Logo BeritaSatu

Menilik Wawasan Dunia dan Buku PPKn

Opini: Deni Citra Damai Telaumbanua
Deni Citra Damai Telaumbanua merupakan dosen Agama dan Wawasan Dunia di Universitas Pelita Harapan.

Minggu, 7 Agustus 2022 | 13:05 WIB

Minggu lalu, jagat maya dihebohkan dengan beredarnya cuplikan foto buku pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) SMP kelas VII. Dalam cuitannya di Twitter, pada hari Senin (25/8/2022), akun dengan nama Sigit Pranoto, seorang imam Dehonian Katolik, menunjukkan kekeliruan mengenai ajaran Trinitas dalam agama Kristen dan Katolik di buku tersebut.

Kemudian direspon oleh Kemdikbud melalui akun @Kemdikbud_RI keesokan harinya, Selasa (26/8/2022) yang menyatakan menghentikan proses pencetakan versi lama, serta menarik versi elektronik buku tersebut, dan selanjutnya akan diganti dengan edisi revisi. Selain itu, pihak Kemdikbud juga menyatakan akan melibatkan pakar dari Konferensi Waligereja Indonesia dan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, pada pemutakhiran dan perbaikan ajaran agama Kristen Protestan dan Katolik yang akan dimuat dalam buku tersebut.

Peran Wawasan Dunia
Tidak ada seorangpun yang tidak memiliki wawasan dunia atau Worldview dalam Bahasa Inggris alias Weltanschauung dalam Bahasa Jerman. Sebab wawasan dunia adalah inti keberadaan kita, berupa kerangka keyakinan mendasar kita akan segala sesuatu (Ryken, 2013). Kurang lebih seperti mata kita. Sangat jarang kita berpikir bahwa kita melihat dengan mata, namun kita terus melihat, memandang dan beraktivitas dengan mata kita. Demikian halnya dengan wawasan dunia, entah kita sadari atau tidak, mampu menjelaskannya atau tidak, namun kita menggunakan bahkan menghidupinya.

Wawasan dunia kita, dipengaruhi oleh banyak aspek, seperti latar belakang keluarga kita, agama, pengalaman hidup, keadaan ekonomi, tingkat pendidikan, budaya, kebangsaan, komunitas bahasa, ciri-ciri fisiologis, keadaan psikologis, dan situasi historis. Kurang lebih seperti paman Andrew dalam serial Narnia yang menafsirkan penciptaan Narnia dari lagu Aslan dan melihat dunia yang indah dengan pandangan mengerikan.

Oleh CS Lewis, sang penulis novel menyimpulkan “Karena apa yang Anda lihat dan dengar banyak tergantung pada di mana Anda berdiri: juga tergantung pada orang seperti apa Anda” (The Magician’s Nephew, 1955). Demikianlah wawasan dunia kita terbentuk.

Wawasan dunia kita, banyak dipengaruhi oleh keyakinan dalam agama yang kita anut. Walau pada kenyataannya, seringkali hal tersebut tidak sejalan. Misalnya, wawasan dunia Kristen yang mempercayai Allah Tritunggal atau Trinitas, seperti yang diakui dan dituliskan dalam buku pelajaran tersebut. Trinitas secara umum dipahami dalam formula Tertulianus (155-230): “Tres personae, una substantia; Discreti non separate (tiga pribadi, satu hakikat; berbeda tak terpisah).”

Namun di kalangan Kristen sendiri, masih ada yang meyakini Allah Trinitas itu secara salah, misalnya Triteisme yang melihat Allah Trinitas sebagai tiga Allah. Sekte sesat Kollyridianisme yang dalam bentuk modern dikenal dengan Mariamites, yang menyembah bunda Maria dan memasukkanya menjadi salah satu bagian Tritunggal bersama Bapa dan Anak. Sabellianisme yang mempercayai Allah dengan tiga wujud dan bukan tiga pribadi. Monoteisme Absolut yang melihat Allah itu satu hakikat dan satu pribadi saja, dan lain-lain. Fenomena ketidaksejalanan wawasan dunia ini disebut sebagai konflik wawasan dunia (Nash, 2000).

Selain itu, wawasan dunia kita juga, sangat memengaruhi cara hidup kita, karena itu ia menjadi inti keberadaan kita. Filsuf James Herman Olthuis (1989) menyatakan bahwa wawasan dunia merupakan “Orientasi mendasar yang berasal dari hati …. yang kita pegang (secara sadar atau tidak sadar secara konsisten ataupun tidak) tentang suatu realitas yang menyediakan landasan di mana kita hidup, bergerak dan berada kini.” Cara hidup kita [pikiran, perasaan, kehendak, perkataan, tindakan] merupakan ekspresi dari wawasan dunia kita.

Kembali pada contoh ajaran tentang Allah Trinitas wawasan dunia Kristen. Pengajaran ini tidak hanya memengaruhi keyakinan kepada Tuhan, tetapi juga cara hidup kami para penganut-Nya. Misalnya, ajaran relasi perikoretik antara pribadi-pribadi Trinitas, dimana ketiga pribadi Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang mendiami satu hakikat Allah, saling bergerak mengisi yang lain, tanpa bercampur, terpisah, atau terbagi. Relasi ini digerakan oleh persekutuan yang saling mengasihi tanpa batas.

Menariknya, ketiga pribadi Allah ini juga memberi ruang dan merengkuh ciptaan. Dari sudut pandang relasi perikoretik ini, orang Kristen yang telah direngkuh Allah Tritunggal, sudah seharusnya memberi ruang bagi yang orang lain, mengasihi tanpa syarat (hukum terutama kedua), termasuk mereka yang berbeda, “bahkan sangat mungkin untuk melakukan tindakan perengkuhan agama-agama [lain]" (Adiprasetya, 2018).

Lalu bagaimana?
Secara teknis, kita pasti akan mempertanyakan proses penyusunan dan telaah buku PPKn ini di Kemendikbudristek, bagaimana kekeliruan seperti ini bisa lolos cetak? Dengan tidak terhindarkan juga, kita akan mempertanyakan ketelitian, kemampuan, dan riset para penulis serta penelaah dalam penulisan buku ini. Harus diakui, isu ini sangat sensitif, karena berkenaan dengan wawasan dunia Kristen Protestan dan Katolik. Namun, tidak ada gading yang tak retak, demikian juga dengan para penulis dan penelaah dalam menulis.

Dalam kerangka wawasan dunia, saya mengajukan beberapa hal dari kekeliruan ini. Pertama, para penulis dan penelaah buku pelajaran ini, tentu tidak terhindarkan dengan wawasan dunia mereka, karena itu, menghargai mereka dengan wawasan dunianya adalah keniscayaan yang seharusnya tidak boleh diabaikan. Apresiasi saya, karena hendak melihat para penulis dengan wawasan dunia mereka an sich. Bukan dengan wawasan dunia orang lain dalam karya mereka.

Kedua, tanpa mengabaikan ajuan pertama, maka sepatutnya buku ajar tentu harus melalui proses kaidah akademik yang ketat. Melibatkan berbagai pihak dan lembaga dengan berbagai wawasan dunia seperti keputusan yang di unggah @Kemdikbud_RI, adalah langkah yang sangat baik, dan sudah sepatutnya dilakukan di semua buku ajar. Berharap melalui kejadian ini, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbudristek, lebih teliti dan berhati-hati dalam penerbitan buku ajar, terlebih jika menyangkut agama dan wawasan dunia suatu kelompok.

Terakhir, buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan semua buku ajar di bangsa ini, seharusnya ditulis dengan Pancasila sebagai wawasan dunia kita bangsa Indonesia. Mengutip kalimat bung Karno pada sidang BPUPKI “…menurut pendapat saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, saudara-saudara, itulah harus weltanschauung (wawasan dunia) kita.” (kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id, 2022).

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN



TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Pantang Dilewatkan, Ini 4 Alasan Wajib Nonton <em>One Fight Night</em> 2

Pantang Dilewatkan, Ini 4 Alasan Wajib Nonton One Fight Night 2

SPORT | 9 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings