Bumi Minerals Segera Lunasi Utang US$ 350 Juta

Bumi Minerals Segera Lunasi Utang US$ 350 Juta
Tambang PT Newmont Nusa Tenggara. ( Foto: Antara / Antara )
Farid Nurfaizi / MHD Kamis, 20 Oktober 2016 | 10:00 WIB

Jakarta – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menargetkan mampu melunasi utangnya sebesar US$ 350 juta kepada Credit Suisse AG pada November 2016. Pelunasan utang akan berasal dari dana hasil penjualan 24% saham PT Newmont Nusa Tenggara kepada PT Amman Mineral Internasional.

Investor Relations Bumi Resources Minerals Herwin Hidayat mengatakan, saat ini, perseroan melalui PT Multi Daerah Bersaing (MBD) masih bernegosiasi dengan Credit Suisse dan Amman Mineral International terkait pelunasan utang. Negosiasi juga terkait kepemilikan Bumi Minerals pada Newmont yang pernah digunakan sebagai jaminan atas pinjaman dari Credit Suisse.

Berdasarkan perjanjian kredit yang diteken pada 2010, lantaran aset Newmont dijadikan jaminan, maka perlu ada pelunasan kewajiban yang terkandung pada aset sebelum aset tersebut didivestasi. “Tapi, sekarang prosesnya menjadi negosiasi antara tiga pihak, yakni MBD, Credit Suisse, dan Amman. Yang jelas, perseroan memerlukan dana untuk pelunasan utang,” jelas Herwin kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam laporan keuangan terakhir induk usaha perseroan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), tercantum bahwa pada 30 Juni 2016, MBD dan Amman Mineral Internasional menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat terkait 24% saham Newmont dengan pertimbangan nilai US$ 425 juta.

Menurut Herwin, besaran nilai penjualan tersebut masih estimasi yang tergantung dari pemenuhan syarat dan ketentuan dalam perjanjian. Jika nanti perjanjian final diteken, dana hasil penjualan saham langsung diserahkan ke Credit Suisse.

“Rencananya, begitu kesepakatan final, dana hasil penjualan saham Newmont tidak masuk ke kas perseroan, tapi langsung digunakan untuk melunasi utang ke Credit Suisse. Semoga bisa rampung Oktober atau November tahun ini,” ujar dia.

Herwin mengaku selama ini negosiasi perseroan hanya kepada Amman Internasional. Perseroan tidak mengetahui proses yang terjadi pada pihak PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), yang mengakuisisi 82,2% saham Amman Mineral senilai US$ 2,6 miliar.

Sebelumnya, Medco telah mendapatkan izin pemegang saham untuk mengakuisisi saham Amman Mineral. Persetujuan diberikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 30 September 2016.

Rencana Ekspansi
Sebelumnya, Direktur Utama Bumi Resources Minerals Suseno Kramadibrata mengungkapkan, perseroan tengah berupaya mencari mitra strategis yang ingin turut mengembangkan proyek anak usaha perseroan, PT Dairi Prima Minerals.

“Mencari partner adalah salah satu dari strategi ekspansi. Sebelumnya, di Dairi Prima, perusahaan pernah menandatangani nota kesepahaman dengan China Nonferrous Metal Industry's Foreign Engineering & Construction Co Ltd (NFC),” kata dia, belum lama ini.

Menurut catatan Investor Daily, Bumi Minerals meneken kontrak kerja sama dengan NFC pada 17 April 2014. Dalam kontrak itu, NFC bersedia membantu Bumi Minerals untuk membangun infrastruktur dan fasilitas pengolah 1 juta ton bijih besi per tahun. Pembangunan fasilitas diharapkan selesai pada akhir 2017.

Blok Dairi Prima yang terletak di wilayah Sumatera Utara itu memiliki cadangan sebesar 11 juta ton bijih dan sumberdaya sebesar 25 juta ton bijih. Cadangan seng memiliki kadar 11,5%, sementara, cadangan timah berkadar 6,8%.

Selain Dairi Prima, Bumi Minerals juga melanjutkan pengembangan tambang copper dan emas di Gorontolo, Sulawesi Utara. Sebagai informasi, Bumi Minerals memiliki kepemilikan 80% pada Gorontalo Minerals, sedangkan 20% dimiliki PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Perseroan telah melakukan kegiatan eksplorasi di kawasan tambang yang terletak di Sungai Mak dan Cabang Kiri. Cadangan emas pada Gorontalo Minerals sekitar 105,4 juta ton, sedangkan sumber daya diperkirakan mencapai 324 juta per ton.

Lebih lanjut, perseroan juga tengah menghitung kebutuhan pengembangan tambang emas Cita Palu Minerals. Saat ini kegiatan eksplorasi di tambang tersebut masih berlangsung, dan produksi ditargetkan pada semester II-2018. Bumi Minerals memiliki kepemilikan 96,97% pada tambang yang memiliki cadangan emas sebanyak 6,7 juta ton tersebut.



Sumber: Investor Daily