Tetap Bertahan di Kelas BPJS Kesehatan

Tetap Bertahan di Kelas BPJS Kesehatan
Petugas BPJS Kesehatan melayani masyarakat yang mendaftar kepesertaan BPJS di Kantor BPJS, Cikokol, Tangerang, Kamis 31Oktober 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Bhakti Hariani / FMB Kamis, 7 November 2019 | 15:20 WIB

Depok, Beritasatu.com - Meski mengalami kenaikan iuran yang akan berlaku pada Januari 2020 tapi peserta BPJS Kesehatan di Kota Depok, Jawa Barat masih bertahan tidak mengubah kelas kepesertaan mereka.

Salah satu warga Depok yang merupakan peserta BPJS Kesehatan yang membayarkan iurannya secara mandiri yakni Dini Andriani memilih tidak turun kelas meski dia harus membayar iuran dengan tarif baru yang naiknya mencapai 100 persen untuk kelas satu.

Dini harus menanggung iuran BPJS Kesehatan untuk lima orang yakni untuk dirinya, ibunya, dan tiga adiknya. Dengan kenaikan iuran sebesar 100 persen dari sebelumnya Rp 80.000 menjadi Rp 160.000 per orang. Berarti setiap bulannya Dini harus membayar Rp 800.000 untuk iuran BPJS Kesehatan.

"Tetap lanjutin sih. Nggak kepikiran buat turun kelas. Alasannya ya karena tetap ingin memberikan yang terbaik buat orangtua dan adik-adik ya. Selagi rejekinya ada ya pasti saya usahakan," kata Dini yang merupakan warga Kecamatan Sukmajaya, Kamis (7/11/2019) di Depok, Jawa Barat.

Dini mengatakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan diharapkan dapat menghadirkan pelayanan yang lebih bagi peserta. "Inginnya dihargai lebih baik sih. Pasien BPJS Kesehatan jangan dibedakan dengan pasien yang bayar sendiri atau dengan yang asuransi swasta karena kan tiap bulannya juga kita bayar iuran. Rumah sakit harus komitmen untuk memberikan pelayanan yang maksimal karena iurannya saja sudah naik," ujar Dini yang merupakan freelancer sebuah lembaga konsultan hukum ini.

Sementara itu, Pekerja Penerima Upah (PPU) di sebuah BUMN, Cahyo Nugroho mengatakan bahwa dirinya juga tidak akan berpindah kelas dalam iuran kepesertaan BPJS Kesehatan. "BPJS Kesehatan sudah diatur oleh kantor pembayarannya ya. Jadi ya walau iurannya naik tapi saya tetap tidak akan pindah kelas," kata Cahyo.

Saat ini, dia dan keluarganya terdaftar untuk peserta BPJS Kesehatan kelas 2. "Ini itung-itung bantu orang lain yang membutuhkan sih. Kalau turun kelas rasanya gimana ya, nggak tega aja. Lagipula karena saya PPU maka tidak bisa turun kelas. Harapannya pelayanannya semakin baik ya. Baik dari BPJS Kesehatan nya ataupun dari seluruh rumah sakitnya," tutur Cahyo.

Sementara itu, Humas BPJS Kesehatan Cabang Kota Depok Rida mengungkapkan, sejauh ini peserta yang datang ke kantor unik meminta perubahan kelas belumlah signifikan. Data pastinya belum terangkum oleh pihak BPJS namun dipastikan tidak signifikan.

"Sebenarnya agak sulit dipantau karena masyarakat bisa melakukan perubahan kelas via aplikasi JKN Mobile dari telepon seluler masing-masing. Jadi tanpa perlu datang ke kantor kami pun bisa. Nah oleh karena itu makanya tidak bisa terpantau maksimal berapa banyak yang sudah melakukan perubahan kelas," ungkap Rida.

Menilik dari jumlah warga yang datang setiap hari ke kantor maka Rida menilai bahwa permintaan untuk pindah kelas tidaklah terlalu signifikan jika dibandingkan dengan warga yang meminta untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan yang sebelumnya belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.

"Yang bisa pindah kelas hanya peserta mandiri. Kalau PPU tidak bisa pindah kelas. Sejauh ini jumlah peserta yang pindah kelas jumlahnya tidak signifikan. Mungkin karena belum terasa ya karena kan iuran tarif baru mulai aktif berlaku pada Januari 2020. Nanti saat mulai berlaku untuk Januari 2020 tentu kami akan pantau kembali," tutur Rida. 



Sumber: Suara Pembaruan