Perluasan Ganjil Genap, Polisi Tilang 941 Pelanggar

Perluasan Ganjil Genap, Polisi Tilang 941 Pelanggar
Petugas Kepolisian Lalu Lintas, Sudinhub, bersama PKB & BBNKB Samsat di Kota Jakarta Utara melakukan penindakan terhadap pengemudi mobil yang melanggar aturan Ganjil Genap di Jalan Gunung Sahari Raya, Kecamatan Pademangan, Senin, 9 September 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Carlos Roy Fajarta Barus )
Bayu Marhaenjati / FER Senin, 9 September 2019 | 15:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, mencatat menilang 941 pelanggar pada hari pertama penerapan kebijakan perluasan wilayah sistem ganjil genap pada pukul 06.00 sampai 10.00 WIB, pagi tadi.

"Hari ini, 941 ditilang dari Jakarta Timur, sampai Selatan, Barat, Timur dengan rincian SIM yang kita jadikan barang bukti 617 dan STNK 324. Ini yang kita lakukan dalam penegakan hukum ganjil genap, hari pertama," ujar Kasubdit Bin Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP M Nasir, Senin (9/9/2019).

Baca Juga: Anies Tegaskan Aturan Ganil Genap Hanya Kebijakan Antara

Dikatakan Nasir, sistem ganjil genap merupakan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 155 tahun 2018, kemudian diubah menjadi Peraturan Gubernur Nomor 88 tahun 2019.

"Ada beberapa perubahan di dalam Pergub Nomor 88. Pertama tentang perubahan perluasan wilayah yang jumlah sebelumnya sembilan ruas, ditambah 16 ruas jalan. Kemudian, penambahan jam yang biasanya sore sampai pukul 20.00 (16.00-20.00 WIB), diubah menjadi pukul 21.00 WIB," ungkap Nasir.

Menurut Nasir, perubahan yang paling signifikan adalah pemberlakuan di sejumlah ruas jalan dari pintu masuk dan keluar tol. Semisal di ruas Jalan Gatot Subroto dan S Parman. "Waktu kemarin tidak diberlakukan, sekarang diberlakukan," kata Nasir.

Baca Juga: Dishub DKI Siapkan 231 Stiker Disabilitas Ganjil Genap

Nasir mengungkapkan, sebanyak 1.061 personel polisi dikerahkan untuk melakukan penindakan terhadap pelanggar sistem ganjil genap, di Ibu Kota Jakarta. Ribuan personel itu, diturunkan sekaligus melaksanakan Operasi Patuh Jaya 2019 yang masih berlangsung.

"Polda Metro Jaya dan jajaran, menempatkan 1.061 personel. Tadi pagi kita apel jam 05.00 WIB, dipimpin langsung pak direktur (Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusuf). Kita menetapkan ada tiga kriteria, pertama pelayanan Kamtibcar Lantas, itu pelayanan pengaturan, penjagaan, pelayanan. Kedua, terkait Operasi Patuh yang jadi target yaitu melawan arus, penggunaan strobo, dan mengemudi di bawah umur. Ketiga, adalah pelanggaran ganjil genap yang merupakan kebijakan gubernur dan eksekutornya Polri," jelasnya.

Menurut Nasir, pelanggaran ganjil genap didominasi orang yang baru melintas di wilayah itu, dan mengaku belum tahu ada kebijakan pembatasan kendaraan roda empat, kendati sudah dilakukan sosialisasi dan dipasang rambu-rambu.

"Kedua, orang yang melanggar karena banyak kebutuhan dan melintas di wilayah itu. Rambu sudah (terpasang). Hari Jumat kemarin kita sudah survei di kawasan ganjil genap sudah terpasang rambu. Jadi ini pelanggaran rambu ya ganjil genap, sesuai Pasal 287 ayat 1 (denda tilang Rp 500.000)," katanya.

Baca Juga: Ini Tingkah Pelanggar Ganjil Genap demi Lolos Tilang

Nasir menuturkan, jumlah penindakan pelanggar paling banyak dilakukan Satwil Jakarta Utara, di Traffic Light Gunung Sahari, dengan jumlah 251 pelanggaran.

"Itu mungkin karena masih baru jadi tidak diketahui oleh mereka. Di Jakarta Barat, 153 penindakan. Di sana memang banyak komplain keluar tol langsung masuk ganjil genap. Alasannya karena tidak tahu. Ya mungkin juga ada yang sudah tahu, tapi masih melintas," katanya.

Menyoal apakah ganjil genap efektif mengurai kepadatan lalu lintas, Nasir mengatakan, sangat efektif.

"Pada pelaksanaannya di ruas jalan ganjil genap itu sangat efektif. Tadi saya survei di Jalan Suryopranoto sampai Jalan Tomang Raya. Kalau pada hari biasa, dari keluar tol sampai masuk Tomang Raya hingga Harmoni, jam 08.00 dan 09.00 WIB, itu masih padat. Tapi tadi saya survei dari Suryopranoto, Jalan Balikpapan, sampai Tomang Raya sampai S Parman, sekitar jam 08.00, memang cukup landai dan lancar. Artinya efektif pada ruas yang menjadi ganjil genap. Namun, memang ada penambahan jumlah kuantitas mobil pada jalur-jalur di luar ganjil genap. Nah itu efek balon. Jadi kalau dipencet sini, sebelah sana yang melembung," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com