Minggu, 28 Mei 2023

Momentum Moderasi Beragama

Momentum Moderasi Beragama
Opini: Yanto Bashri

Anggota Pokja Moderasi Beragama Ditjen Pendis Kemenag.

Selasa, 23 Mei 2023 | 19:29 WIB

Bagi cendekiawan muslim Indonesia, moderasi beragama (MB) identik dengan Islam yang berkembang di Indonesia. Penggunaan atribut Nusantara bukan sekadar kultural, melainkan pula memperlihatkan simbol keagamaan dan kesalehan. MB bahkan dipandang sebagai vernakular Islam yang menghubungkan tradisi keagamaan masyarakat Indonesia dengan tradisi awal Islam di Timur Tengah, seperti Makkah, Madinah, Irak, dan Mesir.

Sebagian muslim Indonesia bahkan menganggap seluruh nilai MB merupakan tradisi yang dipraktikkan Nabi Muhammad saat memimpin masyarakat dan negara Madinah. Dengan hidup dan padangan ini, identitas MB yang digagas Kementerian Agama (Kemenag) bisa dengan mudah diterima dan mendapat tempat terhormat di masyarakat. Tradisi keagamaan dan intelektual di Nusantara--dan Timur Tengah--belakangan ini tak melepaskan nilai-nilai MB.

MB yang berkembang mengokohkan Pancasila dan UUD 1945 bagi Indonesia modern, sekaligus memperkuat wajah sosial dan politik warga masyarakat di kancah internasional. Bersama negara, kaum intelektual dan masyarakat sipil yang tergabung dalam berbagai organisasi dan perkumpulan gencar mengampanyekan pentingnya berpikir dan bertindak moderat dalam beragama.

Perkembangan ini disebutkan Muhammad Aqil Irham et al dalam The Idea of Religious Moderation in Indonesian New Order and the Reform Era (2021) "merupakan respons yang tak terbendung atas fenomena munculnya kelompok agama minoritas konservatif dan intoleran yang pemahaman dan sikap keagamaannya bertentangan dengan budaya masyarakat mayoritas umat beragama dan berideologi negara." (hal 16)

Ada banyak contoh paham konservatif dan intoleran bisa merebut hati masyarakat, termasuk generasi Z. Dalam artikel Religious Moderation as a New Approach to Learning Islamic Religious Education in Schools (2020), Ulfatul Husna dan Muhammad Thohir menggambarkan beberapa siswa SMA Negeri 1 Krembung pernah terobsesi dan memiliki kecenderungan fanatisme dan ekstremisme. Mereka berargumen “kewajiban” niqob dan jihad fi sabililah sebagai perintah Islam untuk menegakkan syariat.

Intoleran dan Ekstrem
Laporan PPIM UIN Jakarta (2016 dan 2018) mengonfirmasi dunia pendidikan telah terinfiltrasi paham-paham keagamaan eksklusif, intoleran, dan ekstrem. Beberapa studi menyebutkan pula bahwa paham-paham ini masuk ke sekolah dengan mudah melalui buku ajar Pendidikan Agama Islam (PAI), guru agama, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Di dalam sekolah bahkan telah berkembang paham tentang sistem khilafah, suatu pemerintahan yang diproyeksikan sebagai pengganti demokrasi dan pemerintahan republik. Fenomena ini terlihat di beberapa sekolah yang enggan melaksanakan upacara bendera, menyanyikan lagu "Indonesia Raya", serta menolak Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.

Meminjam istilah Lapidus (2014) "Islamic passionate": dalam kehidupan sehari-hari mereka kerap meniru gaya orang-orang Arab; senang baju panjang (gamis), gandrung kuliner Arab, memelihara jenggot, dan berkomunikasi dengan sapaan ana, anta, antum, dan sejenisnya. Budaya seperti ini mudah dijumpai tidak hanya di dunia pendidikan, fenomenanya juga terang terlihat di perkantoran, pusat perbelanjaan, dan bandara. Identitas Islam ini telah menjadi salah satu budaya masyarakat yang tampak dalam kehidupan sosial dan politik.

Kurangnya pemahaman siswa tentang nilai-nilai MB ini berbeda dengan siswa di Kalimantan. Berdasarkan penjelasan Nuraliah Ali dalam Measuring Religious Moderation Among Muslim Students at Public Colleges in Kalimantan Facing Disruption Era (2020), siswa di Kalimantan lebih moderat. Indikasinya tampak pada sikap toleransi sebesar 91,5%, komitmen nasional 95,6%, dan mengakomodasi budaya lokal 94,9%.

Penelitian ini menggambarkan aspek perilaku dan sikap keagamaan sebagian besar siswa dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan kehidupan beragama dengan menunjukkan perilaku toleran, seimbang, menjunjung tinggi nilai-nilai moral, menolak kekerasan, memiliki komitmen berbangsa dan bernegara, mengutamakan kepentingan bersama, dan mengakomodasi budaya lokal. Paradigma ini menekankan pentingnya substansi nilai dan ajaran agama itu sendiri.

Dalam menghadapi perbedaan pendapat tentang sesuatu yang berkaitan dengan agama, siswa memilih untuk bertoleransi dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan, organisasi, maupun aspek kehidupan lainnya. Kemudian, dalam menghadapi ketidakadilan yang berkaitan dengan suku, ras, dan agama atau kebijakan pemerintah, siswa cenderung memilih untuk mencari masalah dan penyebabnya, kemudian mencari solusi dengan cara yang baik dan menjunjung tinggi komitmen kebangsaan.

Fenomena terakhir tidak terlepas dari program penguatan MB Kemenag yang dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, insersi MB dalam kurikulum dan pembelajaran di madrasah, agama di sekolah, dan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI).

Kedua, peran kepemimpinan kepala madrasah dalam penanaman nilai-nilai MB, serta ketiga, keteladanan guru dalam menginternalisasi nilai-nilai MB di madrasah dan sekolah.

Peran Kemenag ini tertuang dalam amanat RPJMN bahwa MB sebagai bagian penting berbangsa dan bernegara. Kemenag memproyeksi seluruh lembaga pendidikan dan guru madrasah dan guru PAI di sekolah memperoleh pengetahuan MB. Kemenag menjadikan MB sebagai penguatan keberagamaan siswa dan kehidupan kebangsaan masyarakat.

Namun, kerancuan muncul ketika kepala daerah belakangan ini menjadikan MB bukan sebagai program prioritas pemerintahan. Hasil penelitian Setara Institute pada 2022 memperlihatkan bagaimana kabupaten dan kota di Indonesia mengalami penurunan untuk menjaga dan memelihara toleransi. Penurunannya sebesar 0,21 poin, yakni 5,24 pada 2021 menjadi 5,03 pada 2022.

Penurunan ini disebabkan beberapa faktor. Salah satunya tidak menjadikan MB sebagai bagian RPJMD. Kepala daerah bahkan mengambil kebijakan favorit. Grafik skor rerata Indeks Kota Toleran (IKT) sejak 2015 sampai 2022 terlihat stagnan dan masih berada di antara angka 4 dan 5. Pengelolaan toleransi di kabupaten/kota di Indonesia belum menunjukkan nilai yang signifikan. Beberapa kota berhasil mencapai nilai istimewa, tetapi beberapa kota lainnya masih terjebak dalam situasi-situasi intoleran. (Setara Institute, 2022).

Peter Mandaville and Melissa Nozell dalam Engaging Religion and Religious Actors in Countering Violent Extremism (2017) menggambarkan agama menjadi sumber identitas kolektif dan solidaritas yang dapat membantu mobilisasi. Agama bisa menjadi alat sangat efektif untuk merekrut orang-orang muda yang terasing atau tidak puas di lingkungan mereka.
Kemenag memperoleh momentum mengenalkan MB kepada kepala daerah dan lapisan sosial masyarakat dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat untuk menjaga Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, setelah berhasil melakukan penguatan di dunia pendidikan. Satu sisi umat Islam mengalami penguatan belakangan ini, tetapi di sisi lain fenomena ekstremisme dan intoleransi memperlihatkan sebaliknya. Gerakan ini justru mensponsori perlawanan terhadap umat Islam sendiri yang saling menegasikan antara satu dengan lainnya.

Saksikan live streaming program-program BTV di sini


Bagikan

BERITA TERKINI

Mantan Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana Tutup Usia

NUSANTARA 14 menit yang lalu
1047374

IRT di Tulang Bawang Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumahnya

NUSANTARA 16 menit yang lalu
1047373

Ganjar Jawab Sindiran Anies Soal Adu Gagasan dan Adu Lari

BERSATU KAWAL PEMILU 19 menit yang lalu
1047372

Arsenal vs Wolverhampton: The Gunners Tak Ingin Ternoda di Laga Pamungkas

SPORT 22 menit yang lalu
1047371

Sandiaga Uno Harap Fun Run eL Hotel Dapat Menggiatkan Peluang Ekonomi

NASIONAL 28 menit yang lalu
1047370

Warga Polman Tukar Sampah dengan Sembako

NUSANTARA 29 menit yang lalu
1047369

Di Banten, Ganjar Pranowo Ceritakan Awal Bergabung dengan PDIP

BERSATU KAWAL PEMILU 30 menit yang lalu
1047368

Tinggalkan Kendal, Biksu Jalan Kaki Diantar Bupati Dico dan Chacha Frederica

NUSANTARA 45 menit yang lalu
1047367

Kontrak Berakhir, James Milner Tinggalkan Liverpool

SPORT 49 menit yang lalu
1047366

F1 GP Monaco: Alonso Tebar Ancaman ke Verstappen

SPORT 59 menit yang lalu
1047362
Loading..
TAG TERPOPULER

ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon