Indonesia dan Agenda COP-26
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Indonesia dan Agenda COP-26

Opini: Eko Sulistyo
Komisaris PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)

Selasa, 2 November 2021 | 18:30 WIB

Kehadiran Presiden Joko Widodo di Glasgow, Skotlandia, untuk menghadiri pertemuan COP-26 tentang Perubahan Iklim, selain memiliki arti strategis, juga memunculkan ekspektasi terhadap peran Indonesia dalam pembahasan isu-isu global. Apalagi posisi Indonesia saat ini sebagai Presiden G-20, yang merupakan kumpulan negara-negara berpendapatan tinggi di dunia. Indonesia diharapkan bisa menjadi pelopor dalam penerapan kebijakan pembangunan yang lebih hijau dan rendah emisi.

Tidak heran jika belakangan ini menuju COP-26, banyak pemimpin dunia memuji dan mengapresiasi kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam bidang iklim dan lingkungan. Seperti disampaikan John Kerry, utusan khusus Presiden AS untuk isu perubahan iklim, yang menyatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin pembangunan yang lebih hijau dan berperspektf iklim. Selain keberadaan hutannya, Indonesia juga memiliki potensi sumber energi terbarukan (EBT) terbesar di dunia, termasuk keberadaaan nikel.

Sebelumnya, apresiasi yang sama pernah disampaikan Presiden COP-26, Alok Sharma. Saat berkunjung ke Jakarta, Juni lalu, Sharma menawarkan kepemimpinan (Co-Chair) COP-26 pada Presiden Joko Widodo, dan menyebut Indonesia sebagai negara superpower di bidang penanggulangan iklim. Sharma terkesan dengan upaya dan kemajuan Indonesia di bidang iklim, khususnya dalam pengendalian laju deforestasi dan penanaman mangrove secara masif.

Target NDC
COP atau Conference of the Parties, merupakan Konferensi Para Pihak di bidang iklim di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Diikuti oleh negara-negara yang telah menandatangani Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Pertemuan sebelumnya adalah COP-21, yang diselenggarakan di Paris, Desember 2015, yang melahirkan Kesepakatan Paris atau Paris Agreement.

Indonesia telah memasukkan kesepakatan global tersebut dalam sistem hukum nasional melalui UU Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement. Sejak itu, Indonesia berkomitmen memberikan kontribusi terhadap lingkungan atau target NDC (Nationally Determined Contribution), yang menguraikan transisi Indonesia menuju masa depan rendah emisi dan berketahanan iklim. Kebijakan ini juga masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, melalui sektor energi, transportasi, kehutanan, industri dan pertanian.

Dalam target NDC Indonesia kedua yang telah direvisi (updated), penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) adalah tetap, seperti NDC pertama, yakni 29% pada 2030 atau 41% dengan dukungan internasional. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dalam siaran pers, 23 Maret 2021, dengan dukungan internasional, Indonesia memiliki skenario yang lebih ambisius melalui Low Carbon Compatible with Paris Agreement (LCCP).

Di sektor kehutanan dan penggunaan lahan, Indonesia diproyeksikan mendekati pada kondisi sebagai penyerap karbon neto pada 2030. Kemudian rencana pengurangan batubara secara bertahap hingga 60% pada 2050, dan menuju net zero emission pada 2070. Updated NDC ini untuk memperbarui informasi tentang visi pemerintah dan pembangunan jangka panjang nasional Indonesia, serta menjabarkan dan memerinci strategi implementasi tentang adaptasi dan peningkatan transparansi.

Selain itu, juga untuk menambah subjek baru dan penguatan komitmen dengan memasukkan laut, lahan basah, termasuk mangrove dan lahan gambut, serta kawasan permukiman manusia dalam skenario adaptasi. Rehabilitasi dan penanaman mangrove seluas 600 ribu hektare selama 2021-2024. Di bidang energi, Indonensia berencana menerapkan teknologi carbon captured storage/carbon capture utilization storage (CCS/CCUS), dan energi terbarukan dan bioenergi.

Dalam penerapan teknologi adaptasi iklim, sektor swasta atau bisnis akan memainkan peran penting pencapaian skenario tersebut. Dalam Energy Technology Perspectives 2020, Badan Energi Internasional (IEA), telah memetakan peluang teknologi untuk mencapai tujuan iklim internasional dan energi berkelanjutan. Pemerintah dapat menangkap peluang ini dengan memberikan dukungan kebijakan kepada swasta, perguruan tinggi, dan lembaga riset, untuk pengembangan teknologi tersebut.

Transisi Energi
Aspirasi yang mengemuka menjelang COP-26, bahwa setiap negara diharapkan menaikkan target NDC-nya. Berdasarkan perhitungan Climate Action Tracker (2021), target NDC saat ini belum cukup memadai untuk menahan kenaikan temperatur global, jauh dari target awal Kesepakatan Paris. Untuk mencapai itu, salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah melalui transisi energi dengan meningkatkan penggunaan energi dari EBT.

Di sektor kelistrikan, belum lama ini, pemerintah melalui Kementerian ESDM telah menerbitkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2020-2030, yang menjadi pedoman rencana kelistrikan untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dalam RUPTL ini, komposisi EBT untuk pembangkit diperkuat, menjadi 51,6%. Banyak kalangan yang menilai RUPTL kali ini lebih “hijau” untuk mencapai target bauran energi 23% di tahun 2025.

Guna menekan emisi karbon di Indonesia, pemerintah juga telah menetapkan pajak karbon untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) senilai Rp 30 per kilogram karbondioksida ekuivalen (CO2e) dalam UU Tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, berlaku mulai 1 April 2022. Dalam transisi energi di sektor kelistrikan, PLN telah menyusun peta jalan menuju netral karbon 2060, yang akan menghentikan PLTU pada 2056.

Namun, dengan krisis energi dan listrik yang melanda beberapa negara dan kawasan, situasi anomali terjadi ketika harga batubara tiba-tiba meroket tajam. Ketika harga batubara menguat, artinya meningkatkan ekspor, bisa menjadi alarm bahaya bagi konservasi lingkungan terkait gas rumah kaca (GRK). Ekspor batubara terbesar adalah ke Tiongkok dan India, yang kini dilanda krisis listrik dan energi.

Sekitar 54% dari seluruh ekspor batubara Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan PLTU di Tiongkok dan India. Tiongkok mengonsumsi separuh batubara dunia, tapi saat ini berada di bawah tekanan internasional untuk mengurangi penggunaan batubara dalam negeri. Situasi di negara itu hampir sama dengan Inggris, yang terpaksa mengoperasikan kembali PLTU batubara, ketika kini dilanda krisis energi.

Dengan tantangan yang ada dan disrupsi di sektor energi, Indonesia dapat menggunakan momentum COP-26 sebagai kesempatan meneguhkan tekad, mematok target lebih ambisius dalam NDC. Indonesia cukup memiliki sumber daya dalam memacu pembangunan ekonomi hijau yang bebas emisi, serta potensi tak terbatas pengembangan EBT. Dalam Global Energy Review 2021, IEA mencatat, permintaan energi terbarukan akan terus tumbuh.

Saat ini adalah waktu yang tepat mempercepat transisi energi yang lebih bersih dan green. Percepatan ini adalah salah satu solusi penting mengatasi situasi kompleks hari ini. Penyiapan infrastruktur dan membangun kesadaran masyarakat, bisa dibangun paralel.

Dari segi geografis dan iklim, Indonesia sangat strategis meraih banyak manfaat dari energi bersih, dan menjadi mercu suar energi terbarukan. Indonesia, salah satu negara yang memiliki potensi EBT tertinggi di planet ini, sehingga mampu menghasilkan energi berlipat ganda dari peak saat ini. Bila ditambah cadangan nikel, material utama baterai kendaraan listrik, potensi itu akan lebih besar lagi.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN



TAG POPULER

# Kakek Dihakimi Massa


# Alinea


# Omicron


# Covid-19


# Arsenal



TERKINI
Pemain Timnas Putri Indonesia Sempat Stres Setelah Kalah 0-18 dari Australia

Pemain Timnas Putri Indonesia Sempat Stres Setelah Kalah 0-18 dari Australia

BOLA | 3 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings