Rasialisme di AS
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Rasialisme di AS

Opini: Guntur Soekarno
Pemerhati masalah sosial

Senin, 7 Juni 2021 | 18:31 WIB

Dari berita-berita di media cetak maupun TV, kita mendapati telah terjadinya rasialisme, terutama terhadap ras Asia, di Amerika Serikat (AS). Walaupun kita tahu bahwa AS sudah lama dikenal sebagai negara paling demokratis di dunia, ternyata secara mengejutkan terjadi rasialisme yang mencoreng reputasi sebagai negara demokrasi terbesar. Jadi apa sebenarnya yang sedang terjadi di sana?

Seperti kita ketahui, saat ini yang memegang kekuasaan di AS adalah Partai Demokrat dengan presidennya, Joe Biden, dan wakilnya Kamala Harris, yang justru keturunan Asia. Kelihatannya aneh bin ajaib.

Akan tetapi, bila kita telusuri sejarah berdirinya AS, sejak dulu benih-benih rasialisme atau rasisme memang sudah ada. Hal itu berpuncak pada perang saudara Amerika Utara melawan Selatan di era Presiden Abraham Lincoln pada sekitar abad ke-19. Perbedaannya, ketika itu rasismenya berbentuk sikap anti terhadap warga Afrika Amerika (kulit hitam) yang sebagian besar menjadi budak di daerah Selatan.

Kondisi tersebut berbeda dengan sekarang. Saat ini yang menjadi sasaran adalah ras Asia, terutama keturunan Tionghoa, bahkan Indonesia. Satu hal yang membuat kita kaum patriotik geleng-geleng kepala merasa heran adalah melihat terjadinya gelombang pembelian senjata api termasuk oleh warga negara Indonesia (WNI), yang bahkan salah satunya adalah seorang wanita. Menurutnya, dengan membeli senjata api (pistol) merasa lebih percaya diri dan merasa lebih aman walaupun belum tentu menguasai secara benar cara menggunakannya.

Sebelum kita membahas lebih lanjut masalah rasisme tersebut, ada baiknya kita mengingat kembali pernyataan keras Presiden Iran Hassan Rouhani beberapa waktu yang lalu. Menurutnya, saat ini demokrasi Barat sudah dalam keadaan bobrok alias bangkrut. Di satu sisi, penyebab rasisme tadi karena bobroknya sistem demokrasi. Memang hal ini ada benarnya akan tetapi apakah hal tersebut (rasisme) hanya disebabkan bobroknya demokrasi Barat? Saya rasa tidak demikian.

Pengalaman Masa Lalu
Sangat beruntung pada tahun 1956, ketika itu masih di kelas 6 sekolah rakyat, saya diajak Bung Karno ke AS untuk kunjungan muhibah. Di Washington DC, kami menginap di Blair House, tempat tamu kenegaraan selalu menginap.

Waktu itu Bung Karno harus bertemu dengan Presiden Eisenhower di White House. Nyaris terjadi, katakanlah “insiden”, karena Bung Karno harus menunggu cukup lama di ruang tamu, sebelum Presiden AS tersebut turun dari lantai 2 untuk menemuinya. Sebelumnya, Bung Karno sempat mengultimatum protokol kepresidenan AS, jika dalam 15 menit Eisenhower tidak juga menemui Bung Karno, dia akan meninggalkan White House dan pertemuan dibatalkan.

Mendengar ultimatum tersebut, akhirnya Eisenhower segera menemui Bung Karno. Tapi apa mau dikata suasana sudah tidak lagi kondusif. Pertemuan tingkat tinggi yang direncanakan, akhirnya hanya diisi tanya jawab soal film dan bintang film Hollywood tanpa pembicaraan politik.

Ketika Bung Karno beserta rombongan mengunjungi New York, sambutan masyarakat di sana luar biasa di sepanjang jalan menuju hotel tempat menginap. Iring-iringan kendaraan di antara gedung-gedung pencakar langit mendapat siraman pita-pita kertas warna-warni dan tebaran confetti. Setibanya di Hotel Waldorf Astoria tempat menginap, penjagaan oleh polisi dan Secret Service kepresidenan sangat ketat. Hal ini jauh berbeda dengan di Washington DC.

Dalam hati saya bertanya, ada apa gerangan? Apalagi, di New York saya mendapatkan pengawalan satu tim khusus Secret Service yang dikomandoi Letnan Pol Joseph Edward Rosetti, anggota FBI untuk pengamanan presiden dan keluarganya.

Saat berkeliling New York, saya minta diantar ke kawasan Harlem, tempat permukiman warga kulit hitam (Afrika Amerika). Saya ingin memotret kehidupan warga di sana, kebetulan saya sudah mempunyai kamera Kodak Instamatic Baby Box).

Awalnya, permintaan tersebut ditolak Mr Rosetti dengan alasan di kawasan tersebut sedang terjadi kerusuhan rasisme yang telah membawa korban tewas dan luka-luka. Namun akhirnya permintaanku dikabulkan dengan syarat dilarang memotret. Tak hanya itu, berhenti atau turun dari mobil, bahkan membuka kaca mobil pun dilarang.

Rosetti juga menjelaskan bahwa saat itu, terutama di negara-negara bagian di selatan, sedang terjadi aksi rasialisme atau rasisme yang membuat jatuhnya korban-korban tewas. Aksi tersebut terutama yang dilakukan oleh kelompok Ku Klux Klan. Mendengar penjelasan tadi bulu kuduk berdiri alias merinding, apalagi mengingat masih ada acara perjalanan meninjau Grand Canyon di negara bagian Arizona. Sebab musabab terjadinya rasisme ketika itu juga tidak jelas. Ibarat api dalam sekam yang tiba-tiba saja berkobar-kobar.

Rasialisme di Era Soekarno
Indonesia, pada tahun 1960-an, sedang gencar-gencarnya melaksanakan revolusi di segala bidang, setelah Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Saat itu berlaku sistem demokrasi terpimpin, sehingga seluruh institusi pemerintah berada di bawah satu komando Presiden, termasuk dalam kebijakan ekonominya.

Pada kenyataannya, seluruh warga baik yang pribumi maupun yang nonpribumi, khususnya keturunan Tionghoa, tampak kompak dan rukun dalam melaksanakan program-program revolusi. Namun tiba-tiba, pada 10 Mei 1963 pecah kerusuhan rasialis yang bermula di kampus ITB Bandung. Penyebabnya amat sederhana, yaitu beberapa mahasiswa pribumi dan nonpribumi berebutan tempat parkir motor dan sepeda di kampus. Ketika itu saya baru saja menjadi mahasiswa ITB jurusan Teknik Mesin.

Akibatnya, timbul perkelahian antara mahasiswa pribumi melawan nonpribumi, yang kemudian merembet ke seluruh kampus dan seterusnya berkobar ke seluruh Kota Bandung. Saya yang kala itu masih “hijau” dalam hal politik praktis, ikut-ikutan dengan kawan-kawan satu jurusan melempari rumah-rumah, toko-toko milik warga keturunan Tionghoa di sekitar Jalan Ganesha, Dago, Pagar Gunung, dan lain sebagainya.

Setelah Bandung berkobar, kerusuhan rasialis merambah ke Cimahi, Cianjur, Sukabumi, dan akhirnya ke seluruh Jawa Barat, bahkan secara sporadis ke sejumlah wilayah di Indonesia. Pembakaran rumah-rumah, toko-toko, kemudian kendaraan-kendaraan milik warga keturunan Tionghoa saat itu tidak dapat dicegah lagi. Insiden ini berlangsung sampai beberapa hari. Bahkan Kodam Siliwangi agak kewalahan menghentikannya.

Ketika Bung Karno sebagai Presiden, Pemimpin Besar Revolusi, dan Panglima Tertinggi Angkatan Perang menyatakan tindakan rasialis tersebut adalah tindakan kontrarevolusi serta memerintahkan kepada segenap angkatan perang dan polisi agar menindak tegas dan menangkap para pelakunya, barulah keadaan dapat terkendali, terutama setelah pasukan Brimob dan Batalion Kujang II Kodam Siliwangi turun tangan.

Suasana Kota Bandung saat itu benar-benar seperti dalam keadaan perang. Mendengar adanya pernyataan dari Bung Karno, saya menjadi terkejut dan tidak habis pikir mengapa saya jadi ikut-ikutan bertindak rasialistis. Padahal, banyak sahabat saya yang keturunan Tionghoa.

Tanpa pikir panjang, saya segera “banting setir” menghubungi sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga di kawasan Ciumbuleuit, yang berada dalam keadaan bahaya agar mengungsi ke rumah saya, yang waktu itu dijaga ketat oleh kesatuan Brimob Detasemen Kawal Pribadi dan pasukan TNI AD dari Kodam Siliwangi.

Bila merenungkan apa sebab terjadinya tragedi rasialisme 10 Mei 1963, saya menyimpulkan ada dua sebab pokoknya. Pertama, bobroknya sistem demokrasi parlementer sebelum Dekrit 5 Juli 1959. Kedua, kesenjangan ekonomi antara warga pribumi dan nonpribumi, khususnya keturunan Tionghoa, yang mengendap seperti api dalam sekam.

Oleh sebab itu, saat ini, apalagi menghadapi Pilpres 2024, kita semua harus tetap waspada dan siaga agar hal-hal tersebut tidak terjadi lagi di kemudian hari. Untuk itu kita harus tetap berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 1945 sepanjang masa, dan tetap bersemboyan Dharma Eva Hato Hanti. Bersatu kita kuat, kita kuat karena bersatu!


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS