Bakrie Garap Megaproyek Rp 39 Triliun

Bakrie Garap Megaproyek Rp 39 Triliun
PT Bakrie & Brothers Tbk ( Foto: Istimewa )
Antonia Timmerman / WBP Rabu, 7 Januari 2015 | 09:59 WIB

Jakarta – Perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga Bakrie, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), akan mulai menggarap lima proyek infrastruktur dan manufaktur pada 2015. Total nilai megaproyek tersebut mencapai Rp 39 triliun.

Adapun proyek infrastruktur perseroan terdiri atas pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tanjung Jati A senilai US$ 2,3 miliar (Rp 29 triliun), jalan tol Cimanggis – Cibitung senilai Rp 4,52 triliun, dan pipa gas Kalija senilai US$ 200 juta (Rp 2,5 triliun). Sementara itu, proyek di segmen manufaktur meliputi peningkatan kapasitas produksi bahan bangunan dan komponen otomotif dengan biaya sekitar Rp 3 triliun.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan, segmen infrastruktur secara khusus akan menjadi fokus perseroan tahun ini. Dia berharap, realisasi pembangunan tiga proyek dapat segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Penggarapan proyek-proyek ini akan dilakukan bersama mitra-mitra strategis kami. Untuk PLTU Tanjung Jati A, kami akan menggandeng partner asing. Sedangkan dalam proyek pipa, kami bekerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN),” kata Eddy kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (6/1).

Eddy menambahkan, pihaknya juga sedang mencari investor baru untuk proyek jalan tol Cimanggis-Cibitung. Saat ini, perseroan sedang melakukan pembicaraan dengan perusahaan jalan tol asing maupun lokal. “Sambil mencari partner baru, pembebasan lahan untuk jalan tol juga terus dilakukan,” ujar dia.

Sesuai rencana, pembangunan konstruksi jalan tol tahap pertama akan dimulai pada awal kuartal II-2015. Konstruksi baru bisa dilakukan setelah pembayaran ganti rugi lahan tuntas.

Kebutuhan dana ganti rugi untuk pembebasan tanah sepanjang 26 km jalan tol Cimanggis-Cibitung mencapai Rp 1,1 triliun. Jumlah tersebut dialokasikan untuk lima ruas, yakni seksi I dari Cimanggis-Trans Yogie sepanjang 3,5 km, seksi II Trans Yogie-Cikeas, seksi III dari Cikeas-Narogong sepanjang 3,5 km, seksi IV dari Narogong-Setu sepanjang 8,8 km, dan seksi V dari Setu ke Cibitung sepanjang 7,6 km.

Sementara itu, proyek infrastruktur perseroan lainnya yakni PLTU Jati A, akan memiliki kapasitas sebesar 2 x 660 megawatt (MW). Pembangkit listrik ini akan digarap oleh Bakrie & Brothers bersama dua investor asal Asia dan Eropa, dengan porsi kepemilikan masing-masing sekitar 33 persen.

Sejak akhir 2014, perseroan juga sudah memulai pengelasan pipa Kalija tahap pertama. Konstruksi pipa sepanjang 200 kilometer (km) itu akan dimulai pada April 2015, dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal ketiga tahun ini. Menurut catatan Investor Daily, sebanyak 80 persen saham proyek Kalija dikuasai oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), sedangkan sisa 20% dimiliki perseroan.

Lebih jauh, Presiden Direktur Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar pernah menjelaskan, peningkatan kapasitas produksi segmen manufaktur akan dilakukan hingga 2-3 kali lipat. Hal ini bakal direalisasikan oleh PT Bakrie Building Industris dan PT Bakrie Autoparts.

Bakrie Building akan mengucurkan dana sebesar Rp 1,5 triliun untuk relokasi pabrik dan membeli mesin produksi baru. Sesuai rencana, kapasitas produksi ditargetkan naik menjadi 70,5 juta standar metrik ton dari sebelumnya 43,5 juta standar metrik ton.

Sementara itu, Bakrie Autoparts akan berinvestasi Rp 1,5 triliun untuk meremajakan mesin-mesin produksi. Adapun mesin- mesin baru didatangkan dari Jerman. Selain itu, kapasitas produksi bakal naik dari 125 molten metals menjadi 400.000 molten metals per tahun.

Saat ini, BakrieAutoparts memproduksi rem cakram, rem tromol, roda gila (fly wheel), hub klaher dan nap roda, serta yoke dan pressure plat untuk kendaraan komersial. Ke depan, perseroan mengincar pasar komponen kendaraan penumpang. Bakrie Autoparts, jelas Bobby ditargetkan menyumbangkan pendapatan Rp 3 triliun pada 2018, dibandingkan 2014 sebesar Rp 900 miliar. Margin EBITDA diharapkan naik menjadi 18-24 persen dari saat ini 10-15 persen seiring ekspansi dan diversifikasi produk.

Restrukturisasi Utang

Tahun ini, Bakrie & Brothers siap menukar saham dengan utang senilai Rp 4,5 – 5,2 triliun. Nilai pertukaran saham (share swap) ini setara 60 – 70 persen dari total utang yang akan direstrukturisasi sekitar US$ 600 juta atau Rp 7,4 triliun.

Eddy pernah mengatakan, debt to equity swap akan dilakukan melalui mekanisme penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) atau non preemptive rights issue. Jumlah saham yang akan dilepas minimal 30 persen dari total modal disetor setelah non-HMETD.

Sementara itu, sisa sebesar Rp 2,2-2,9 triliun atau 30-40 persen jumlah utang akan dilunasi dengan pembayaran tunai. Pelunasan ini dilakukan dengan cara memonetisasi sejumlah aset perseroan.

Jika berjalan lancar, utang di tingkat holding bisa berkurang menjadi US$ 135 juta, dari posisi per September 2014 sebesar US$ 735 juta. Eddy optimistis, seluruh proses restrukturisasi dan pelunasan bisa diselesaikan pada kuartal I-015.

Per September 2014, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) Bakrie and Brothers tercatat sebesar 5,3 kali. Perseroan juga mengalami defisiensi modal sebesar Rp 1,9 triliun.

Sumber: Investor Daily