Dua Pelajaran dari Politisi Tujuh Zaman
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Dua Pelajaran dari Politisi Tujuh Zaman

Opini: Burhanuddin Muhtadi MA PhD
Pengajar Pascasarjana UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia.

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 14:25 WIB

Sudah cukup lama saya mendengar Pak Sabam Sirait, seorang politisi kawakan sekaligus pendiri Partai Demokrasi Indonesia (PDI), sakit keras. Namun tetap saja saya terhenyak ketika Kamis (30/9/2031) lalu saya dikabari istri atas berpulangnya Pak Sabam. Saya mengenal Pak Sabam cukup lama. Awal mulanya bertemu di beberapa stasiun televisi berita. Kami sama-sama diundang sebagai narasumber dalam ajang pamer cakap yang diadakan Metro TV atau JakTV..

Saya ingat pertama kali berjumpa Pak Sabam pada tahun 2011 di stasiun Metro TV di Kedoya. Seingat saya, kami berdua diminta membahas kasus penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, Banten. Tentu saya sudah mendengar rekam jejak dan jam terbang Pak Sabam sebagai politisi yang banyak makan asam garam. Ketika beliau menjadi Sekretaris Jenderal Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 1967-1973, saya bahkan belum lahir. Tetapi, senioritas beliau tidak membuatnya tinggi hati. Sembari menunggu acara dimulai, Pak Sabam menyapa saya di ruang tunggu. Tutur katanya halus, penampilannya sangat sederhana. Ia kerap memakai kemeja yang dibalut jaket kain yang agak lusuh.

Ketika acara tiba, ia melontarkan kritik yang tajam kepada pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan aparat yang lemah dalam menegakkan hukum dalam kasus penyerangan warga Ahmadiyah yang menyebabkan tiga Muslim Ahmadi meninggal dunia. Saya tahu Pak Sabam agak canggung mengeritik pelaku penyerangan yang nota bene terafiliasi dengan organisasi Islam yang kerap melakukan tindakan brutal.

Maka, tugas saya untuk melontarkan kritik keras terhadap —meminjam istilah Buya Syafi’i Maarif— para “preman berjubah” yang suka kerap main hakim sendiri. Saya menambahkan dalam bernegara, ayat-ayat konstitusi harus lebih dikedepankan ketimbang ayat-ayat kitab suci. Malam itu kami berdua tampil sebagai duet yang serasi dalam menguliti kegagalan negara dalam melindungi warganya.

Pada kesempatan yang lain saya berjumpa di stasiun JakTV. Kali ini kami diminta berbicara mengenai kabar yang berhembus terkait “tawaran” istana kepada PDI Perjuangan agar merapat dalam koalisi pendukung pemerintahan SBY. Kita tahu pada dua periode masa pemerintahan SBY, PDI Perjuangan memilih jalan sunyi sebagai partai oposisi. Belakangan saya baru tahu bahwa, sebagai politisi kawakan, Pak Sabam yang pertama kali bisa meyakinkan Megawati terjun ke dunia politik, beliau tegas di depan kamera meminta Ketua Umum Megawati menolak godaan untuk merapat ke istana. Di mata Pak Sabam, politik bukan sekadar instrumen mengejar manisnya kekuasaan, tapi juga sarana untuk menunjukkan konsistensi dan komitmen ideologis, bahkan pada saat harus berada di luar kekuasaan sekali pun.

Belakangan saya lebih mengenal sosok Pak Sabam, baik secara pribadi maupun diperantarai oleh putra sulungnya Maruarar Sirait dan menantunya, Putra Nababan. Pada 2013, ketika saya sedang menyelesaikan studi doktoral di Australian National University (ANU) di Canberra, saya dikontak oleh editor buku yang kelak diberi tajuk “Politik Itu Suci” yang didedikasikan untuk menapaktilasi jejak pemikiran dan praktik politik Sabam Sirait. Saya diwawancarai panjang lebar sebagai bahan untuk menulis buku tersebut. Setelah buku itu jadi, saya tersanjung testimoni saya mengenai sosok Pak Sabam dicetak di bagian sampul belakang bersama testimoni Megawati Soekarnoputri, Joko Widodo (Jokowi), Taufiq Kiemas dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Dari dua pertemuan di acara talkshow televisi di atas, saya memetik dua pelajaran penting dari Pak Sabam. Pertama, talkshow yang pertama mengajarkan politik adalah jalan suci menjaga pluralisme dan kemajemukan Indonesia. Inilah salah satu warisan penting Sabam Sirait. Ia tak pernah diam menyuarakan agar semua pihak menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Baginya, NKRI itu tidak taken for granted. Tidak ada jaminan NKRI akan bertahan jika politisi tidak berpikir dalam kerangka negarawan. Jika politisi hanya memikirkan ikhtiar elektoral lima tahunan, tanpa memikirkan apakah strategi politiknya membahayakan pilar kebangsaan, maka nasib NKRI yang akan dipertaruhkan. Karenanya, Pak Sabam akan mengritik keras siapapun yang mengejar kuasa dengan menggunakan politik identitas karena akan membahayakan konstruksi kebhinekaan kita yang dibangun dengan darah dan air mata.

Kedua, pada acara pamer cakap yang kedua di atas Pak Sabam sedang mendendangkan konsistensi ideologis dalam menjaga marwah perjuangan. Ketika Pak Sabam tegas menyarankan agar PDI Perjuangan menolak bujuk rayu masuk dalam pemerintahan, pada dasarnya beliau sedang mengajarkan pentingnya politik sebagai metode dalam menerjemahkan keyakinan ideologis meskipun berada di luar kekuasaan. Dalam kalimat yang disampaikan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dalam kata pengantar untuk buku “Politik Itu Suci” dikatakan, "Di tangan Bang Sabam, politik tidak sekadar alat untuk mengejar kekuasaan politik. Politik sekaligus mengandung kesiapan mental untuk tidak berada di panggung kekuasaan, selama itu dipilih sebagai konsekuensi atas pilihan terhadap jalan ideologi” (2013, xiv).

Pak Sabam mempunyai kredibilitas mengatakan demikian. Sebagai salah satu pendiri PDI, beliau bertahan dengan keyakinan ideologisnya bahwa Ketua Umum PDI yang sah adalah Megawati, dan karenanya tetap bertahan di belakang Megawati meski koleganya banyak yang memilih bergabung dengan kubu Soerjadi yang diakui legalitasnya oleh Rezim Orde Baru. Baginya, kalah dalam politik adalah persoalan biasa sepanjang kita bisa belajar dari kekalahan dan bangkit kembali.

Karena itulah, Pak Sabam percaya bahwa politik itu suci karena ia bisa menjadi media mengaktualisasikan keyakinan ideologis dengan cara yang beradab. Di tengah sinisme yang kerap dilontarkan banyak pihak terhadap politik, Pak Sabam tak pernah putus asa memberi teladan dalam berpolitik sembari terjun langsung di dunia yang kerap menjadi cibiran banyak orang. Pak Sabam terjun ke politik sejak muda dan mengalami tujuh masa pemerintahan sejak republik ini berdiri dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, SBY, hingga Jokowi.

Tak ada kata berhenti dalam kamus politik Sabam Sirait. Bahkan, pada 2019, beliau masih bertarung dalam pemilihan anggota DPD dan berhasil mewakili DPD dari Provinsi DKI Jakarta dengan torehan suara 626.618. Pak Sabam adalah petarung politik sekaligus pelintas batas tiga zaman, yakni dari masa Orde Lama, Orde Baru, sampai Reformasi. Politik, bagi Pak Sabam, adalah ruang aktualisasi dan pengabdian tanpa akhir.

Selamat jalan Pak Sabam! Semoga jejakmu abadi dan menginspirasi.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN



TAG POPULER

# Malala Yousafzai


# Tes PCR


# Pinjol Ilegal


# Molnupiravir


# Liga Champions



TERKINI
Krisis Energi Memukul Pemulihan Ekonomi Global

Krisis Energi Memukul Pemulihan Ekonomi Global

DUNIA | 10 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings