang. Karena R80 bisa menampung 80-90 penumpang. R80 akan mempermudah konektivitas jarak dekat untuk negara-negara kepulauan. Dengan kapasitas mini dan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, R80 bisa menjangkau kota-kota dengan landasan pacu tidak panjang. Pesawat gagasan Habibie ini diyakini akan menjadi raja baru di tipe Avions de Transport Regional (ATR) yang selama ini banyak dipakai maskapai komersial. Karena itu tidak aneh bila NAM Air, Kalstar, Trigana Air, dan Aviastar langsung memesan pesawat berbandrol US$ 25 juta ini.

R80 yang di desain sejak 7-8 tahun yang lalu, sebenarnya direncanakan mulai lepas landas pada tahun 2025. Sejak tahun 2018 sudah masuk dalam tahapan pembangunan purwarupa yang akan dilanjutkan pada fase uji terbang. Melalui program crowd funding untuk melibatkan partisipasi publik, R80 berhasil membangkitkan kembali semangat masyarakat Indonesia untuk memiliki pesawat buatan bangsa sendiri.

Pesawat Komersial
Rangkaian informasi tentang R80 ini mau tidak mau mengagetkan masyarakat. Banyak orang tidak percaya dengan rencana pembuatan R80 ini. Setidaknya ada beberapa hal yang membuat orang kaget dengan ide R80 yang sudah berjalan ini. Pertama, industri pesawat terbang bukan hanya industri hi-tech yang membutuhkan kecerdasan dalam berpikir dan ketelitian dalam bekerja, tetapi juga industri padat modal dan padat karya. Membangun pesawat bukan hanya membutuhkan uang triliunan rupiah, tetapi juga tenaga kerja cukup banyak.

Kedua, R80 adalah pesawat yang dirancang untuk penerbangan komersial. Bagaimanapun, dalam industri pesawat terbang, memasuki dunia pesawat komersial adalah langkah maju. Menjadi produsen pesawat komersial diyakini akan membuat industri berjalan lebih stabil dan maju, ketimbang menjadi produsen pesawat militer atau subkontraktor dari pabrik pesawat komersial.

Namun, untuk mencapai itu, tentunya bukan suatu yang gampang. Di samping membutuhkan dana yang sangat besar, juga butuh konsistensi, kesabaran, juga determinasi yang tinggi untuk mencapainya. Karenanya di dunia ini, hanya ada dua pabrik pesawat komersial terkemuka, Airbus dan Boeing.

Ketiga, secara tipologis, setidaknya ada empat jenis pesawat penumpang. Jumbo passenger-jets seperti Airbus A340-300 dan Boeing 747-400. Mid-size-passenger-jets seperti Airbus 318 dan Boeing 737-600. Light-passenger-jets seperti Antonov an-148 dan Embraer 170. Passenger-turbo-props seperti ATR 42-500 dan Cessna Grand Caravan.

R80 mungkin masuk kategori passenger-turbo props yang bersaing dengan Cessna yang dulu pernah menjadi mitra PT Nurtanio Bandung. Meskipun masuk kelas paling bawah, poinnya adalah bahwa R80 sudah masuk dalam bisnis pesawat komersial yang selama ini diidamkan banyak orang.

Keempat, masyarakat Indonesia pasti belum lupa efek krisis moneter yang telah membuat PT Nurtanio ambruk. Pabrik yang berlokasi di Bandung dan pernah jaya dan mendapat banyak privilege di masa Presiden Soeharto, tiba-tiba jatuh berkeping-keping. Perusahaan mesti memecat ribuan karyawannya karena tidak ada lagi uang sehingga pengadilan pun menyatakan perusahaan ini pailit. Pada akhirnya proses banding menolak putusan tersebut.

Pengalaman N-219
Namun bila kita lihat lebih jeli lagi, kemunculan R80 ini sejatinya tidaklah proses yang tiba-tiba. Sebelum R80 ini di-launching, perlahan tapi pasti industri dirgantara nasional kita menggeliat. Hanya saja mungkin tidak begitu terlihat oleh banyak orang. Selain karena masih lekat ejekan terhadap industri dirgantara nasional yang disimbolkan pada PT Dirgantara Indonesia (PT DI), orang juga sedang terpukau dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Bila kita geser beberapa waktu sebelum R80 di-launching, kita dikejutkan dengan penerbangan perdana pesawat N-219 Nurtanio buatan PT DI pada 16 Agustus 2017. Seperti yang diketahui, proses pembuatan pesawat terbang adalah proses yang sangat panjang. Begitu juga dengan N-219 Nurtanio. Meski baru uji perdana pada tahun 2017, tapi proses nya sudah berjalan jauh sebelumnya.

Pesawat N-219 Nurtanio sendiri diawali pada tahun 2003 ketika PT DI mengungkapkan rencana pengembangan pesawat kapasitas 19 penumpang dan membuka kerja sama dengan banyak negara. Proyek ini bisa dilaksanakan 3 tahun berikutnya, 2006, setelah ditandatangani kerja sama antara Qatar-Indonesia dalam Joint Investment Fund dengan nilai investasi sebesar US$ 65 juta. Pada Agustus 2016, Airbus Defence and Space menyatakan komitmen untuk memberikan bantuan dalam pencapaian sertifikasi N-219.

Prototipe pertama N-219 sendiri selesai pada 2017 dan uji coba perdana dilaksanakan pada tahun yang sama di Bandara Husein Sastranegara Bandung. Durasi percobaan dari lepas landas hingga pesawat mendarat kembali adalah 26 menit. Pesawat komersial yang bisa menampung 19 penumpang yang sangat cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia ini, waktu itu ditargetkan mulai produksi sekitar akhir tahun 2019.

Bila kita melihat peluncuran pesawat N-219, mestinya kita tidak kaget mendengar berita peluncuran R80. Kita seperti melihat adanya kesinambungan tidak terputus dari N-219 ke R80, meskipun keduanya datang dari dua perusahaan yang berbeda. Bila dilihat dari urutan waktu, maka ketika ide N-219 dikeluarkan, ide R80 belum muncul. Namun ketika N-219 sudah melakukan uji coba terbang perdana pada tahun 2017, di tahun yang sama rancangan R80 sudah dikeluarkan.

Gagasan Habibie
Bila R80 adalah pesawat gagasan Habibie, maka sebetulnya kebangkitan PT DI sebagai simbol industri pesawat terbang nasional pun pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin Habibie.

Budi Santoso, Direktur Utama PT DI pasca-pailit serta orang yang pertama menggagas ide N-219 Nurtanio, pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari sosok Habibie itu sendiri. Sebelum memimpin PT Pindad, Budi Santoso adalah orang yang pernah menjadi bawahan Habibie ketika PT DI bernama PT IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara).

Sebagaimana diungkap Budi Santoso dalam wawancara dengan sebuah televisi Nasional, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin menghidupkan kembali industri pesawat terbang nasional dan meminta saran Habibie perihal orang yang dianggap bisa mengangkat kembali PT DI, nama Budi Santoso lah yang disebut Habibie.

Presiden ke-3 ini sepertinya bukan hanya bisa mengeluarkan sebuah rancangan pesawat yang canggih, tetapi juga sudah mendidik banyak orang untuk membangkitkan kembali industri pesawat yang sempat terpuruk pasca krisis moneter 1998.