BEM UI Tolak Rencana Parkir Berbayar

BEM UI Tolak Rencana Parkir Berbayar
Para Mahasiswa UI menggelar aksi di depan Gedung Rektorat UI, Senin (8/7/2019). Mereka menolak kebijakan masuk berbayar yang rencananya akan diterapkan di lingkungan kampus UI, Depok. ( Foto: Suara Pembaruan / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / FMB Selasa, 9 Juli 2019 | 09:54 WIB

Depok, Beritasatu.com - Ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar aksi demo di depan Gedung Rektorat UI, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (8/7/2019). Mereka menyuarakan aksi menolak kebijakan rektorat yang akan memberlakukan parkir berbayar di lingkungan kampus UI.

Para mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI ini memprotes berbagai kebijakan UI yang dinilai serba dadakan dan minim sosialisasi. Mulai dari kenaikan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) Non-Reguler dan semester pendek, penertiban hewan, perubahan peraturan pelayanan kesehatan di Klinik Satelit Makara UI, hingga kebijakan Secure Parking yang masih prematur.

Menurut mahasiswa UI Manik Margana Mahendra, masuk berbayar di UI adalah kebijakan yang tidak logis. Dia menyebut rektor UI tidak bisa membedakan jalan umum dan parkiran.

"Kami menolak kebijakan UI tentang Secure Parking, salah satu logika berpikirnya adalah tidak bisa membedakan jalan dan parkiran," kata Manik.

Dia mengajak agar mahasiswa tidak takut dan menolak dibungkam. Lebih lanjut, kata Manik, tuntutan yang diminta mahasiswa agar keberatan mereka perihal kebijakan masuk UI berbayar bisa diakomodir.

Mahasiswa akan melakukan berbagai upaya agar aspirasinya didengar. Termasuk berkordinasi dengan berbagai pihak, salah satunya Panitia Penjaringan dan Penyaringan Calon Rektor (P3CR).

"UI sedang dalam proses pemilihan rektor baru. Oleh karena itu, momentum ini untuk calon rektor yang baru juga, kami harapannya kebijakan ini ada di dua kepemimpinan berbeda. Rektor sekarang dan yang baru ini," kata Manik.

Dia dan mahasiswa lainnya berharap agar rektor yang baru nanti bisa mendukung aspirasi mahasiswa dan masyarakat sekitar. Mahasiswa juga akan melakukan audiensi dengan Wakil Rektor II yang berhubungan dengan kebijakan tersebut. Tujuannya agar ada perbaikan kebijakan.

"Kami sudah bertemu P3CR. Harapan kami masukan indikator khusus calon rektor tentang asas-asas pemerintahan yang baik bisa dimasukkan ke indikator pemilihan rektor baik. Bagaimana rektor pro dengan kegiatan mahasiswa," ujar Manik.

Seperti diketahui dari informasi yang beredar pihak Universitas Indonesia mengeluarkan kebijakan atas kendaraan yang masuk ke wilayah UI. Pihak UI menetapkan seluruh kendaraan yang masuk ke area UI lebih dari 15 menit akan dikenakan sejumlah biaya.

Biaya yang dikenakan untuk motor Rp 5.000 dan mobil Rp 20.000 setiap melebihi 15 menit. Sementara itu setiap jam berikutnya akan ada tarif tambahan. Jika di bawah 15 menit tidak kena biaya, tetapi ada peraturan kecepatan di UI maksimal 30km/jam.

Sementara itu, terpisah, pihak Universitas Indonesia (UI) menjawab protes yang disampaikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) atas kebijakan parkir berbayar. UI memastikan kebijakan ini tidak akan merugikan siapa pun.

"Soal masalah parkir, kami belum bisa mengungkapkan karena masih digodok. Namun jangan khawatir, semua masalah yang diungkapkan mahasiswa ada solusinya dan kami berusaha tidak akan merugikan mahasiswa maupun sivitas yang lain," ujar Kepala Kantor Humas dan Keterbukaan Informasi Publik Universitas Indonesia Rifelly Dewi Astuti.

Rifelly mengatakan BEM UI melakukan protes karena belum ada sosialisasi langsung kepada mahasiswa terkait kebijakan parkir berbayar. Namun ia memastikan visi UI sebagai kampus hijau harus tetap terlaksana dan tidak merugikan siapa pun.

"Sebenarnya mahasiswa maupun masyarakat belum tahu karena kami belum sosialisasi. Namun, sesuai dengan visi UI menjadi kampus hijau, memang pembatasan kendaraan pribadi yang masuk itu harus segera dilakukan. Kami ingin kampus UI tetap hijau, ramah pejalan kaki, jadi memang ada perubahan kebijakan, namun tidak akan merugikan sivitas dan masyarakat," ungkap Rifelly.

Selain itu, Rifelly mengatakan kebijakan bebas biaya parkir bila melintas di UI di bawah 15 menit itu juga belum selesai digodok. Ia juga mengatakan gerbang parkir yang sudah ada hanya sebagai persiapan saja dan tidak ada maksud apa pun.

"Kampus butuh keamanan. Persiapan itu kan butuh lama, nanti penggodokan keputusannya dan nanti peraturannya berubah terus karena mendengarkan aspirasi dari mahasiswa, masyarakat, tenaga pendidik, dosen, semua kami dengarkan," ujar Rifelly.

Terkait tarif, Rifelly juga menyebut nantinya masyarakat akan diimbau tidak melewati kompleks UI. Menurutnya, sudah ada jalur alternatif untuk masyarakat yang disiapkan agar tidak terkena tarif masuk.

"Nanti masyarakat ada jalur khusus yang gratis, enak, aman, dan nyaman, jalur khusus sudah 100 persen, warga kalau mau melintas lebih baik menggunakan bor Utara atau bor Selatan, ke kiri langsung lurus tembusnya ke Restoran Mang Engking," pungkas Rifelly.



Sumber: Suara Pembaruan