Wali Kota Jakut Bantah Ada Tindak Kekerasan dalam Penggusuran Sunter

Wali Kota Jakut Bantah Ada Tindak Kekerasan dalam Penggusuran Sunter
Ilustrasi penggusuran. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Lenny Tristia Tambun / FMB Senin, 18 November 2019 | 13:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Wali Kota Jakarta Utara Sigit Widjatmoko membantah ada tindakan kekerasan dalam penggusuran bangunan liar di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara beberapa hari lalu. Ia juga membantah kabar yang mengatakan penggusuran itu berakhir ricuh.

Enggak lah, enggak ada (kericuhan). Semua berjalan dengan damia. Sampai saat ini pun masih damai kok,” kata Sigit Widjamoko di Balai Kota DKI, Jakarta, Senin (18/11/2019).

Dijelaskannya, sebelum dilakukan penertiban bangunan liar di kawasan tersebut, pihaknya telah melakukan sosialisasi dengan warga selama dua bulan lebih. Sehingga penertiban tersebut dilakukan dengan sepengetahuan warga. Bahkan ia mengklaim, proses pembongkaran bangunan banyak dibantu oleh warga dengan sukarela. Pihaknya hadir hanya untuk membantu warga saja.

“Itu sudah dilakukan dua bulan lebih dengan warga. Semua sepengetahuan warga. Bahkan proses pembongkaran itu, kita hanya membantu. Itu dilakukan sendiri oleh mereka,” ujar Sigit Widjatmoko.

Terkait adanya video penggusuran Sunter yang diungka di akun twitter @AlifYW2 yang menggambarkan suasana ricuh di lokasi penggusuran Sunter Agung Persada, Sigit Widjatmoko menegaskan isi video itu tidak benar.

Tidak ada puluhan Satpol PP DKI yang mendesak mundur warga menggunakan tameng serta pentungan.

“Tidak ada. Semua sesuai (dengan prosedur penertiban) dan sudah dikomunikasikan lebih dari dua bulan dan itu sepengetahuan mereka. Untuk tindakan pembongkaran dan penataan, kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan pembongkaran sendiri. Kita hanya supporting saja,” tukas Sigit Widjamoko.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara melakukan penggusuran di Jalan Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Objek yang digusur yakni bangunan dan tempat usaha warga.

Penggusuran ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi saluran dan jalan. Sebelumnya, lokasi itu diduduki sejumlah pemilik usaha barang bekas yang mendirikan bangunan di atas saluran. Berdampak pada saluran air menjadi tidak terkoneksi satu sama lain karena tertutum bangunan. Sehingga saat hujan tiba, kawasan Sunter seperti di Gaya Motor, Agung Karya dan Sunter Utara kerap tergenang.



Sumber: BeritaSatu.com