Wayang Orang Putri di HUT Semarang Dukung Kesetaraan Gender

Wayang Orang Putri di HUT Semarang Dukung Kesetaraan Gender
Konferensi pers Wayang Orang Putri Extravaganza di Oudetrap Kota Lama, Jumat (28/2/2020). ( Foto: ist )
Jayanty Nada Shofa / JNS Sabtu, 29 Februari 2020 | 09:54 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Wayang Orang Putri Extravaganza akan meramaikan HUT Kota Semarang ke-473 pada 21 Maret mendatang.

Pertunjukan yang menggantikan boneka-boneka wayang ini akan mengangkat lakon bertajuk "Kalimasada Murca", kisah perebutan Jamus Kalimasada antara dua sosok wanita. Lakon ini akan dibawakan oleh para seniman maupun tokoh perempuan Semarang seperti Yati Pesek hingga Ketua TP PKK Semarang Tia Hendi. Dengan para pemeran perempuan, pertunjukan ini bertujuan untuk mendukung kesetaraan gender.

Hal ini diungkapkan oleh Tia Hendi pada konferensi pers yang digelar di Oudetrap Kota Lama, Jumat (28/2/2020).

Menurutnya, perempuan harus berani tampil dalam pentas pertunjukan seni. Dengan ini, representasi perempuan di media dapat terjaga. Tak hanya itu, perempuan dapat mengambil peran dalam perjuangan pelestarian budaya seperti wayang orang ini agar generasi muda tidak lupa dengan akar budayanya.

“Pementasan wayang orang putri ini memberi kesempatan kepada pecinta seni budaya dan penggemar wayang orang, termasuk kaum perempuan untuk turut menularkan kecintaannya terhadap seni budaya wayang kepada generasi muda,” ujar istri wali kota Semarang yang akan berperan sebagai Dewi Drupadi.

Digelar oleh Pemerintah kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Sahabat Pecinta Wayang Orang (SPWO) Jakarta, acara ini akan digelar di Radjawali Semarang Cultural Center bersama pertunjukan Wayang on Street, pameran fotografi wayang hingga bazar produk seni dan kuliner.

Rencananya, pagelaran wayang orang Putri Extravaganza akan dipentaskan dua kali di hari yang sama, yaitu pada pukul 15.00 – 17.00 WIB dan pukul 19.30 – 21.30 WIB.

Adapun lakon Kalimasada Murca bercerita tentang pencurian Jamus Kalimasada oleh prajurit wanita Dewi Mustokoweni yang dendam karena orang tuanya dibunuh oleh Prabu Arjuna. Dewi Srikandi sebagai istri Arjuna, tidak terima sehingga mencoba untuk mencari Dewi Mustokoweni. Akhirnya, terjadilah perebutan Jamus Kalimasada.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Semarang, Iswar Aminuddin mengungkapkan pagelaran seni budaya ini diharapkan dapat membangkitkan cinta masyarakat terhadap budaya Indonesia.

“Rangkaian pagelaran seni wayang orang ini harapannya dapat menjadi tontonan segar yang menghibur dan bernilai filosofi tinggi bagi generasi muda penerus budaya bangsa khususnya di Kota Semarang," ungkap Iswar.



Sumber: PR