Logo BeritaSatu

Kepemimpinan dan Natal

Opini: Deni Citra Damai Telaumbanua
Deni Citra Damai Telaumbanua merupakan dosen Agama dan Wawasan Dunia di Universitas Pelita Harapan.

Minggu, 25 Desember 2022 | 15:09 WIB

Tahun 2022 tinggal menghitung hari, saat melihat ke belakang, penulis melihat ada tiga “pemimpin para pemimpin” di negeri ini yang tersandung kasus tertentu, dan harus berurusan dengan masalah hukum. Berkaca dari hal ini, pada momen hari raya Natal tahun ini, penulis mengajukan, bagaimana seharusnya seorang pemimpin, memimpin berdasarkan peristiwa Natal.

Pemimpin Para Pemimpin
Pemimpin pertama yang penulis soroti adalah Ferdy Sambo, S.H., S.I.K., M.H. Kasus ini cukup familiar di telinga masyarakat oleh karena masih dalam proses sidang yang berjilid-jilid. Ferdy Sambo ditetapkan jadi tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap Brigadir J. pada tanggal 9 Agustus 2022, yang diumumkan langsung oleh Kapolri, Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si.

Advertisement

Saat ditetapkan jadi tersangka, Ferdy Sambo masih anggota aktif Polri, dengan pangkat Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol.) dengan dua bintang emas di pundaknya. Karena kasus ini, ia pertama-tama dimutasi menjadi anggota dan bagian dari Pelayanan Markas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Yanma Polri), yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (Kadiv Propam Polri), lalu akhirnya ia diberhentikan secara tidak hormat berdasarkan putusan sidang kode etik Polri nomor NIP/74/VIII/2022 tanggal 26 Agustus 2022. Walau sempat mengajukan banding, namun ditolak dan akhirnya ia tetap diberhentikan dari institusi Polri.

Berdasarkan laman resmi Polri, Propam adalah salah satu divisi dari lima Divisi yang ada di Mabes Polisi, yang bertugas membina dan menyelenggarakan fungsi pertanggungjawaban profesi dan pengamanan internal termasuk penegakan disiplin dan ketertiban di lingkungan Polri dan pelayanan pengaduan masyarakat tentang adanya penyimpangan tindakan anggota/PNS Polri.

Jika Ferdy Sambo adalah Kepala Divisi ini saat itu, maka seharusnya ia adalah polisinya para polisi. Kenyataannya adalah kebalikannya, ia justru tidak menjadi polisi bagi mereka yang ia pimpin.

Tokoh kedua yang penulis soroti adalah rektor Universitas Negeri Lampung (Unila) periode 2020-2024, Prof. Dr. Karomani, M.Si., ditetapkan sebagai tersangka kasus suap proses penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri UNILA, setelah tertangkap tangan bersama beberapa orang lainnya, dalam OTT yang dilakukan oleh KPK pada tanggal 19 Agustus 2022.

Berdasarkan laman resmi Unila, Prof. Karomani adalah Guru Besar Ilmu Komunikasi sejak tahun 2015 dan menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 2007.

Menurut Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 1 butir 4 tertulis “Guru besar atau profesor yang selanjutnya disebut profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.” Maka sangat disayangkan, jika profesor, gurunya para guru, dosen para dosen di lingkungan pendidikan, justru harus tersandung masalah hukum.

Tokoh ketiga, adalah dua Hakim Agung Republik Indonesia, yakni Sudrajad Dimyati, S.H., M.H., yang ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus suap dalam kasus KSP Intidana pada tanggal 23 September 2022, setelah sehari sebelumnya (22/09/22) terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK

Serta Dr. Gazalba Saleh, S.H., M.H., juga kemudian menjadi tersangka (28/11/2022) dalam kasus yang sama

Menurut Undang-undang No. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Hakim Agung adalah hakim pada Mahkamah Agung (pasal 1 butir 6), dimana (Pasal 20) Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi dari badan peradilan yang berada di dalam keempat lingkungan peradilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, yaitu lingkungan peradilan umum, agama, militer, dan tata usaha negara.

Dengan kekuasaan tersebut, tidak mengherankan jika hakim [Agung] sering disebut sebagai “wakil Tuhan” dan mendapat panggilan “Yang Mulia” di ruang pengadilan. Namun, bagaimana jika para “Wakil Tuhan” ini harus berurusan dengan peradilan itu sendiri, seperti pada kasus di atas? Bagaimana masyarakat memercayai keadilan itu sendiri? Miris.

Peristiwa Natal
Natal merupakan kata serapan dari bahasa Portugis yang berarti hari kelahiran. Agama Kristen [Katolik dan Protestan] menggunakan kata tersebut untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus, yang diperingati setiap tanggal 25 Desember.

Menurut keyakinan agama Kristen, pada saat Natal, pribadi kedua Allah Tritunggal, yaitu Sang Anak, yang dalam kekalan dipanggil Logos/Firman (Yoh. 1:1-3), mengambil rupa manusia dengan lahir dari seorang perawan bernama Maria, yang kemudian dinamai Yesus (Mat. 1:21, Luk 1:31).

Ia yang dalam kekekalan berwujud roh, harus mengambil rupa manusia, supaya bisa menyelamatkan manusia dari dosa dan hukuman dosa mereka (Luk. 19:10, Yoh. 3:16, 10:10, Gal. 4:4-5). Peristiwa ini biasa dikenal dengan istilah inkarnasi, dari bahasa Latin: in – di dalam, dan carnis – daging, di dalam daging.

Sang Anak (Logos/Firman) yang berinkarnasi, tidak tetiba, melainkan telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya, lalu digenapi oleh Yesus secara tepat (Lihat Kej. 3:15, Yes. 7:14, 9:7, Yer. 31:15, Hos. 11:1, Mik. 5:1). Pada saat inkarnasi, Sang Logos/Firman dibawa dan disertai oleh Sang Roh Kudus (pribadi ketiga) menjadi janin di dalam rahim Maria, dengan menambahkan kepada pribadi-Nya hakikat manusia dari Maria (Luk. 1:35, Yoh. 1:14).

Dengan demikian, Yesus yang kelahirannya dirayakan di hari Natal adalah sepenuh-penuhnya Allah dan sepenuh-penuhnya manusia (vere Deus, vere homo), karena memiliki dua hakikat, yaitu hakikat Allah dan hakikat manusia.

Seperti yang disebutkan dalam pengakuan Iman Athanasius “… Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Anak Allah, adalah Allah dan manusia. Dia adalah Allah, diperanakkan dari zat Bapa sebelum zaman-zaman, dan Dia adalah manusia, dilahirkan dari zat ibu-Nya dalam zaman. Allah yang sempurna, manusia yang sempurna, terdiri atas jiwa yang berakal budi dan daging manusiawi; setara dengan Sang Bapa menurut ke-Allahan-Nya, lebih rendah dari Sang Bapa menurut kemanusiaan.

Walaupun Dia adalah Allah dan manusia, namun Dia bukan dua, melainkan satu Kristus. Dia adalah satu bukan karena perubahahan ke-Allahan menjadi daging, melainkan karena penerimaan kemanusiaan kepada Allah. Dia adalah satu, bukan karena percampuran zat, melainkan karena kesatuan oknum.”

Karena keadaan-Nya ini, Rasul Yohanes menuliskan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita …” (Yoh. 1:14). Kata “diam” dalam bahasa Yunani skeno’o lebih tepat diterjemahkan tinggal, menetap, seperti seorang yang membentangkan tendanya untuk tinggal berkemah. Dengan demikian, Yesus bukan manusia jadi-jadian, melainkan sepenuh-penuhnya manusia yang tinggal menetap seperti kita, seperti dikatakan Paus Fransiskus “He wants to dwell with us, he wants to dwell in us, not to remain distant” ini yang Dia lakukan bagi manusia “it expresses a total sharing, a great intimacy” (Pope Francis, 2022).

Kepemimpinan dari Natal
Apa yang telah dilakukan oleh Yesus dalam inkarnasi adalah teladan sejati bagi manusia. Yakub B. Susabda sangat tepat ketika menuliskan “Di dalam Yesus Kristus, Allah yang tak terhampiri dan tak terpahami menjadi Allah yang dapat dilihat, bahkan diraba dengan tangan manusia. Ini adalah contoh dan teladan sempurna…” (Susabda, 2020).

Berikut tiga hal praktis yang penulis usulkan bagi kepemimpinan dari kisah Natal, sebagai teladan. Pertama, akses. Ketika sebagian besar pemimpin membuat dirinya eksklusif, susah dihampiri dan dipagari dengan banyak birokrasi, Yesus yang berinkarnasi, kebalikannya. Ia yang adalah “… Allah dalam waktu-Nya yang tak terbatas (kairos) menyatu dengan Incarnated Logos, yaitu Allah yang hadir bahkan menjadi bagian dari waktu ciptaan-Nya (kronos)…” (Susabda, 2020).

Yesus membuat membuat Allah dapat diakses oleh manusia. Kitab suci mencatat, para Gembala dari kalangan terabaikan, serta Orang Majus dari kalangan terpelajar, diberi akses oleh Yesus kepada-Nya pada kisah Natal.

Kedua, biasa. Meskipun kelahiran Yesus adalah peristiwa extra ordinary, namun Ia datang dalam ordinary life. Ia dikandung oleh seorang perempuan, lahir di penginapan, dibesarkan dalam keluarga, dan hidup dalam lingkungan masyarakat. Pengertian ini yang dimaksud quotidian leadership (kepemimpinan keseharian) oleh Joas Adiprasetya.

Berangkat dari persahabat yang aktual dan bukan simbolis, maka seorang pemimpin diteguhkan melalui hubungan dan interaksi kesehariannya dengan yang dipimpin (Adiprasetya, 2018). Dengan merupa manusia, bagi Yesus orang lain adalah sesama yang setara, dengan itulah Ia menjadi pemimpin-sahabat bagi mereka. Tidak seperti yang dipraktikkan oleh para pemimpin dalam kasus tahun ini, yang melihat orang lain sebagai objek yang dieksploitasi untuk kepentingan mereka.

Ketiga, pengurbanan. Tetap sebagai Allah dalam keadaan sebagai manusia yang terbatas, merupakan “penderitaan seumur hidup” bagi Yesus selama inkarnasi (Berkhof, 2008). Tiap-tiap hari kehidupan-Nya, diarahkan untuk satu tujuan, yaitu Kalvari. Karena sesungguhnya Ia lahir untuk mati (born to die). Hidup-Nya selalu diarahkan untuk “mati” bagi orang lain, untuk kehidupan yang terbaik bagi mereka. Puncaknya adalah mendamaikan mereka dengan Allah. Alih-alih mengambil hidup orang lain untuk diri-Nya seperti pada kasus para pemimpin tahun ini, Yesus justru memberikan hidupnya bagi orang lain.

Akhir Kata
Yesus yang “blusukan” bahkan berkemah di antara umat-Nya, adalah teladan sejati bagi kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya berada di ketinggian tahta kepemimpinan, lalu melihat orang lain dari kejauhan, lebih rendah, bahkan menjadi pemimpin tirani. Kita mendamba pemimpin yang berdiam dan merupa mereka, itulah yang dipraktikkan Yesus pada peristiwa Natal.

Selamat Natal 2022

Saksikan live streaming program-program BTV di sini

BAGIKAN



TAG POPULER

# Pleidoi Ferdy Sambo


# Serial Killer


# RUU Kesehatan


# Insiden Lion Air


# Biaya Haji 2023


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Terkait Barang yang Hilang Dicuri, Ashanty: Tolong Dikembalikan!

Terkait Barang yang Hilang Dicuri, Ashanty: Tolong Dikembalikan!

LIFESTYLE | 8 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE