Penyerangan Capitol Building, Wajarkah?
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 515.108 (0.61)   |   COMPOSITE 6251.05 (39.2)   |   DBX 1329.86 (14.38)   |   I-GRADE 180.794 (0.27)   |   IDX30 506.396 (0.81)   |   IDX80 136.709 (0.46)   |   IDXBUMN20 403.084 (1.9)   |   IDXESGL 140.339 (0)   |   IDXG30 143.133 (0.64)   |   IDXHIDIV20 446.039 (1.06)   |   IDXQ30 145.232 (0.05)   |   IDXSMC-COM 293.729 (3.78)   |   IDXSMC-LIQ 360.142 (2.89)   |   IDXV30 135.556 (1.75)   |   INFOBANK15 1043.56 (-0.65)   |   Investor33 435.417 (0.44)   |   ISSI 183.035 (1.43)   |   JII 629.726 (4.13)   |   JII70 221.943 (1.98)   |   KOMPAS100 1220.71 (4.06)   |   LQ45 950.717 (1.87)   |   MBX 1696.63 (9.05)   |   MNC36 322.327 (0.36)   |   PEFINDO25 325.87 (1.49)   |   SMInfra18 306.901 (2.86)   |   SRI-KEHATI 370.644 (-0.17)   |  

Penyerangan Capitol Building, Wajarkah?

Opini: Guntur Soekarno
Putra Sulung Presiden ke-1 RI

Senin, 22 Februari 2021 | 12:16 WIB

Pada 6 Januari 2021 para pendukung Presiden Donald Trump yang kalah dalam pilpres November tahun lalu secara brutal menyerang bahkan sempat menduduki Gedung Capitol di Washington DC, yang merupakan gedung Kongres AS. Pangkal persoalannya, mereka tidak terima kekalahan Trump.

Kejadian ini mendapat sorotan dari berbagai kalangan di dunia yang kebanyakan mengutuknya. Insiden itu pun dianggap sebagai kejadian inkonstitusional dan membuat wajah AS sebagai negara gembong demokrasi tercoreng.

Kanselir Jerman Angela Merkel menuduh Trump sebagai salah satu dalang kerusuhan di Gedung Capitol.
Mantan Presiden AS Barack Obama juga melemparkan kutukan terhadap peristiwa itu, yang menurutnya merupakan aib besar bagi demokrasi Amerika. Yang sangat menarik adalah komentar yang diberikan oleh Presiden Iran Hassan Rouhani yang menyatakan kejadian tersebut membuka topeng betapa bobroknya demokrasi Barat.

Sebenarnya bila kita meninjau kejadian 6 Januari 2021 tadi dari kacamata ajaran dan pikiran-pikiran Bung Karno, insiden Gedung Capitol adalah hal yang wajar dan sudah dapat diperkirakan jauh-jauh hari sebelumnya. Seperti kita ketahui di dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I”, Bung Karno menulis sebuah artikel yang berjudul “Fasisme Adalah Sepak Terjang Kapitalisme yang Sedang Menurun”.

Dalam artikel itu, Bung Karno mengupas secara mendalam mengenai garis hidup sistem kapitalisme, yaitu kapitalisme yang sedang dalam perkembangan yang menaik (I’m Aufstieg), maka sistem politiknya adalah demokrasi liberal atau parlementer. Sedangkan, dalam situasi yang sedang menurun (I’m Niedergang), maka sistem politiknya berubah menjadi fasisme.

Kapitalisme Amerika Serikat di bawah Trump sudah dalam keadaan menurun. Pastilah tindakannya bersifat fasistis.

Dalam sistem yang demikian pendukung-pendukung Trump dengan sedikit diagitasi oleh Trump langsung menyerang Gedung Capitol dan berusaha untuk mendudukinya. Dalam kejadian tersebut berjatuhan korban, 5 orang tewas salah satunya anggota Kepolisian serta beberapa luka-luka karena terlibat baku hantam dengan Kepolisian Negara Amerika Serikat.

Apa pelajaran yang dapat ditarik dari kejadian 6 Januari 2021 tadi untuk Indonesia? Satu hal yang pasti, saat ini demokrasi ala Barat, atau demokrasi liberal/parlementer saat ini sudah dalam keadaan bangkrut!

Tetapi yang mengherankan di Indonesia masih banyak tokoh dan kalangan elit kita yang masih mendewakan sistem demokrasi Barat yang kenyataannya sudah bangkrut tadi. Kalau saja kita bertanya demokrasi model apa yang saat ini sedang kita anut, jawabannya berbeda-beda. Ada yang menyatakan demokrasi kita adalah demokrasi Pancasila. Ada yang menyatakan demokrasi kita adalah welfare democracy, ada lagi yang menyatakan kita menganut demokrasi kerakyatan.

Kalangan marhaenis menyatakan saat ini perlu sosio-demokrasi. Ada lagi merujuk pada model presidensial demokrasi, bahkan demokrasi parlementer.

Untuk saya saat ini belum dapat menjawab demokrasi model atau tipe apa yang kita anut. Yang pasti adalah demokrasi 50 plus 1!

Di era Bung Karno berkuasa, diberlakukan sistem demokrasi terpimpin yaitu yang di dalamnya harus ada Trilogi Resopim: revolusi, sosialisme, dan pimpinan.

Masalahnya saat ini apakah ada revolusi? Apakah tujuan dari revolusi tadi adalah masyarakat sosialis modern yang religius? Satu hal lagi apakah saat ini ada figur pimpinan yang mampu mempersatukan seluruh tenaga-tenaga revolusioner progresif? Semuanya belum terjawab secara tegas dan pasti. Semua kalangan masih meraba-raba.

Apalagi dengan adanya kejadian 6 Januari 2021, benar-benar demokrasi liberal ala barat mendapatkan tamparan keras. Di samping itu dengan adanya korban tewas dan luka-luka, patut dipertanyakan apakah Kepolisian Amerika Serikat sudah benar-benar melaksanakan HAM. Kepolisian AS berdalih semua itu terjadi karena mereka itu harus membela diri mengingat para perusuh yang menyerang sebagian membawa senjata api.

Apapun kejadiannya, yang jelas Trump menjadi biang keladi sehingga semuanya dapat terjadi. Jangankan mengenai pemilihan presiden, masalah Covid-19 pun Trump bertindak tak acuh. Bahkan untuk selalu memakai masker dia pun enggan. Secara demonstratif dia pernah membuang masker di depan staf Gedung Putih. Tidak heran jika rakyat Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump menjadi korban Covid-19 terbanyak di dunia. Bahkan Trump dan Ibu Negara AS pun tertular Covid-19.

Hikmah
Untuk kita di Indonesia, ada hikmah dan pelajaran yang dapat kita tarik dari kejadian penyerangan brutal ke Gedung Capitol di Washington DC. Pertama, peristiwa itu menegaskan bahwa demokrasi liberal yang dianut Amerika Serikat sudah tidak cocok lagi untuk situasi dunia saat ini. Jadi Indonesia tidak perlu mencontoh sistem tersebut.

Kedua, kondisi kapitalisme dunia dalam keadaan menurun karena krisis (I’m Niedergang) di mana sistem politiknya otomatis berubah menjadi fasistis, maka HAM tidak berlaku lagi. Anarcho Syndikalismelah yang berbicara yang sifatnya berdarah-darah dan chaotic.

Selanjutnya dalam kondisi ini nyawa manusia menjadi tidak berharga lagi. Tidak ada lagi kemanusiaan yang adil dan beradab seperti yang terdapat pada sila kedua Pancasila kita. Oleh sebab itu mudah-mudahan hal-hal yang terjadi di awal tahun 2021 di Amerika Serikat janganlah terjadi di negara kita.

Semoga semua kalangan terutama tokoh-tokoh masyarakat, pemuka-pemuka agama, pakar-pakar ilmu politik dan ekonomi, dapat memahami dan mengambil hikmah dari kejadian 6 Januari 2021 di Amerika Serikat dan bersatu padu untuk tetap mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945!


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS