Logo BeritaSatu

Apakah Pantas Seorang Jokowi Jadi Cawapres?

Opini: Guntur Soekarno
Pemerhati masalah sosial

Senin, 31 Oktober 2022 | 18:02 WIB

Setelah berbagai kalangan ribut-ribut mengajukan ide agar Jokowi menjadi Presiden untuk 3 periode, yang jelas-jelas hal tersebut melanggar konstitusi, ide tersebut ditolak di berbagai kesempatan oleh Jokowi. Karena, yang bersangkutan berpegang teguh kepada konstitusi yang membatasi jabatan Presiden hanya 2 periode.

Kini, timbul lagi adanya pemikiran, yang untuk penulis kurang jelas dari mana datangnya, yang ujung-ujungnya menghendaki agar pada Pilpres 2024 Jokowi di dapuk menjadi calon wakil presiden (cawapres).

Menurut hemat penulis, seluruh kaum Patriotik Soekarnois pastinya akan menolak ide aneh tersebut, karena menurut hemat mereka Jokowi dengan prestasinya dan keberhasilannya yang menonjol dalam tugas sebagai seorang Presiden tidak elok bila harus didegradasi jabatannya hanya sebagai wakil presiden.

Bukankah beberapa kalangan, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sudah mengajukan ketua umumnya sebagai cawapres pada 2024? Belum lagi kalangan-kalangan lain yang masih menunggu angin atau wait and see dalam menentukan siapa calon mereka pada 2024, termasuk partai terbesar saat ini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sebagai eksponen kaum Patriotik Soekarnois, penulis berpendapat sebaiknya Jokowi memegang jabatan lain yang lebih strategis. Misalnya, aktif di dalam partai PDIP, di mana yang bersangkutan selama ini adalah petugas partai. Mengenai apa jabatannya, dapat diputuskan di dalam kongres partai yang akan datang.

Dalam menghadapi era geopolitik dan geostrategis, pada masa mendatang hari depan umat manusia tidak lagi berada di “Ibu Pertiwi” melainkan di “Bapak Angkasa” atau ruang angkasa. Maka, untuk menghadapi kondisi tersebut, diperlukan pemimpin-pemimpin yang muda usia namun sarat dengan pengalaman serta secara fisik dan mental kuat menghadapi tekanan-tekanan, kondisi-kondisi politik, sosial, budaya, juga ekonomi yang pastinya akan menguras energi yang bersangkutan secara maksimal.

Dalam hal ini kekuatan mental saja tidak cukup bila tidak dibarengi dengan kekuatan fisik yang prima. Apalagi di tahun 2024 tidak ada jaminan bahwa setan siluman Covid-19 sudah lenyap.

Presiden Usia Muda di Era “Bapak Angkasa”
Saat ini, hampir seluruh mahawikan-mahawikan; sarjana-sarjana; kaum cerdik pandai sedunia, sepakat bahwa masa depan umat manusia tidak lagi di daratan atau lautan planet Bumi, melainkan berada di ruang angkasa, baik di planet-planet maupun bintang-bintang di luar Galaksi Bima Sakti.

Planet Mars, Jupiter juga Venus diprediksi akan menjadi pusat-pusat koloni manusia di luar angkasa.

Menghadapi era tersebut, yang penuh dengan tantangan di bidang poleksosbud apalagi bila koloni-koloni manusia sudah terwujud di planet-planet dan bintang-bintang nun jauh di sana, maka secara alamiah dibutuhkan seorang kepala negara; kepala pemerintahan apakah raja, kaisar, presiden, perdana menteri, pendek kata kepala pemerintahan yang muda usia, tentunya yang secara mental dan fisik memenuhi persyaratan-persyaratan.

Kaum anti-Patriotik Soekarnois pastinya akan mencibir sinis bahkan menolak adanya gagasan ini, karena mereka berpendapat pembatasan usia bagi presiden pada 2024 adalah bertentangan dengan demokrasi dan konstitusi. Untuk diketahui bahwa Bung Karno menjadi Presiden RI pertama pada usianya yang ke-44 tahun.

Bagi mereka, salah satu contohnya adalah Mahathir Muhammad yang mendapat julukan “Sukarno Kecil” dari Malaysia. Begitu juga dengan Nelson Mandela dari Afrika Selatan yang menjadi presiden dalam usia yang lanjut. Pendapat mereka ada benarnya juga akan tetapi satu hal yang dilupakan yaitu 2024 adalah era “Bapak Angkasa”, era ruang angkasa, era manusia membuat koloni-koloni di Bulan, Mars, Jupiter, Venus, dan lain-lain.

Di mana logikanya seorang Presiden yang usia lanjut dapat ke ruang angkasa, ke stasiun-stasiun ruang angkasa Tiangong, misalnya milik RRC, atau MIR milik Rusia? Belum lagi bila perlu mengadakan sidak ke koloni astronot-astronot Amerika Serikat atau Taikonot-Taikonot RRT di Bulan?

Di dalam misi wisata angkasa luar dari konglomerat Amerika Serikat, Elon Musk dengan menggunakan roket SpaceX memang ada pesertanya yang berusia di atas 70 tahun. Hal ini adalah suatu pengecualian mengingat tidak semua negara dapat melakukannya karena biayanya yang sangat luar biasa tingginya. Untuk memiliki tiket wisata tersebut diperlukan dana triliunan rupiah, di mana tidak semua konglomerat, kapitalis-kapitalis, dapat membelinya apalagi masyarakat biasa.

Sejauh yang penulis ketahui, saat ini NASA sedang berusaha mati-matian untuk membuat stasiun ruang angkasa melalui projek GATEWAY. Kapan rampungnya proyek ini, sejauh ini belum ada penjelasan resmi dari NASA. Sementara, Indonesia janganlah bermimpi untuk turut dalam perlombaan menguasai ruang angkasa mengingat sampai dengan saat ini di era reformasi belum ada satu program yang jelas dari pemerintah, khususnya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang di dalamnya terdapat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), yang di era pemerintahan Bung Karno menangani proyek-proyek yang berhubungan dengan ruang angkasa bahkan UFO (Unidentified Flying Object).

Sangat disayangkan terjadinya set back dalam penanganan masalah ruang angkasa oleh pemerintah, yang di era Bung Karno Indonesia sudah berhasil meluncurkan roket ruang angkasa yang diberi nama KARTIKA dan mempunyai instalasi peluncuran roket di Pameungpeuk, di selatan Jawa Barat. Saat ini, kita paling banter dapat membuat roket rakitan buatan Jepang KAPPA yang jangkauan jelajahnya tidak mencapai statosfer (ruang angkasa).

Front Persatuan Nasional Patriotik
Kembali ke masalah Jokowi sebagai cawapres 2024, penulis sebagai eksponen kaum Patriotik Soekarnois telah memberikan penjelasan, sebaiknya Jokowi tidak perlu menjadi cawapres pada Pilpres 2024. Tentu dengan alasan-alasan yang sudah penulis kemukakan di atas.

Sebaiknya, yang bersangkutan tetap aktif berpolitik praktis, namun tidak sebagai wakil presiden melainkan jabatan lain yang penting dan strategis, misalnya di PDIP, seperti yang telah diuraikan di atas. Menurut hemat penulis, dalam menghadapi abad “Bapak Angkasa” abad ruang angkasa saat ini, Indonesia memerlukan sebuah wadah untuk mempersatukan sepak terjang seluruh kaum Patriotik Soekarnois, yaitu sebuah Front Persatuan Nasional Patriotik, sebagai kelanjutan dari adanya Front Persatuan Nasional Revolusioner di era Demokrasi Terpimpin.

Peran wadah persatuan ini sangat penting dalam melaksanakan perlawanan terhadap usaha-usaha kembalinya kaum neokolonialisme, imperialisme, juga kapitalisme yang saat ini, menurut Bung Karno, belum mati namun dalam keadaan sekarat. Not yet death but dying.

Front Persatuan ini bila terwujud, mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, harus mempunyai pimpinan yang tangguh dan berpengalaman. Dalam hal ini, tokoh Jokowi pastinya sangat berkompeten bila saja bersedia duduk sebagai pucuk pimpinan Front Persatuan tersebut.

Jadi, bagi kita kaum Patriotik Soekarnois, ada dua opsi yang dapat dipertimbangkan oleh Jokowi tinimbang harus menjadi wakil presiden pada 2024. Namun, hal tersebut sepenuhnya terletak pada figur Jokowi sendiri untuk menyetujui atau menolaknya.

Mudah-mudahan, by the grace of Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Jokowi will make the whole Nation United!

Saksikan live streaming program-program BTV di sini

BAGIKAN



TAG POPULER

# Penumpang Air Asia Diseret


# Tenda Sakinah


# Piala Dunia 2022


# Paspampres Perkosa Kostrad


# Sidang Ferdy Sambo


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Berdiri di Meja Saat Jumpa Pers, Jarred Brooks Jadi Musuh Warga Filipina

Berdiri di Meja Saat Jumpa Pers, Jarred Brooks Jadi Musuh Warga Filipina

SPORT | 40 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE