Gembira dalam Keluarga yang Hangat dan Kreatif

Opini: Seto Mulyadi

Ketua Umum LPAI; Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Rabu, 22 Juli 2020 | 08:00 WIB

Hari Anak Nasional yang tahun ini memiliki bobot luar biasa. Sudah berbulan-bulan masyarakat ditantang untuk bertahan hidup dalam masa pandemi. Tak terkecuali dunia pendidikan yang baru saja memulai tahun ajaran barunya. Keputusan beberapa daerah untuk mengizinkan para siswa menjalani proses belajar di sekolah, meski terkesan sebagai langkah berani, namun dikhawatirkan akan berisiko tinggi terhadap anak-anak.

Sementara bukankah masyarakat sudah mempraktikkan metode belajar mandiri sejak berpuluh tahun silam. Terlebih sejak berlangsungnya teknologi pendidikan jarak jauh, belajar tanpa supervisi secara fisik sangat memungkinkan untuk dijalani anak-anak. Sistem pendidikan berbasis rumah (home schooling) termasuk di antaranya.

Memang, mengamati praktik belajar di tengah-tengah musim Covid-19, harus diakui sulit untuk mencapai target maksimal. Terlebih bagi siswa-siswa kelas bawah yang umumnya sangat aktif dan memiliki rentang perhatian pendek. Para guru pun tak sedikit yang merasa canggung karena tidak berhadapan langsung di ruang kelas yang sama dengan anak didiknya.

Apa sebetulnya penyebab belajar mandiri di rumah kali ini dijalani dengan gamang? Mengapa pula sekian banyak daerah tetap nekat membuka gerbang sekolah mereka? Jawabannya adalah karena kegiatan belajar mandiri di rumah di musim wabah datang secara mendadak. Bahkan di tingkat nasional, seluruh kurikulum pendidikan dasar dan menengah sejatinya tidak dirancang sejak awal sebagai program berbasis belajar di rumah. Desain konvensional, namun dikustomisasi seolah cocok untuk diselenggarakan tanpa siswa harus datang ke sekolah. Ini bukan by design, tapi lebih by coercion. Bukan didesain atau dirancang dari awal, tetapi lantaran paksaan keadaan akibat virus corona.

Perilaku Berisiko
Masa ini semakin berat, karena tidak sedikit anggota masyarakat dewasa yang mencoba beradaptasi (berdamai) dengan situasi pandemi dengan cara yang sering kurang bijak.

Meski sudah diingatkan agar mempraktikkan protokol kesehatan, namun tetap masih banyak orang yang secara sembrono bersuka ria di ruang publik. Mereka mengabaikan penjarakan sosial, tidak mengenakan masker, merokok, dan berbagai tindak-tanduk berisiko lainnya. Disebut berisiko karena aktivitas mereka membuat mereka rentan terjangkit ataupun berpotensi menjangkitkan virus corona ke orang lain. Semakin mencemaskan, orang-orang tersebut berlama-lama di ruang publik seraya mengajak anak-anak yang sering juga mengabaikan protokol kesehatan.

Perilaku berisiko sedemikian rupa bertitik tolak dari bias kognitif. Bias tersebut disebabkan oleh penilaian berlebihan terhadap diri sendiri, seolah dirinya memiliki imunitas istimewa sehingga mampu menolak bahaya, dan anak-anak pun seolah terhindar dari virus corona. Jelas, penyepelean seperti itu merupakan kondisi psikologis yang ideal bagi berlangsungnya gelombang wabah berikutnya.

Pada masa krisis seperti dijelaskan sebelumnya, saya gamang dalam menentukan mana yang sesungguhnya lebih berpotensi memunculkan dampak buruk bagi anak-anak: masalah penyakit akibat tertular virus atau problem yang muncul akibat gejolak psikologi-sosial yang berlangsung secara tiba-tiba. Yang jelas, terbelenggu dalam persepsi serbanegatif begitu lama, masyarakat --dan tak terkecuali anak-anak-- boleh jadi akan membutuhkan intervensi moral eksistensial agar tidak terus-menerus memandang diri dan lingkungannya sebagai sesuatu yang tak berpengharapan.

Pantulan Diri Kita
Secara fisik, virus corona dilawan dengan obat dan vaksin. Namun problematika yang dihadapi masyarakat di tengah wabah ini sudah sedemikian majemuk. Tidak lagi hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan psikologis.

Jalan keluar untuk itu patut bertitik tolak dari alpha mindset. Alpha mindset bercirikan keinsafan diri di tengah berbagai tantangan hidup. Keinsafan itu menjulang di ketenangan dan keutuhan dalam memahami diri, disertai dengan daya upaya untuk keluar dari masalah yang ada. Alpha mindset itu pula yang sepatutnya menjadi landasan bagi ayah bunda dalam membimbing anak-anak dengan kekuatan cinta dan kreativitas.

Anak-anak menyikapi dunia sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka, khususnya ayah dan bunda. Apabila orangtua tetap menampilkan diri mereka sebagai insan yang hangat dan selalu menemukan cara-cara yang positif dalam beradaptasi, mereka pun akan menjadi role model tentang daya lenting yang efektif di musim pandemi. Orangtua akan lebih mampu berperan ideal, seandainya mereka memiliki persiapan yang cukup memadai.

Karena itulah, meski sudah berbulan-bulan dilalui, orangtua tetap perlu mengajak anak-anak berbincang tentang corona dan segala masalah ikutannya. Tidak hanya narasi-narasi positif yang membangkitkan semangat, tetapi bahkan juga mengangkat tema-tema negatif yang perlu diantisipasi. Perbincangan semacam demikian itu patut disesuaikan dengan tingkat kecerdasan dan kematangan anak. Chit-chat yang disertai kegiatan seperti mendongeng, bernyanyi, bermain sulap, petak umpet, serta kegiatan-kegiatan kreatif dan menyenangkan lainnya, diharapkan mampu menciptakan suasana batiniah yang sangat kondusif bagi anak-anak untuk mulai berbagi cerita.

Orangtua juga patut memberikan ruang kepada anak-anak untuk menyampaikan isi hati mereka. Jadi, tidak sekadar memberikan pengajaran, orangtua juga perlu pula membuka hati mereka terhadap keluh kesah anak-anak. Apapun isi curahan hati itu, ayah bunda sepatutnya dapat menumbuhkan keyakinan anak-anak bahwa mereka akan mampu melewati masa berat ini secara akrab sebagai sebuah keluarga.

Sedapat mungkin orangtua mempertahankan rutinitas kehidupan anak. Juga, mengupayakan adanya keseimbangan antara informasi yang diterima anak-anak dari masyarakat dengan materi pembelajaran di sekolah. Pada titik keseimbangan ini, semoga kita bersepakat, bahwa pelajaran tentang kehidupan adalah jauh lebih patut ditonjolkan daripada pelajaran yang tertera dalam lembaran kurikulum akademik.

Tekanan bagi Orangtua
Saya maklum sepenuhnya. Pada situasi sekarang, orangtua dan guru juga dapat mengalami compassion fatigue. Stamina lahir batin seolah terkuras sebagai konsekuensi dari ketulusan yang tak berkesudahan dalam memberikan hal-hal yang terbaik bagi anak-anak. Oleh karena itu, setelah “unjuk kebolehan” sebagai figur teladan di hadapan sang buah hati, ayah bunda juga patut mengambil jeda untuk meneduhkan perasaan mereka sendiri.

Inilah momentum penting saat ayah bunda dapat lebih berfokus pada kesenangan mereka sendiri. Dengan masa jeda, kehangatan dan kreativitas akan menyala kembali sehingga orangtua dapat tetap tampil prima di hadapan anak-anak.

Berangkat dari situlah, di Hari Anak Nasional 23 Juli ini, kita semua patut memperteguh optimisme bahwa pandemi Covid-19 tidak akan menghancurkan unit utama yang sangat kita butuhkan, terutama bagi anak-anak, untuk membangun daya lenting yang dahsyat di masa sulit ini, yaitu unit keluarga.

Semoga.