BPPT Siapkan Platform Angkutan Umum Murah 1.000 cc

BPPT Siapkan Platform Angkutan Umum Murah 1.000 cc
Ilustrasi mobil murah ramah lingkungan ( Foto: Ist )
Jumat, 21 Desember 2012 | 17:08 WIB
Kendaraan jenis ini akan menjadi bagian transportasi pedesaan.
 
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mempersiapkan platform angkutan umum murah nasional dengan kapasitas mesin di bawah 1.000 cc.

Kendaraan jenis ini akan menjadi bagian transportasi pedesaan.
 
"Awalnya kita siapkan platform, setelah itu komponen-komponennya, dan kemudian engine-nya," kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri dan Rancang Bangun BPPT, Erzi Agson Gani pada Pertemuan tentang Catatan Akhir Tahun BPPT 2012 di Jakarta, Jumat (21/12).
 
Dia mengatakan, platform angkutan umum murah industri dalam negeri ini seperti halnya dilakukan Proton di Malaysia. Untuk tahap awal di 2012, Kementerian Perindustrian telah mendanai Rp50 miliar.
 
"Ini kelanjutan platform komodo yang dibuat BPPT, berupa bus gandeng yang digunakan busway dan sudah diproduksi oleh PT Asia Auto International (AAI) di Sentul dan PT Inka Madiun," katanya.
 
Erzi menjelaskan, melalui kerjasama Kemperin dan industri dalam negeri, akan dibuat embrio industri otomotif nasional, sehingga diharapkan bisa menjadi motor penggerak industri nasional lainnya.
 
Saat ini, kata Erzi, omzet bisnis otomotif mencapai Rp300 triliun dengan pasar 1 unit kendaraan roda empat per tahun. Sayangnya, meski potensi pasar besar, namun mayoritas diisi kendaraan impor meski sebagian dirakit di dalam negeri.
 
BPPT, lanjut Erzi, pada 2012 juga telah mendesain pabrik gula berkapasitas 10.000 ton tebu per hari dalam rangka program revitalisasi industri gula nasional untuk mencapai swasembada gula tahun 2014.

Sementara jika desain industri gula dibuat sendiri, maka industri komponen seperti boiler, turbin, stasiun penggilingan juga diproduksi di dalam negeri.

"Kita harus mulai membuat desain pabrik sendiri agar bisa menciptakan berbagai komponen dan mesin pabrik sendiri. Kelemahan kita senang membeli desain pabrik dari luar, padahal begitu kita menggunakan desain misalnya dari China, maka mesin, komponen dan lainnya juga harus datang dari China," katanya.