Atasi Angka Kemiskinan, Walkot Semarang Gandeng Kemensos

Atasi Angka Kemiskinan, Walkot Semarang Gandeng Kemensos
Wali Kota Hendrar Prihadi bersama Menteri Sosial Juliari Batubara, Semarang, Jumat (14/2/2020). ( Foto: ist )
Jayanty Nada Shofa / JNS Jumat, 14 Februari 2020 | 23:55 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersama Kementerian Sosial (Kemensos) bersinergi dalam menurunkan angka kemiskinan di Semarang.

Hal ini diungkapkan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ketika mendampingi Mensos Juliari Batubara dalam kunjungan kerjanya di Semarang, Jumat (14/2/2020). Di kesempatan yang sama, Juliari menyalurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) kepada 41.328 keluarga di Semarang.

Wali kota yang akrab disapa Hendi ini menyatakan, angka kemiskinan di Semarang mengalami penurunan dari 4,15 persen menjadi 3,98 persen. Namun, jumlahnya masih berada di sekitar 65,000 keluarga.

Menanggapi hal ini, bantuan sosial sembako yang semula sebesar Rp 110.000 kini menjadi Rp 150.000 atau jumlahnya sebesar Rp 74,4 milyar dalam satu tahun. 

“Ini merupakan PR bersama. Untuk itu, kami berterima kasih karena Pemerintah Pusat melalui Kemensos memberikan bantuan kepada 41.328 keluarga dalam bentuk BPNT, Kelompok Usaha Bersama (KUBE), elektronik warung gotong royong (e-Warong) yang harapannya dapat semakin mengurangi angka kemiskinan,” ujar Hendi.

BPNT akan diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) secara langsung. KKS ini kemudian dapat digunakan untuk membeli sembako di e-Warong.

“Dengan peningkatan menjadi Rp 150.000, para penerima bantuan dapat menambah sayur dan lauk. Harapannya, peningkatan program bantuan sosial sembako ini dapat membantu pemerintah dalam penurunan angka stunting khususnya bagi ibu hamil dan anak usia dini melalui cakupan gizi yang lebih baik,” ujar Juliari.

Adapun Walkot Semarang juga mengambil langkah-langkah konkret lainnya dalam memangkas angka kemiskinan.

Di antaranya adalah pengembangan posyandu, kemudahan mendapatkan ambulans dan persalinan gratis melalui Universal Health Coverage (UHC). Menanggapi rendahnya pendidikan sebagai faktor kemiskinan, Walkot Semarang juga menggratiskan pendidikan berjenjang mulai dari TK, SD, SMP, serta sejumlah sekolah swasta.

Bagi usia produktif, terdapat kegiatan kewirausahaan yang meliputi fasilitas Kredit Wibawa (Kredit Wirausaha Bangkit Jadi Jawara), pendampingan hingga pemasaran melalui Semarang Creative Gallery.

Sedangkan, para lansia akan didorong untuk melakukan kegiatan amal seperti bedah rumah, Program Keluarga Harapan (PKH), baksos dan lainnya. Ambulans jenazah juga tidak akan dikenakan biaya dan bagi keluarga akan diberikan santunan kematian.



Sumber: PR