Logo BeritaSatu

Ada Gunfight ala OK Corral di Jakarta

Opini: Guntur Soekarno
Pemerhati masalah sosial

Selasa, 26 Juli 2022 | 09:33 WIB

Belum hilang kenikmatan makan ketupat gulai kambing Iduladha, tiba-tiba saja kita dikagetkan oleh kabar kejadian tembak-tembakan aparat Kepolisian di rumah Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo pada Jumat 8 Juli 2022. Peristiwa itu menewaskan Brigadir J alias Brigadir Nopriansah Yosua Hutabarat.

Bila kita perhatikan secara seksama, di tubuh Polri masih diwarnai hal-hal yang membuat kaum Patriotik mengelus dada. Persoalan oknum polisi yang diduga “masuk angin” dan korupsi masih terjadi.

Advertisement

Memang saat ini citra polisi sedang diuji, sejauh mana di internal Polri dapat berbenah diri agar dapat melindungi masyarakat. Selain itu juga bagaimana bisa memberi pelayanan masyarakat serta meneladani sikap kejujuran dari seorang Hoegeng Iman Santoso, yang terbukti kebal terhadap segala macam godaan, sogokan, maupun “masuk angin”.

Seperti apa yang diungkapkan secara guyon oleh Presiden ke-4 RI mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) RI ke 4 Gus Dur, yang mengatakan bahwa di Indonesia hanya ada 3 figur polisi yang jujur, yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng Iman Santoso. Benar-benar guyonan yang ironis.

Kembali pada masalah tembak-menembak yang menewaskan Brigadir J, Presiden Joko Widodo yang sebenarnya harus berkonsentrasi pada penanganan setan siluman Covid-19 dan persiapan G-20 di Bali, terpaksa harus juga turun tangan mengatasi aksi saling tembak di kalangan internal Kepolisian.

Insiden itu benar-benar mirip kejadian di kawasan OK Corral Amerika Serikat, di mana terjadi duel senjata antara bandit-bandit bersenjata melawan Deputy Wyatt Earp bersaudara dibantu oleh Doc Holliday. Kawanan bandit tersebut dapat dikalahkan oleh Earp cs walaupun jumlah mereka jauh lebih banyak. Sebagian tewas, sisanya ditangkap.

Kejadian di OK Corral tersebut sampai sekarang masih sangat terkenal dan diingat oleh warga Amerika Serikat sebagai legenda kehidupan di dunia Wild West yang dahulu tanpa aturan hukum.

Kejadian di kediaman Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo tampaknya ada kemiripan dengan yang terjadi di OK Corral, namun dengan versi dan latar belakang yang sangat jauh berbeda.

Penyebab Makro
Penyelidikan peristiwa tembak-tembakan antarpolisi di rumah Irjen Ferdy Sambo tidak akan penulis bahas secara mendetail mengingat proses penyelidikannya masih belum final. Tampaknya prosesnya akan berlangsung lama karena pihak keluarga korban merasa ada kejanggalan dalam kasus tersebut.

Hal yang akan penulis bahas adalah penyebab makro sehingga Polri banyak mengalami kejadian-kejadian yang membuat publik mengelus dada. Pasti ada akar masalah mendasar yang harus diselesaikan, karena tanpa menyelesaikan sebab-sebab mendasar, hal-hal pokok dan inti dari permasalahan, akan membuat peristiwa-peristiwa yang tidak selayaknya bisa terulang di kemudian hari.

Harus kita pahami terlebih dahulu bahwa anggota Polri beserta keluarganya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia pada umumnya. Bila saja masyarakat bangsa ini dalam keadaan “demam” maka polisi beserta keluarganya pasti akan merasakan hal yang sama.

“Demam” dimaksud bisa terjadi karena bangsa ini yang mempunyai kepribadian musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh tokoh yang dituakan, dipaksa harus menerima suatu sistem sosial politik transnasional yang sifatnya liberal-kapitalistik. Hal itu dibarengi adanya ideologi anarko-sindikalisme, kekiri-kirian radikal yang bersifat insureksi, berdarah-darah, yang ujungnya menimbulkan chaos.

Bangsa berjiwa musyawarah dipaksa menerima hal-hal yang diputuskan dengan sistem demokrasi 50% + 1 suara, termasuk pemilihan presiden dan wakilnya. Kondisi ini membuat bangsa ini, meminjam istilah Bung Karno, menjadi “kintir”, tak tentu ke mana arah tujuan.

Saat sekarang, bangsa ini telah kehilangan roh penghormatan kepada pahlawan-pahlawannya, kehilangan watak dan jiwa karena tidak ada indoktrinasi nation character building yang merupakan benteng utama dalam mempertahankan kemerdekaan.

Untuk dapat memerdekakan bangsa ini, maka syarat pertama adalah harus siap secara watak dan jiwanya untuk merdeka. Tanpa hal tadi tak mungkin Indonesia akan merdeka. Jadi untuk mengatasi segala macam hal aneh dalam Kepolisian, dapat diambil jalan pintas untuk mengadakan semacam terapi kejut (shock therapy) di tubuh Kepolisian. Konkretnya, melaksanakan usul Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, agar Hoegeng Iman Santoso diangkat dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Usulan yang sepenuhnya penulis dukung ini, pernah penulis utarakan secara terbuka pada webinar peluncuran buku yang ditulis oleh wartawan Suhartono yang berjudul “Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan”. Dalam kesempatan itu penulis juga meminta agar Ketua MPR dan Kapolri membawa usulan tersebut kepada Presiden Joko Widodo agar dapat menetapkannya mengingat pentingnya keputusan tadi demi perbaikan aparat Kepolisian.

Saat itu penulis berharap ketetapan tersebut dapat terlaksana pada hari Pahlawan 10 November 2021 akan tetapi ternyata tidak menjadi kenyataan. Untuk itu penulis mengharapkan di 10 November 2022 yang akan datang Hoegeng Iman Santoso dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Sambil terus-menerus memerangi setan siluman Covid-19 yang bervarian baru BA-4 dan BA-5 dan masih menghadapi masalah minyak goreng, rencana pindah ibukota negara, dan mempersiapkan G-20 di Bali, amatlah penting menurut penulis untuk tidak menunda lagi penetapan Hoegeng Iman Santoso sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November yang akan datang. Masih ada empat bulan lagi untuk menggodoknya masak-masak demi perbaikan internal aparat Kepolisian.

Kita kaum patriotik sangat berharap agar Kepolisian RI dapat menjadi pengayom dan pelayan masyarakat seperti ketika dipimpin oleh Hoegeng Iman Santoso, di mana aparat Kepolisian benar-benar bertubuh sehat dan kuat bebas dari “masuk angin”.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN



TAG POPULER

# Brigadir RR


# Bharada E


# Jokowi


# Brigadir J


# MU


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
AFPI-TékenAja! Hadirkan Tanda Tangan Elektronik

AFPI-TékenAja! Hadirkan Tanda Tangan Elektronik

EKONOMI | 8 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings