Logo BeritaSatu

Membedah Masalah Percabulan

Opini: Guntur Soekarno
Pemerhati masalah sosial

Kamis, 6 Januari 2022 | 15:13 WIB

Tak disangka dan tak dinyana, ternyata di sejumlah kalangan masyarakat telah terjadi peristiwa-peristiwa percabulan terhadap korban-korban di bawah umur yang dilakukan oleh oknum-oknum guru mengaji di berbagai daerah. Caranya juga bermacam-macam.

Setelah peristiwa-peristiwa tersebut terkuak, hebohlah seluruh masyarakat mulai dari pemerintah, tokoh wanita, pendidik, kalangan agama, cendekiawan, bahkan masyarakat. Mereka semua satu bahasa yakni mengutuk keras perbuatan oknum-oknum guru mengaji tadi dan menuntut agar mereka diganjar hukuman yang seberat-beratnya seperti hukuman kebiri bahkan hukuman mati.

Bagaimana sebaiknya sikap kita kaum patriotik menghadapi hal-hal tersebut? Yang jelas kita mengutuk keras kejadian tersebut. Namun, kita tidak dapat hanya mengetuk, melainkan harus menentukan sikap yang tegas dan jelas agar semua pihak mengetahui pendirian kita, termasuk cara mengatasinya agar kejadian-kejadian mesum tadi tidak terulang.

Sebelum kita berbicara masalah hukuman yang pantas dikenakan, perlu kita teliti lebih dahulu sebab utamanya sehingga hal-hal tersebut dapat terjadi. Apalagi sebagian besar oknum pelakunya adalah kalangan berpendidikan dan bukan masyarakat awam. Begitu pula perlu diingat masalah percabulan bukanlah berdasarkan sesuatu agama khususnya Islam.

Di kalangan agama apapun, percabulan atau hubungan seks yang tidak semestinya dapat saja terjadi dan memang sudah terjadi. Jadi, menurut penulis, hal tersebut terjadi karena masalah psikologis dan pendidikan.

Seperti yang diberitakan di media massa, percabulan telah terjadi justru di kalangan pendidikan tinggi atau universitas, baru kemudian di kalangan keagamaan dan seterusnya. Sangat mengherankan bahwa di kalangan orang-orang berpendidikan justru terjadi hubungan seks yang menyimpang.

Menurut hemat penulis, salah satu sebab utamanya adalah adanya masalah di dalam pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Sejauh yang penulis ketahui, sejak Indonesia masuk era Orde Baru, pendidikan budi pekerti dan indoktrinasi pembangunan watak dan jiwa bangsa tidak lagi dilaksanakan, baik di pendidikan umum maupun pendidikan tinggi. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, kedua hal tersebut tidak diajarkan hingga saat ini. Inilah sebab pokok mengapa percabulan atau hubungan seks menyimpang masih marak terjadi.

Modernisasi Islam di Dunia
Saat ini, negara-negara Islam sedang mengalami perubahan-perubahan yang signifikan ke arah yang lebih terbuka dan modern. Seperti apa yang terjadi di Mesir, Uni Emirat Arab, Turki, bahkan Arab Saudi. Khusus di Arab Saudi, modernisasi terjadi dipelopori oleh Putra Mahkota Muhammad bin Salman.

Peraturan-peraturan ortodoks di era Ibnu Saud diganti dengan peraturan-peraturan yang lebih modern, terbuka, dan masuk akal. Kemerdekaan roh, kemerdekaan hati, dan kemerdekaan pengetahuan saat ini berjalan pesat di sana.

Bagaimana perkembangan Islam di Indonesia? Adakah modernisasi di dalamnya?

Modernisasi Islam di Indonesia memang berjalan terutama bila kita mengikuti ceramah-ceramah para ustaz atau kiai terkemuka saat ini. Namun belum berjalan seperti apa yang terjadi di luar negeri, khususnya Arab Saudi.

Apa yang dipikirkan oleh Halide Edib Hanum beberapa dekade yang lalu rasanya masih berlaku untuk saat ini. Jikalau umat Islam tetap tidak mengindahkan pengajaran-pengajaran besar sejarahnya sendiri, jikalau pemuka-pemuka Islam di Indonesia tidak mengikuti jejaknya pemimpin-pemimpin besar di negeri lain, maka janganlah ada harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa yang hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini (Soekarno dalam Panji Islam, Di Bawah Panji Revolusi I).

Dari penuturan tersebut, perlulah pemuka-pemuka Islam di Indonesia mengadakan perubahan-perubahan dan modernisasi agar tidak ketinggalan zaman. Hal dimaksud termasuk juga pendidikan budi pekerti serta pembangunan watak dan jiwa bangsa agar aib yang sedang melanda umat akibat perbuatan oknum-oknum yang melakukan percabulan dapat sirna diempas topan pembaruan dan modernisasi.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN



TAG POPULER

# Jokowi Tak Salami Kapolri


# Banjir Jakarta


# MTsN 19 Jakarta


# Tersangka Tragedi Kanjuruhan


# Mamat Alkatiri


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Ini Alasan The Palace Central Park Usung Konsep <em>Megastore</em>

Ini Alasan The Palace Central Park Usung Konsep Megastore

LIFESTYLE | 9 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings