DKI Akui Masih Banyak Kendala dalam Pengembangan Pariwisata

DKI Akui Masih Banyak Kendala dalam Pengembangan Pariwisata
Generasi Pesona Indonesia (GenPI) DKI Jakarta resmi dideklarasikan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis, 15 Maret 2018. ( Foto: istimewa )
Lenny Tristia Tambun / FER Jumat, 11 Januari 2019 | 15:26 WIB

Jakarta - Asisten Perekonomian dan Keuangan DKI Jakarta, Sri Haryati mengakui adanya beberapa kendala yang dihadapi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dalam pengembangan pariwisata.

"Ada banyak kendala yang kita hadapi. Antara lain, daya tarik obyek wisata masih kurang dikarenakan prasarana dan sarana yang tersedia belum memadai. Lalu kebersihan dan keindahan kurang terpelihara," kata Sri Haryati, Jumat (11/1).

Menurutnya, dalam pengembangan pariwisata di Jakarta juga terlihat masih kurangnya kolaborasi antara masyarakat, komunitas dan pelaku industri pariwisata. Juga, kurangnya publikasi dan informasi obyek wisata beserta atraksinya, dan belum optimalnya koordinasi antar sektor yang terkait.

"Semuanya itu mempengaruhi dalam upaya pengembangan pariwisata di Jakarta. Kita berupaya untuk mengantisipasinya," ujarnya.

Khusus untuk sektor wisata halal, Sri mengungkapkan, permasalahan utama terletak pada sebagian masyakarat Jakarta kurang memahami konsep wisata halal. Sebagian besar industri pariwisata yang beroperasi belum berdasarkan prinsip syariah.

Misalnya sebagian besar restoran yang beroperasi belum memiliki sertifikat halal, masih adanya anggapan wisata halal bukan pangsa yang besar sehingga upaya untuk meningkatkan wisata halal belum optimal.

"Dan masih terdapat anggapan bahwa sarana dan prasaran yang ada sudah halal sehingga tidak perlu untuk melakukan suatu inovasi," ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Jakarta Tourism Forum, Salman Dianda Anwar berkeyakinan Indonesia, khususnya DKI Jakarta, mampu mewujudkan Jakarta sebagai salah satu destinasi wisata berkelas dunia dan menjadikan Jakarta sebagai pusat halal dunia.

Yakni dengan memanfaatkan potensi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, dengan keindahan alam, seni budaya, serta keunikan serta potensi wisata yang dimiliki.

"Sekarang tinggal bagaimana pemerintah, swasta, BUMN, BUMD, dan seluruh stakeholder berkolaborasi dan bergerak bersama merealisasikannya," kata Salman.



Sumber: BeritaSatu.com