Indonesia Bukan India, Pilkada Serentak 2020 Sudah Membuktikan
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Indonesia Bukan India, Pilkada Serentak 2020 Sudah Membuktikan

Opini: Kastorius Sinaga
Staf Khusus Menteri Dalam Negeri

Minggu, 2 Mei 2021 | 13:31 WIB

Kekacauan akibat “tsunami” Covid-19 di India kian merebak. Dilaporkan, masyarakat tak lagi kebagian tabung gas oksigen dan bahkan sampai tidak kebagian kayu untuk membakar mayat-mayat hingga pohon-pohon penyejuk kota ditebang untuk membuat api kremasi. Angka kasus baru di negara Asia Selatan ini per hari pada Rabu (28/4/2021) mencapai 360.927 kasus dan sekitar 3.645 orang meninggal dalam sehari.

“Tsunami” Covid-19 India pun telah mencemaskan dunia, termasuk Indonesia. Gelombang ‘tsunami” Covid-19 di India terjadi karena kombinasi beberapa faktor. Pertama, adanya varian baru Covid-19 yang lebih menular dan mematikan. Kedua, kegiatan massal tanpa protokol kesehatan yang ketat, yaitu kegiatan keagamaan, olahraga khususnya cricket sebagai national game yang stadionnya penuh sesak, dan kegiatan pemilihan kepala daerah (pilkada) di lima negara bagian, yaitu Bengal Barat, Tamil Nadu, Kerala, Assam, dan Puducherry dengan kampanye ribuan orang tanpa menjalankan protokol kesehatan.

Di utara negara bagian Bihar, kerumunan besar terjadi dalam kampanye politik menjelang pilkada. Rekaman video yang viral di media sosial memperlihatkanterjadi kerumunan, desak-desakan, dan hampir tidak ada orang yang tampak memakai masker.

Sejumlah dokter dan ahli virus menyebut pertemuan besar itu "tidak berperasaan" dan mengatakan bahwa rasa berpuas diri seperti itu dapat menghancurkan, karena virus menyebar lebih cepat. Ahli virologi Dr Shahid Jameel mengatakan, partai politik harus lebih bertanggung jawab dan mereka perlu mendidik kader mereka.

Kampanye dan arak-arakan politik tanpa protokol kesehatadi India menjadi pelengkap penyebab "badai sempurna" membuat gelombang kedua Covid-19 yang mematikan di negara tetangga Pakistan itu. Juru Bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tarik Jasarevic, Selasa (27/4/2021), mengingatkan agar India tidak menyalahkan varian baru virus corona sebagai satu-satunya penyebab “tsunami” Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah India secara keseluruhan dianggap gagal dalam menangani pandemi Covid-19 yang menyerang negara itu. Bahkan, beberapa pihak meminta agar Perdana Menteri Narendra Modi untuk mundur. Permintaan ini dilandasi oleh sikap PM Modi yang terlihat tidak peduli dengan penyebaran Covid-19.

Dalam sebuah kampanye yang dihadiri ribuan pendukungnya, Modi bahkan terlihat tidak mengenakan masker pada rapat umum kampanye partainya, Bharatiya Janata Party (BJP). Modi juga dianggap gagal dalam mengatasi mobilitas publik pada acara tradisi Kumbh Mela di Sungai Gangga. Saat pandemi yang masih meluas melanda negara itu, tradisi tersebut masih tetap dilakukan dengan mengumpulkan kerumunan sebanyak 5 juta orang.

India dan Indonesia sama-sama negara demokrasi, dengan populasi padat dan tingkat ekonomi relatif sama, dan baru saja melakukan hajatan politik, yaitu pilkada serentak di tengah pandemi Covid-19. Bahkan, pilkada serentak yang digelar di 270 daerah pada Desember 2020 dengan total 103 juta pemilih, telah dinobatkan sebagai “pemilu di tengah pandemi Covid-19” terbesar kedua di dunia setelah Pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Perbedaan antara India dan Indonesia di dalam menyelenggarakan pemilu di tengah pandemi Covid-19 adalah bahwa India gagal menerapkan protokol kesehatan secara disiplin, sehingga menimbulkan “tsunami” Covid-19. Sementara, Indonesia berhasil menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat berikut sanksi berat di semua tahapan pilkada, sehingga Pilkada 2020 tidak menimbulkan lonjakan kasus infeksi baru.

Pelaksanaan pilkada di Indonesia awalnya ditentang, bahkan banyak yang meminta agar hajatan politik daerah itu ditunda. Namun, Indonesia tetap melaksanakan dengan menetapkan syarat protokol kesehatan yang ketat; kampanye maksimal hanya boleh diikuti secara luring oleh 50 orang dan menerapkan 3M. Arak-arakan dan kerumunan massa dilarang dan pencoblosan sesuai waktu panggilan sehingga calon pemilih tidak membeludak di TPS pada hari pemilihan.

Hal itu berhasil dilaksanakan. Bahkan, karena penerapan protokol kesehatan yang ketat, pemilih merasa yakin aman dari Covid-19, sehingga partisipasi politik terbilang tinggi hingga mencapai 76%.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku dalam proses persiapan Pilkada ada sedikit kecemasan karena tidak ingin pilkada justru memicu potensi penyebaran Covid-19. Namun, pada akhirnya, lewat aturan dan pelaksanaan protokol kesehatan serta mobilisasi seluruh elemen di daerah, Pilkada Serentak 2020 berlangsung aman dari Covid-19.

Semua pihak mendukung, mulai dari penyelenggara pemilu, DPR, pemerintah pusat, pemda, Forkompimda, dan semua pemangku kepentingan lain, termasuk media massa. Dukungan juga datang dari tokoh-tokoh masyarakat, yang secara teratur memantau pelaksanaan pilkada yang taat protokol kesehatan.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan, partisipasi pemilih di Pilkada 2020 mencapai 76,13%. Anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengatakan, angka partisipasi itu menunjukkan pemilih Indonesia yang setia dan kooperatif terhadap agenda elektoral. Kondisi pandemi Covid-19, kata dia, ternyata tak menghalangi pemilih untuk mengalirkan suara karena ada protokol kesehatan yang ketat.

Dengan keberhasilan itu, pilkada di Indonesia mendapat apresiasi dari berbagai kalangan di tingkat nasional, bahkan internasional, salah satunya dari Amerika Serikat. Mendagri Tito Karnavian mengatakan, tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada 2020 mendapat apresiasi dari Duta Besar AS untuk Indonesia, Sung Y Kim. "Mereka (AS) menyampaikan selamat kepada Indonesia, karena selain tertib saat pemungutan suara juga saat kampanye, voters turnout ini luar biasa bagi mereka," kata Tito.

Lalu, walau sama-sama melaksanakan hajatan politik di tengah pandemi, kenapa India dan Indonesia berbeda. Di Indonesia, pilkada tidak menjadi ajang penularan Covid-19, sementara di India pemilihan kepala daerah menjadi ajang penularan yang sangat parah. Jawabannya adalah India lengah.

Hajatan politik di India tanpa dibarengi dengan protokol kesehatan yang ketat, tanpa intervensi, sehingga disiplin atas protokol kesehatan oleh masyarakat dan kontestan pemilu nyaris tak ada.

Lewat Pilkada 2020, Indonesia telah membuktikan bisa mengendalikan Covid-19 lewat disiplin masyarakat untuk melaksanakan 3M plus menghindari kerumunan. Tetapi, kita tetap tak boleh lengah seperti yang saat ini terjadi di India.

Ritual keagamaan, seperti mudik, jangan menjadi ajang penularan Covid-19 secara cepat. Sama dengan Pilkada 2020, di mana Kemdagri memobilisasi kepala daerah dan jajarannya, maka daerah harus bergerak cepat memakai pola pilkada itu agar sukses mengendalikan Covid-19 menjelang dan sesudah lebaran ini. Pelajaran kontras dari India jangan terjadi. Indonesia sudah relatif berhasil dalam pilkada, sementara India gagal.


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS