Temui Ganjar Pranowo, Walkot Hendi Bahas Kemacetan di Semarang

Temui Ganjar Pranowo, Walkot Hendi Bahas Kemacetan di Semarang
Walkot Semarang Hendrar Prihadi bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Semarang, Rabu (11/3/2020). (Foto: dok)
Jayanty Nada Shofa / JNS Kamis, 12 Maret 2020 | 20:29 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Perkembangan Semarang yang cukup pesat khususnya dalam berbagai sektor seperti infrastruktur menjadi magnet bagi masyarakat untuk bermigrasi ke kota ini. Bahkan, Semarang kini menduduki posisi sebagai kota dengan populasi terbanyak di Jawa Tengah. Namun, di balik peningkatan populasi ini, kini muncul isu kemacetan di Semarang.

Hal ini diungkapkan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ketika menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Wilayah-Wilayah Pengembangan Kedungsepur, Semarang, Rabu (11/3/2020).

Adapun wali kota yang akrab disapa Hendi ini menekankan penanganan isu kemacetan membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak. Khususnya pada Jalan Brigjen Sudiarto Majapahit yang dinyatakan bukan kewenangan Pemkot Semarang.

Sebab, berdasarkan SK Gubernur Jateng No. 620/2 tahun 2016, ruas jalan tersebut adalah tanggung jawab Pemprov Jateng.

“Jalan Brigjen Sudiarto menjadi salah satu ruas titik kemacetan, terutama kalau hujan, karena tergenang. Tetapi, ruas jalan ini adalah kewenangan Pak Gubernur Jateng. Permasalahannya mulai dari sedimen saluran yang tinggi, median jalan yang gersang, jalan yang perlu dilebarkan lagi hingga trotoar yang perlu ditingkatkan," ujar Hendi kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Ia pun berharap agar simpang susun (flyover) dapat dibangun di ruas jalan ini untuk mengatasi kemacetan.

"Di sana, juga ada perempatan yang menghubungkan arteri Soekarno-Hatta ke area pemukiman berkembang di Klipang yang sangat padat," ujar Hendi.

Ia menambahkan, terkait pembangunan flyover ini, pihaknya telah mempersiapkan detail engineering design (DED) dan studi kelayakan dengan perkiraan biaya (untuk Jateng) sebesar Rp 150 miliar.

Menanggapi hal ini, Ganjar menyatakan Semarang telah memiliki anggaran pembangunan yang besar.

"Di mana ada daerah berkembang, pasti akan menarik migrasi. Tetapi, dananya Semarang sudah banyak. Kalau di tingkat nasional, kira-kira seperti Jakarta. Jadi, perlu dibantu tidak? Ya sudah, dibantu karena kata Pak Hendi, ini ibu kota Jawa Tengah. Ada saja alasannya," goda Ganjar.



Sumber: PR