Tanpa Subsidi, Operasional MRT Masih Berat

Tanpa Subsidi, Operasional MRT Masih Berat
Penumpang yang berada di atas MRT. ( Foto: Suara Pembaruan/Bernadus WIjayaka )
Bhakti Hariani / FMB Selasa, 3 Desember 2019 | 13:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat Transportasi Intrans Darmaningtyas menilai akan berat bagi Moda Raya Transportasi/ Mass Rapid Transport (MRT) jika subsidi dicabut atau dikurangi. Pasalnya, operasional MRT membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Terlebih, diungkap Darmaningtyas, saat ini, MRT belum menjangkau kawasan yang terintegrasi. "Kecuali jika dulu depo MRT di Lebak Bulus jadi dibangun Transit Oriented Development (TOD) di mana bisa terdapat stasiun, terminal, tempat tinggal dan mall maka itu bisa menghasilkan pemasukan yang banyak. Kalau seperti saat ini maka pemasukan dari penumpang ataupun sumber lainnya belum maksimal," ujar Darmaningtyas kepada SP, Selasa (3/12/2019).

Lebih lanjut diungkap Darmaningtyas, pemasukan dari iklan yang menempel di stasiun MRT atau di dalam tubuh MRT sendiri masih tidak cukup untuk menutupi biaya operasional MRT.

"Kalau iklan itu paling bisa menutupi operasional untuk satu tahun penuh. Kalau kontraknya untuk tahun berikutnya berakhir misalnya, maka pemasukan akan kembali berkurang. Dengan demikian biaya operasionalnya belum tertutupi," kata Darmaningtyas.

Jika subsidi dicabut atau dikurangi maka, kemungkinan akan ada penumpang yang beralih dari MRT atau memangkas jarak dengan tetap menggunakan transportasi pribadi milik mereka. "Ya, misalnya para pemotor yang biasa full menggunakan MRT dari awalan dia berangkat mungkin akan memangkas jarak dengan tetap naik MRT namun titik keberangkatan tidak langsung dari stasiun MRT terdekat dari rumah mereka tapi di pertengahan," papar Darmaningtyas.

Sedangkan para pemilik mobil yang taraf perekonomiannya sudah relatif lebih mapan, diprediksi akan tetap menggunakan MRT.

Menurut Darmaningtyas, performa yang ditunjukkan MRT saat ini sudah sangat baik. Torehan 20 juta orang penumpang selama delapan bulan merupakan hal yang sangat baik.

"Naik MRT di Jakarta, rasanya sama kok dengan kita naik MRT di Singapura, Jepang, Thailand. Semoga ke depannya, jumlah penumpangnya dapat lebih meningkat lagi," tutur Darmaningtyas.

Sementara itu, Pengamat Transportasi Unika Soegijapranata Djoko Setijowarno menuturkan, biaya operasional MRT bisa tertutupi dari harga tiket dan juga iklan-iklan yang terpasang di MRT. Jika pun subsidi dikurangi atau dicabut nantinya, Djoko optimistis MRT tetap bisa beroperasi meski biaya operasionalnya besar.

"Kalau tarif itu bisa dikaji kok per dua tahun sekali. Ini tidak salah dan dibolehkan," kata Djoko.

Djoko semakin optimistis terlebih saat ini ada integrasi tiket yang nota kesepahamannya telah ditandatangani bersama dengan Bank Indonesia dengan MRT dan LRT serta commuter line.

"Jadi nanti beli tiket harian, mingguan, bulanan bisa naik MRT, LRT dan commuter line. Integrasi seperti ini sangat baik dan membuat performa MRT juga jadi semakin baik dan mumpuni," pungkas Djoko. 



Sumber: Suara Pembaruan