Bukan PSBB, Semarang Akan Terapkan Skema "Jogo Tonggo"

Bukan PSBB, Semarang Akan Terapkan Skema
Ilustrasi virus "corona". ( Foto: Antara )
Jayanty Nada Shofa / JNS Sabtu, 25 April 2020 | 08:45 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19), Semarang memilih untuk menerapkan "Jogo Tonggo" (Menjaga Tetangga) per Senin (27/4/2020).

Skema ini dibahas ketika Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada rapat evaluasi penanganan virus corona di gedung Gradika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (24/04/2020).

Pada rapat sebelumnya, Gubernur Ganjar mendesak Walkot Hendi untuk menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena masih ditemukannya banyak warga yang berkerumun di cafe-cafe.

Tak hanya itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng sebelumnya telah menetapkan Semarang sebagai zona merah.

Baca: Ganjar Minta Pemkot Semarang Siapkan PSBB

Namun, pada rapat kali ini, Ganjar justru mengusulkan konsep Jogo Tonggo. Dengan konsep tersebut, Ganjar mendorong agar masyarakat berperan aktif dalam mendukung jaring pengaman sosial dan ekonomi. Dirinya pun menghimbau adanya keterlibatan ketua RT dan ketua RW untuk penanganan virus corona.

Terkait usulan tersebut, Hendi mengatakan bahwa pandangan Ganjar sejalan dalam kaitan tidak memberlakukan PSBB.

"Jogo Tonggo itu sejalan dengan yang ingin diberlakukan di Kota Semarang, yaitu pembatasan wilayah non PSBB. Maka ini kami siapkan menyesuaikan masukan Pak Gubernur," tutur Hendi.

Dengan pemberlakuan Jogo Tonggo, Hendi menjelaskan, petugas tingkat kelurahan dipersilakan melakukan karantina wilayah dengan portal, baik menggunakan portal besi yang sudah tersedia atau portal seadanya dari bambu maupun bahan lain.

"Pemberlakuan Jogo Tonggo juga akan dibantu tim gabungan dari TNI Polri, Dishub, Satpol PP dan Dinkes. Setiap kecamatan ada tiga tim gabungan. Ada 16 kecamatan. Jadi, total ada 48 tim," terang Hendi.

Adapun pihaknya telah menyiapkan peraturan wali kota untuk penerapan Jogo Tonggo yang akan disosialisasikan ke masyarakat pada akhir pekan ini.

Meskipun tidak memberlakukan PSBB, Hendi menegaskan dirinya akan tetap melanjutkan distribusi bantuan sosial kepada masyarakat.

"Kami juga buat skema distribusi bantuan sampai Oktober. Di Mei ini, total ada sekitar 290.000 paket yang disiapkan, dari Pemkot Semarang ada 160.000 bantuan, dari Pusat ada 130.000 bantuan," ungkap Hendi.

Sementara itu, Gubernur Jateng juga menghimbau agar masyarakat setempat aktif dalam menekan angka penyebaran virus corona

"Basisnya desa atau kampung. Kenapa? Ruang yang lebih kecil bisa kita lakukan kendali yang lebih managable. Kalau kita mau tetapkan PSBB, sudahkah kita menghitung dan siap? Kalau belum, kita latihan dulu dengan melakukan tindakan seperti PSBB. Pasar mulai kita ubah mulai besok. Yang ke sana harus cuci tangan, wajib pakai masker, kalau tidak suruh pulang," pungkas Ganjar.

Diketahui jumlah kasus corona di Semarang merupakan yang terbesar di Jateng. Per Jumat (24/4/2020), total pasien yang terkonfirmasi terjangkit corona di Semarang sebanyak 148 orang.



Sumber: BeritaSatu.com