ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Deretan Kontroversi AI di Seluruh Dunia

Penulis: Ani Nur Iqrimah | Editor: TCE
Jumat, 22 September 2023 | 18:58 WIB
Ilustrasi artificial intelligence
Ilustrasi artificial intelligence (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tengah menuai kontroversi di berbagai belahan dunia.

Salah satu teknologi berbasis AI yang paling terkenal diciptakan oleh OpenAI yaitu, ChatGPT yang disokong model bahasa besar (Large Language Model/LLM) seperti GPT-3.

LLM adalah algoritma yang dapat melakukan berbagai tugas pemrosesan bahasa alami. Disebut large karena menggunakan transformator dengan kumpulan data yang sangat besar untuk mengenali, menerjemahkan, memprediksi, atau menghasilkan teks dan konten lainnya.

Meski canggih, namun teknologi ini mendapatkan banyak kritik karena dapat disalahgunakan untuk hal-hal berbau negatif, seperti menyebarkan misinformasi, plagiarisme, hingga memanfaatkan data pengguna.

ADVERTISEMENT

Berikut deretan kontroversi AI di seluruh dunia, yang dihimpun dari berbagai sumber, Jumat (22/9/2023).

Data Skandal Facebook (Cambridge Analytica)
Skandal ini adalah kontroversi AI paling populer dalam beberapa tahun terakhir, yang memengaruhi jutaan pengguna Facebook dengan data pribadi real-time mereka.

Facebook menghadapi berbagai tantangan sekaligus kritik akibat kasus pelanggaran data itu pada Maret 2018. Sebuah perusahaan konsultan politik bernama Cambridge Analytica menemukan lebih dari 87 juta data pribadi pengguna aktif Facebook disalahgunakan.

Data berukuran besar tersebut diduga digunakan untuk mendukung mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Pemilu 2016. Data yang sama juga diperkirakan disalahgunakan untuk memengaruhi hasil referendum Brexit untuk kampanye Vote Leave.

Pendiri dan CEO Meta (induk Facebook), Mark Zuckerberg, tidak mengambil tindakan apa pun yang sesuai terhadap kasus Cambridge Analytica selama berbulan-bulan setelah menerima informasi pelanggaran data.

Facebook lalu menghadapi tuntutan hukum karena pelanggaran perlindungan privasi pengguna dan kampanye kebencian.

Skandal Photo-scraping IBM
IBM adalah perusahaan teknologi tinggi multinasional Amerika paling populer yang menangani AI dan big data untuk menciptakan inovasi bagi dunia. IBM menghadapi skandal kontroversial photo-scraping pada 2019 yang melibatkan 1 juta gambar wajah manusia.

Perusahaan merilis serangkaian data real-time itu untuk meningkatkan algoritma pengenalan wajah berbasis AI. Skandal ini menyadarkan pengguna media sosial mengenai bagaimana data pribadi mereka digunakan.

Clearview AI Pakai Gambar Pengguna Media Sosial
Sebuah startup perangkat lunak pengenalan wajah yang didirikan oleh pengusaha Australia, Hoan Ton-That. Dilaporkan, Clearview AI mengumpulkan dan menyimpan miliaran gambar pribadi orang-orang di seluruh dunia dari web dan akun media sosial ke dalam database mereka tanpa izin.

Gambar-gambar dalam database ini kemudian dibandingkan dengan foto orang tidak dikenal menggunakan teknologi pengenalan wajah. Data dan teknologi Clearview AI dapat diakses setidaknya 26 negara dan lembaga penegak hukum mereka.

Perusahaan tidak mengakui hal itu, dan menyatakan pihaknya hanya memberikan akses kepada otoritas terkait di AS dan Kanada.

GPT-3 Digunakan untuk Penulisan Artikel
Pada Juni 2023, OpenAI merilis GPT-3 yang lebih canggih dari pendahulunya GPT-2 yang hanya memiliki 1,5 miliar parameter, sementara LLM baru mengunggulinya dalam jarak bermil-mil yakni 175 miliar parameter.

Saat diperkenalkan, beberapa orang menyebut GPT-3 sebagai revolusionalisasi konsep mesin yang menulis kode seperti manusia dengan kemampuan menulis blog, cerita, situs web, dan aplikasi.

Salah satu kontroversi yang menarik adalah kasus seorang mahasiswa yang menulis blog menggunakan GPT-3. Kasus lain juga melibatkan media online The Guardian, yang menulis seluruh artikel di lamannya menggunakan model bahasa ini.

OpenAI juga memutuskan untuk memberikan akses eksklusifnya kepada Microsoft, langkah ini menuai banyak kritik. Bahkan, miliarder Elon Musk yang juga salah satu pendiri startup tersebut turut menuangkan pendapatnya.

Deepfake
Deepfake sendiri merupakan teknologi yang kontroversial sejak awal. Hal ini telah menjadi kekhawatiran dunia bagi pihak berwenang mengenai penyalahgunaannya. Sebelumnya, deepfake terbatas pada pembuatan video.

Seiring meningkatnya aksesibilitas terhadap alat yang mudah digunakan, banyak orang tidak bertanggung jawab untuk menghasilkan video dan gambar buatan AI yang tampak mirip dengan aslinya.

Rata-rata baik video dan gambar itu menggunakan wajah selebriti terkenal, terutama wanita yang diubah ke dalam video tidak pantas. Selain itu, deepfake juga memunculkan kekhawatiran akan berdampak buruk pada penyelenggaraan pemilu.

Kasus itu kali pertama terjadi di India yang menggunakan deepfake untuk kampanye pemilu ketika seorang pemimpin Partai Bharatiya Janata merilis video kampanye.

Pada video aslinya, ia berbicara dalam bahasa Hindi. Tetapi, dengan menggunakan teknik deepfake, video yang sama juga dirilis dalam bahasa lain.



Bagikan

BERITA TERKAIT

Fakta-Fakta Claude AI, Chatbot yang Jadi Pesaing ChatGPT

Fakta-Fakta Claude AI, Chatbot yang Jadi Pesaing ChatGPT

OTOTEKNO
Baru Dipecat Sabtu, Sam Altman Balik Lagi ke OpenAI Rabu

Baru Dipecat Sabtu, Sam Altman Balik Lagi ke OpenAI Rabu

OTOTEKNO
Microsoft Siapkan Kantor di San Francisco untuk Karyawan OpenAI

Microsoft Siapkan Kantor di San Francisco untuk Karyawan OpenAI

OTOTEKNO
ChatGPT Down Sejak Semalam, Gara-gara Sam Altman Dipecat?

ChatGPT Down Sejak Semalam, Gara-gara Sam Altman Dipecat?

OTOTEKNO
70% Karyawan OpenAI Ancam Mundur Setelah Sam Altman Dipecat

70% Karyawan OpenAI Ancam Mundur Setelah Sam Altman Dipecat

OTOTEKNO
Elon Musk Sebut Investor di X alias Twitter Akan Dapatkan 25 Persen Saham xAI

Elon Musk Sebut Investor di X alias Twitter Akan Dapatkan 25 Persen Saham xAI

OTOTEKNO

BERITA TERKINI

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT