Logo BeritaSatu

Gairah Citayam Menganyam Kemerdekaan

Opini: Usep Setiawan
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden RI, Ketua Dewan Eksekutif IKA Antropologi Unpad Bandung

Jumat, 12 Agustus 2022 | 14:19 WIB

Jelang HUT Kemerdekaan ke-77 RI, “Citayam Fashion Week” (CFW) ramai diperbincangkan. Sepanjang Juli 2022, CFW meriuhkan berita di Indonesia, mengalahkan isu-isu penting lain dari kaum elite. Citayam sedang bergairah menganyam kemerdekaan.

CFW menjadi sebuah fenomena sosial bernuansa perlawanan, dari semula sebagai ajang peragaan busana unik dari muda-mudi Sudirman, Citayam, Bogor dan Depok, telah menyedot perhatian publik Indonesia. CFW menjadi fenomena sosial yang bisa ditilik dari berbagai sisi dan dimensi.

Fenomena CFW sebagai gejala sosial mewujudkan kemerdekaan berekspresi kaum muda sub-urban di tengah kemegahan metropolitan. CFW menjadi representasi “perlawanan” rakyat bawah terhadap budaya glamour kaum elite dan selebritas kota.

Para pelaku CFW, umumnya anak muda, pria atau wanita. Mereka berbaur dalam hiruk pikuk unjuk kebolehan berbusana dan bertingkah polah di muka umum. Beragam busana dikenakan. Baju berbagai bentuk, celana beraneka ragam, topi beda gaya, sepatu dan sandal lain jenis, dan potongan rambut tak biasa. Semuanya tumpah ruah di CFW, merdeka mengekspresikan gaya busananya. Mereka suka cita, tampak bahagia.

Perlawanan Diam-diam
Pemerintah memperlakukan CFW sebagai gangguan bagi ketertiban umum dan sumber kemacetan jalan. CFW memicu kerumunan yang membahayakan, karena Covid-19 belum berlalu. Opsi yang ditawarkan Pemprov DKI Jakarta adalah relokasi CFW dari Sudirman - Dukuh Atas ke pusat pertokoan Sarinah. Tawaran ini ditolak halus warga CFW.

Dalam beberapa wawancara media, pelaku CFW berterima kasih kepada pemerintah yang sudah “repot-repot” mau memindahkan lokasi CFW. Tapi warga lebih memilih tetap melakukannya di lokasi sama, yakni di Dukuh Atas. Suatu lokasi yang mudah diakses warga SCBD dan sekitarnya karena lokasinya tak jauh dari stasiun KRL.

Penolakan halus atas tawaran ini bisa dibaca sebagai “perlawanan” kultural warga terhadap “penertiban” kreativitas dan inovasi yang ditampilkan warga secara spontan. Warga CFW menunjukkan, kreativitas itu tak bisa dibatasi. Jika dipindah lokasinya, makna CFW pun tercerabut dari akarnya. Di sinilah substansi perlawanan yang ditunjukkan warga kepada dunia. Jika CFW dipindah, berarti “membunuh” CFW.

Penolakan warga terhadap ide pemindahan lokasi fashion show menjadi bukti begitu kenyalnya resistensi masyarakat. Ekspresi penolakan yang disampaikan santun dan santai menjadi indikator kelenturan dan keluwesan budaya masyarakat bawah dalam merespons kebijakan pemerintah. Penolakan diam-diam ini menandakan masih kuatnya energi demokrasi sejati di genggaman rakyat.

Menurut teori resistensi James C Scott, perlawanan bisa diwujudkan dalam dua bentuk. Pertama, perlawanan terbuka (public transcript) di depan banyak orang. Kedua, perlawanan tertutup (hidden transcript) atau di luar panggung. CFW melawan dengan menghibur.

Lalu, bagaimana sebaiknya memandang CFW agar senafas dengan semangat merdeka menjelang HUT Kemerdekaan RI?

Sosio-Antropologis
Secara sosio-antropologis, fenomena CFW dapat dipandang sebagai wujud kreativitas dan inovasi spontan warga yang keseharian hidup di sub-urban dari kota metropolitan Jakarta. Mengenakan busana unik itu hak asasi yang penting dihargai. Menampilkan busana menarik di zebra cross secara terbuka adalah bagian dari kemerdekaan.

Semua pakaian yang dikenakan warga CFW adalah bagian karya budaya masyarakat. Kebudayaan sebagai ekspresi karsa dan karya manusia, apapun bentuknya mestilah merupakan respons terhadap lingkungannya. Pakaian sebagai produk budaya kadang terasa aneh bagi yang melihatnya, secara esensi merupakan bentuk inovasi yang menjulang jauh ke depan.

CFW adalah perlawanan warga pinggiran kota yang umumnya berekonomi lemah. Perlawanan budaya yang ditampilkan menohok kemapanan dan menikam kejumudan masyarakat umum dalam berpakaian, berpenampilan, dan berperilaku di muka umum. CFW menjadi perlawanan diam-diam si miskin melawan kemewahan.

Muda-mudi dan warga yang tampil di CFW umumnya haus perhatian dan rindu kasih sayang. Ketika perhatian publik begitu besar kepada mereka, hal ini membuat adrenalin warga CFW meningkat. Gemuruh di dada warga CFW meluap ketika peristiwa yang dipertontonkan berhasil menyedot mata publik. Sorotan media massa membanggakan mereka.

CFW jadi alarm kencang bagi elite ekonomi-politik yang bergelimang kemewahan. Fenomena CFW menjadi pengingat, masyarakat di bawah yang hidup dalam ketidakpastian namun penuh kreativitas dan inovasi. CFW adalah warning bahwa kaum miskin bersiap berontak merebut simpati publik.

Banjir simpati kepada pelaku CFW menjadi indikator “sudah benarnya” jalan tempuh pelaku CFW. Dukungan publik yang luas menjadi modal dasar bagi kalangan bawah dari struktur sosial masyarakat untuk terus mengkritisi kegamangan kalangan atas yang gemerlap dan menyilaukan.

Dari kasus Citayam yang bergairah dalam menganyam kemerdekaan di jalanan, kita belajar memahami fenomena sosial yang berdenyut di masyarakat. Setiap fenomena sosial dapat berimplikasi pada perubahan politik dan ekonomi secara lebih luas. Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-77. Merdeka!

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

BAGIKAN



TAG POPULER

# Kevin Sanjaya


# Es Teh Indonesia


# Anies Baswedan


# Pertalite Boros


# Ketiak Basah


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Pantang Dilewatkan, Ini 4 Alasan Wajib Nonton <em>One Fight Night</em> 2

Pantang Dilewatkan, Ini 4 Alasan Wajib Nonton One Fight Night 2

SPORT | 7 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings