Penjualan Mobil Diperkirakan Belum Pulih Hingga Akhir 2019

Penjualan Mobil Diperkirakan Belum Pulih Hingga Akhir 2019
Sejumlah kendaraan dipamerkan pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS 2019) di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (25/4/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Eva Fitriani / HK Kamis, 16 Mei 2019 | 21:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Penjualan mobil di dalam negeri diperkirakan masih belum pulih hingga akhir tahun 2019. Daya beli masyarakat yang semula diproyeksikan akan semakin pulih memasuki tahun ini, ternyata belum sekuat yang diperkirakan.

‘’Secara musiman, pada kuarta kedua ada sedikit perbaikan, dan pada kuarta keempat biasanya tumbuh lebih kencang. Namun secara keseluruhan tahun ini, penjualan mobil diperkirakan belum mengalami kenaikan, atau penjualan mobil bakal sama dengan tahun lalu,’’ kata Analis Bahana Sekuritas Anthony Yunus dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (16/5)

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil dari pabrikan ke diler atau wholesale selama Januari-Maret 2019 turun 13,1% menjadi 253.863 unit, dibanding periode sama tahun lalu 292.031 unit. "Lemahnya penjualan mobil selama kuartal pertama tahun ini, tidak terlepas dari pengaruh belum pulihnya konsumsi masyarakat, pelemahan rupiah dan harga komoditas yang turun," ujar Anthony.

Dia menyebut, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini lebih rendah dari perkiraan pasar. Tingginya ekspektasi pasar karena saat tahun pemilu biasanya konsumsi masyarakat meningkat sejalan dengan pencairan bantuan sosial yang diberikan pemerintah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian tumbuh 5,07% selama kuartal I-2019, hanya sedikit lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu yang tumbuh sebesar 5,06%. Sedangkan konsensus pasar memperkirakan, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh sekitar 5,2%. "Penjualan mobil bisa naik hingga double digit, bila ekonomi tumbuh sekitar 7%," ujar dia.

Selain masih rendahnya konsumsi masyarakat, Anthony menilai, produsen mobil juga bersaing cukup ketat dengan masuknya pemain dan varian baru dengan harga yang cukup bersaing, seperti keluaran Wuling, Mitsubishi Expander, dan Nissan. Ekspansi Wuling mendapat respon yang positif dari masyarakat yang tercermin dari pertumbuhan sekitar 2% dalam setahun terakhir.

Bahkan, Wuling sudah menyediakan layanan pembiayaan untuk memberi kemudahan akses bagi pelanggannya untuk bisa membawa pulang mobil besutan Tiongkok ini. Wuling sudah mencatat Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) hingga 2.000 unit untuk produk terbarunya Wuling Almaz pada April 2019, dengan total penjualan sejak peluncuran pada Februari 2019, telah mencapai 980 unit.

Sementara itu, Nissan masih menawarkan diskon sekitar 2% untuk Nissan Livina dan Serena model terbaru. Mitsubishi juga masih memberikan diskon sekitar 1% varian Xpander, demi mempertahankan market share.

Namun, Bahana memperkirakan sepanjang tahun ini, perang diskon untuk mendongkrak penjualan mobil sudah akan berkurang signifikan karena para produsen mobil mulai menjaga margin. Astra International sebagai produsen mobil terbesar di Indonesia, tidak lagi gencar memberikan diskon untuk mendongkrak penjualan mobil, namun mengambil strategi dengan mengeluarkan model terbaru untuk merk Avanza dan Xenia. Hal ini terbukti cukup berhasil, karena market share perusahaan berkode saham ASII ini, naik menjadi 53%, pada kuartal I-2019, dibanding periode sama tahun lalu sebesar 49%.



Sumber: Investor Daily