Keluarga Bakrie Selamatkan Utang BNBR Rp 5,2 T

Keluarga Bakrie Selamatkan Utang BNBR Rp 5,2 T
Logo perusahaan PT Bakrie and Brothers ( Foto: Investor Daily )
Antonia Timmerman / FMB Jumat, 19 Juni 2015 | 05:22 WIB

Jakarta – Keluarga Bakrie akan menanggung utang PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ke kreditor senilai Rp 5,2 triliun. Sebagai kompensasi, keluarga Bakrie akan memperoleh sebanyak 55-58 persen saham Bakrie & Brothers.

Sesuai rencana, Bakrie & Brothers akan melangsungkan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD). Perusahaan investasi tersebut bakal menerbitkan saham baru setara 55-58 persen. Seluruh saham baru akan diserap oleh induk usaha Bakrie & Brothers.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengungkapkan, skema tukar utang menjadi saham (debt to equity swap) tersebut sedang dibahas dengan para kreditor. Berdasarkan negosiasi sementara, sebanyak 60 persen kreditor telah menyetujui skema tersebut.

Para kreditor itu antara lain Mitsubishi Corporation, Eurofa Capital Investment Inc, Glencore International, dan Credit Suisse.

“Kami harapkan pada kuartal III-2015 bisa langsung finalisasi kesepakatan. Dengan demikian, pelaksanaan bisa dilakukan pada kuartal akhir tahun ini,” kata Eddy, usai rapat umum pemegang saham (RUPS) Bakrie & Brothers di Jakarta, Kamis (18/6).

Eddy menegaskan, skema debt to equity swap merupakan bagian dari restrukturisasi utang grup senilai total US$ 600 juta. Pada saat yang sama, perseroan juga akan melunasi utang sebesar US$ 86,7 juta kepada Credit Suisse secara tunai. Jika berhasil, defisit ekuitas perseroan diperkirakan berubah positif hingga Rp 2-2,5 triliun.

Per September 2014, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) Bakrie & Brothers tercatat sebesar 5,3 kali. Perseroan juga mengalami defisiensi modal sebesar Rp 1,9 triliun.

Eddy mengakui, skema penukaran akan mendilusi kepemilikan pemegang saham publik secara signifikan. Namun, dia yakin restrukturisasi utang bakal tetap menguntungkan seluruh shareholders.

“Meski terdilusi secara presentase, pemegang saham lama akan mendapatkan perusahaan dengan balance sheet yang sudah baik dan sehat,” tutur Eddy.

Untuk memuluskan rencana restrukturisasi, Bakrie & Brothers akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) guna meminta persetujuan. Panggilan RUPSLB akan segera diumumkan setelah proses negosiasi tuntas.

Selama kuartal I - 2015, Bakrie & Brothers membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 1,5 triliun atau turun 36,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 2,5 triliun. Perseroan juga mencatat rugi bersih sebesar Rp 303,2 miliar, dibandingkan kuartal I - 2014 yang masih mencetak laba bersih Rp 734,4 miliar.

Ekspansi
Pada 2015, Bakrie & Brothers akan multi menggarap lima proyek infrastruktur dan manufaktur. Total nilai proyek mencapai Rp 39 triliun.

Berdasarkan catatan Investor Daily, proyek infrastruktur terdiri atas pembangunan PLTU Tanjung Jati A senilai US$ 2,3 miliar (Rp 29 triliun), jalan tol Cimanggis – Cibitung senilai Rp 4,52 triliun, dan pipa gas Kalija senilai US$ 200 juta (Rp 2,5 triliun).

Sementara itu, proyek di segmen manufaktur meliputi peningkatan kapasitas produksi bahan bangunan dan komponen otomotif dengan biaya sekitar Rp 3 triliun.

Sebelumnya, Eddy pernah mengatakan, segmen infrastruktur secara khusus akan menjadi fokus perseroan tahun ini. Dirinya berharap, realisasi pembangunan tiga proyek dapat segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Penggarapan proyek-proyek ini akan dilakukan bersama mitra-mitra strategis kami. Untuk PLTU Tanjung Jati A, kami akan menggandeng partner asing. Sedangkan dalam proyek pipa, kami bekerja sama dengan PGN,” kata Eddy, baru-baru ini.

Eddy menambahkan, pihaknya juga sedang mencari investor baru untuk proyek jalan tol Cimanggis – Cibitung. Saat ini, perseroan sedang melakukan pembicaraan dengan perusahaan jalan tol asing maupun lokal. “Sambil mencari partner baru, pembebasan lahan untuk jalan tol juga terus dilakukan,” ujar dia.

Sesuai rencana, pembangunan konstruksi jalan tol tahap pertama akan dimulai pada awal kuartal II – 2015. Konstruksi baru bisa dilakukan setelah pembayaran ganti rugi lahan tuntas.

Kebutuhan dana ganti rugi untuk pembebasan tanah sepanjang 26 km jalan tol Cimanggis-Cibitung mencapai Rp 1,1 triliun. Jumlah tersebut dialokasikan untuk lima ruas, yakni seksi I dari Cimanggis-Trans Yogie sepanjang 3,5 km, seksi II Trans Yogie-Cikeas, seksi III dari Cikeas-Narogong sepanjang 3,5 km, seksi IV dari Narogong-Setu sepanjang 8,8 km, dan seksi V dari Setu ke Cibitung sepanjang 7,6 km.

Sementara itu, proyek infrastruktur perseroan lainnya yakni PLTU Jati A, akan memiliki kapasitas sebesar 2 x 660 megawatt (MW). Pembangkit listrik ini akan digarap oleh Bakrie & Brothers bersama dua investor asal Asia dan Eropa, dengan porsi kepemilikan masing-masing sekitar 33 persen.

Sejak akhir 2014, perseroan juga sudah memulai pengelasan pipa Kalija tahap pertama. Konstruksi pipa sepanjang 200 kilometer (km) itu akan dimulai pada April 2015, dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal ketiga tahun ini. Menurut catatan Investor Daily, sebanyak 80 persen saham proyek Kalija dikuasai oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), sedangkan sisa 20 persen dimiliki perseroan.

Sumber: Investor Daily