Mulai Senin, Semarang Akan Berlakukan PKM Non-PSBB

Mulai Senin, Semarang Akan Berlakukan PKM Non-PSBB
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi usai mengikuti rapat bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di gedung Gradika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (24/04/2020). (Foto: Istimewa)
Jayanty Nada Shofa / JNS Minggu, 26 April 2020 | 08:19 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Mulai Senin (27/4/2020), Pemerintah Kota Semarang akan menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) non PSBB untuk menangani penyebaran virus corona (Covid-19).

Hal ini ditetapkan pada Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan PKM untuk Menangani Covid-19 di Semarang.

Baca: Bukan PSBB, Semarang Akan Terapkan Skema "Jogo Tonggo"

Berbeda dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), PKM masih memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkegiatan namun dengan pengawasan yang ketat.

"Kami ingin menampung aspirasi masyarakat dengan ada hal yang sedikit melonggarkan pedagang kaki lima (PKL) dan tempat usaha. Intinya boleh berkegiatan tapi tetap dalam pengawasan. Ada juga keterlibatan masyarakat, RT/RW, LPMK dan tim patroli gabungan dari satuan wilayah TNI-Polri dan Pemkot," ujar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi pada keterangan yang diterima Sabtu malam (25/4/2020).

Pada Perwal yang ditandatanganinya, Wali Kota Hendi menegaskan beberapa pembatasan kegiatan di luar rumah. Seluruh institusi pendidikan dihimbau untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh dari rumah masing-masing. Setiap perusahaan diminta untuk mengatur jam kerja pelayanan dan jumlah pekerja yang masuk.

Lebih lanjut diungkapkan wali kota pada Perwal tersebut, masyarakat diminta untuk mengikuti himbauan tokoh agama atau fatwa lembaga terkait pembatasan kegiatan keagamaan.

Selama diberlakukannya PKM, seluruh tempat hiburan dan wisata akan ditutup.

Walaupun diberikan kelonggaran, PKL dan sektor informal dibatasi jam operasionalnya mulai pukul 14.00 WIB hingga 20.00 WIB.

Hendi menyebutkan, tempat usaha seperti pasar tradisional, toko modern dan kafe masih dapat beroperasi meskipun tetap harus mengikuti prosedur yang berlaku.

Toko modern hanya dapat beroperasi pukul 07.00-21.00 WIB. Jam operasional restoran kini dibatasi menjadi 11.00-20.00 WIB. Di atas pukul 20.00 WIB, restoran hanya diperbolehkan melayani pesan antar atau take away. Disinfeksi secara berkala juga wajib dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Lebih lanjut, jumlah penumpang transportasi umum akan dibatasi hingga 50 persen. Transportasi umum juga hanya dapat beroperasi mulai pukul 04.00-18.00 WIB, kecuali taksi dan ojek, serta menerapkan protokol kesehatan untuk petugas dan penumpang.

Sedangkan, angkutan untuk pemenuhan kebutuhan pokok, distribusi dan kargo, layanan darurat masih dapat beroperasi seperti biasa.

Dalam ketetapan tersebut, Hendi juga menegaskan agar setiap kegiatan selalu menerapkan protokol kesehatan seperti kewajiban mengenakan masker apabila keluar rumah.

Pihak yang melanggar ketentuan jam operasional tempat usaha juga akan diberikan sanksi mulai dari teguran lisan maupun tertulis hingga pembubaran kegiatan atau penutupan tempat usaha.



Sumber: PR