Perempuan dan Pusaran Informasi Covid-19
INDEX

BISNIS-27 536.336 (-9.74)   |   COMPOSITE 6258.57 (-118.4)   |   DBX 1209.79 (-7.56)   |   I-GRADE 185.201 (-3.15)   |   IDX30 531.719 (-11.49)   |   IDX80 142.034 (-2.79)   |   IDXBUMN20 420.424 (-11.55)   |   IDXESGL 146.593 (-2.74)   |   IDXG30 145.132 (-2.95)   |   IDXHIDIV20 467.118 (-8.07)   |   IDXQ30 151.699 (-2.74)   |   IDXSMC-COM 284.118 (-6.96)   |   IDXSMC-LIQ 356.602 (-8.98)   |   IDXV30 142.342 (-4.12)   |   INFOBANK15 1078.54 (-23.31)   |   Investor33 455.425 (-8.95)   |   ISSI 183.228 (-3.1)   |   JII 646.305 (-9.76)   |   JII70 225.666 (-3.53)   |   KOMPAS100 1262.11 (-23.67)   |   LQ45 987.949 (-21.07)   |   MBX 1725.55 (-36.04)   |   MNC36 336.055 (-6.76)   |   PEFINDO25 332.023 (-6.72)   |   SMInfra18 316.891 (-5.9)   |   SRI-KEHATI 389.555 (-8.04)   |  

Perempuan dan Pusaran Informasi Covid-19

Opini: Olivia Lewi Pramesti
Dosen Fisip Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Rabu, 13 Januari 2021 | 08:00 WIB

Berita bohong atau hoax tak lepas dari perbincangan masyarakat Indonesia. Bahkan media massa pun turut memberi perhatian, karena tugas media salah satunya adalah meluruskan berita yang tidak sesuai fakta.

Sepanjang 2020 dan awal tahun 2021 ini, hoax seputar Covid-19 banyak diulas oleh media. Hoax seputar pandemi di awal tahun 2021 di antaranya, daftar obat untuk perawatan Covid-19 secara mandiri di rumah, Istora Senayan Jakarta untuk penampungan pasien Covid-19, dan informasi seputar tes cepat.

Berdasarkan data dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), sejak Juni 2020 terjadi kenaikan hoax terkait Covid-19. Mafindo mencatat jumlah hoax Covid-19 dari Januari hingga November 2020 mencapai 712 berita. Sedangkan Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat lebih dari 2.000 hoax.

Kaitannya dengan hoax soal Covid-19, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyatakan, perempuan lebih banyak terpapar hoax selama pandemi Covid-19. Berdasar data Kemen PPPA, kasus hoax meningkat sebesar 17%. Dalam webinar dengan tema “Kiat Menjadi Bijak Menghadapi Informasi Hoaks di Masa Pandemi Covid-19” pada 22 Agustus 2020 yang dilansir dari https://aptika.kominfo.go.id/, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA, Agustina Erni mengatakan alasan perempuan lebih banyak dan mudah terpapar informasi hoax karena dipicu dari psikologis dan emosinya, terutama terkait isu kesehatan.

Senada dengan Kemen PPPA, Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, dalam webinar “Perempuan Periksa Fakta” pada 23 Desember 2020 mengatakan bahwa perempuan adalah pihak yang aktif yang menyebarkan sekaligus meluruskan berita hoax khususnya isu tentang kesehatan.

Khalayak Aktif
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa perempuan dalam konteks Covid-19, berperan penting dalam menyebarkan berita benar. Terlebih bila ia sudah berperan aktif sebagai ibu rumah tangga, pegiat dalam masyarakat, atau peran-peran lainnya, maka perempuan memiliki tanggung jawab besar dalam proses pemberian informasi. Lebih lagi, ketika perempuan tersebut sangat akrab dengan media sosial, akan sangat mudah untuk mendapatkan informasi yang melimpah. Tentu saja, ia punya kewajiban untuk memilih informasi mana yang benar dan tidak.

Pemilihan informasi yang benar dan tidak tentunya tidak mudah bagi setiap perempuan. Berdasarkan pengalaman penulis yang tergabung dalam beberapa grup WhatsApp, anggota grup yang mayoritas perempuan cenderung langsung meneruskan pesan tanpa melihat isinya dengan cermat. Ketika dikonfirmasi apakah pesan tersebut benar atau tidak, rata-rata menjawab tidak tahu. Mereka mengaku sekadar membagi untuk menambah pengetahuan anggota grup lainnya.

Perempuan menjadi khalayak aktif dalam melakukan pemilihan informasi. Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut literasi media. Tujuan literasi media, menurut Potter (2010), adalah membantu orang dari konten media negatif.

Literasi media (Herlina, 2019) adalah berkaitan dengan kemampuan khalayak yang meliputi aspek kognitif, afektif, estetika, dan moral dalam menangapi pesan di media. Kemampuan kognitif berhubungan dengan pengetahuan teknis dan konten media, aspek afektif berkaitan dengan pengenalan konten emosional (sedih, marah, cinta, bahagia), aspek estetika adalah keterampilan teknis memproduksi media sesuai selera mata dan telinga, dan aspek moral yang berkaitan dengan kesopanan, kepatutan, dan kewajaran yang diterima khalayak.

Salah satu perspektif literasi media seorang ahli bernama Buckingham (dalam Herlina, 2019) adalah khalayak aktif. Perspektif ini menempatkan kemampuan kognitif khalayak di mana nilai kebenaran berdasar latar belakang budaya khalayak. Dalam menganalisis sebuah konten media, khalayak akan mengomparasi dengan pengalaman bermedianya. Perspektif khalayak aktif ini berkaitan dengan cara khalayak dalam melakukan akses, memahami, menganalisis, dan menciptakan konten media.

Kaitannya dengan peran perempuan dalam menangkal hoax Covid-19, penulis menempatkan perspektif khalayak aktif sebagai pisau analisis. Data di lapangan menyatakan bahwa kaum perempuan lebih menggunakan emosinya dalam menanggapi pesan.

Menanggapi Secara Bijak
Melalui perspektif khalayak aktif ini, perempuan diharapkan mampu menanggapi pesan dengan bijak. Bagaimana caranya? Ketika mendapatkan pesan berantai di grup-grup media sosial, perempuan perlu membacanya dulu dengan seksama. Setelah itu, perlu melakukan analisis pesan dengan berbagai cara.

Perempuan bisa melakukan cek kebenaran, salah satunya dengan mengakses situs cekfakta.com (situs pengecekan fakta yang diusung oleh Mafindo), media online arus utama, Google News Initiative dan Internews serta FirstDraft. Situs lain yang bisa digunakan adalah situs milik Mafindo yakni turnbackhoax.id yang juga berisi konfirmasi atas benar tidaknya sebuah informasi.

Selain mengecek berita bohong melalui situs-situs tersebut, perempuan perlu bijak juga menyeleksi sebuah situs berita baik yang benar ataupun abal-abal. Salah satu caranya adalah dengan membuka situs media tersebut, dan mengecek pada kolom “Tentang Kami”. Bila di sana tertera jelas struktur redaksi, alamat jelas, kontak telepon yang bisa dihubungi, maka kemungkinan situs tersebut bukan situs abal-abal.

Cara-cara tersebut adalah upaya sederhana yang bisa dilakukan oleh kaum perempuan sebagai agen kebenaran. Analisis pesan secara awal menjadikan pengalaman bermedia tersendiri bagi perempuan sebelum memutuskan untuk membagi pesan.

Pengalaman bermedia inilah yang diharapkan dapat menghasilkan nilai kebenaran sehingga pesan yang dibagikan memang benar-benar sudah terseleksi dengan bijak. Pengalaman bermedia tidak hanya melibatkan aspek kognitif perempuan, melainkan juga aspek afektif dan moral. Pengalaman bermedia ini bisa dilakukan baik secara mandiri ataupun melalui komunitas-komunitas yang terbentuk.

Di sisi lain, perspektif khalayak aktif mensyaratkan perempuan juga sebagai agen aktif dalam memproduksi pesan. Dalam hal ini, mungkin tidak semua perempuan bisa melakukan tahap ini karena berbagai faktor seperti pendidikan dan budaya. Menurut asumsi peneliti, meski tidak semua perempuan bisa sampai pada tahap ini, setidaknya kemampuan menganalisis pesan adalah hal yang harus dilakukan.

Perempuan adalah agen utama dalam gerakan literasi media di Indonesia. Perempuan diharapkan dalam menggali potensi dalam dirinya untuk terus memberdayakan diri. Dengan demikian, perempuan tak lagi menjadi korban diskriminasi baik oleh media maupun masyarakat.


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS