57 Pekerja Migran Asal Jateng Jalani Karantina di BPSDM

57 Pekerja Migran Asal Jateng Jalani Karantina di BPSDM
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menengok 57 PMI yang sedang menjalankan karantina di BPSDMD Jateng, Semarang, Senin (18/5/2020). ( Foto: Istimewa )
Jayanty Nada Shofa / JNS Selasa, 19 Mei 2020 | 08:13 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Sebanyak 57 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jawa Tengah sedang menjalankan karantina selama 14 hari di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jateng, Semarang.

Menurut Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, puluhan pekerja migran ini berasal dari Malaysia dan hasil rapid test Covid-19 mereka dinyatakan tidak reaktif.

"Mereka kawan-kawan yang baru pulang dari Malaysia. Sekarang dikarantina di sini. Rata-rata dari Pati. Ada juga yang dari Kendal dan dari Tuban satu orang tadi. Lihat semuanya ceria," ungkap Ganjar ketika mengunjungi para PMI, Senin (18/5/2020).

Para pekerja tersebut, ungkap Ganjar, akan dijemput oleh pemerintah kabupaten/kota dari daerah masing-masing.

"Tadi sudah rapid test. Hasilnya tidak reaktif semuanya. Mudah-mudahan semuanya sehat. Nanti kami siapkan perjalanannya sampai tingkat kabupaten/kota dan rumah masing-masing," jelasnya.

Salah satu PMI, Wahono, mengaku tidak keberatan untuk menjalankan karantina. Selain mengikuti ketentuan pemerintah, karantina dapat memastikan bahwa dirinya sehat dan tidak menulari keluarganya di rumah.

"Apalagi ini dikarantina di lokasi yang nyaman. Tempatnya enak, jadi tidak apa-apa. Tapi kalau bisa, setelah dinyatakan sehat, saya bisa karantina mandiri di rumah," ujar PMI asal Pati yang lima tahun bekerja di Malaysia itu.

Antisipasi Gelombang PMI

Di tengah pandemi Covid-19, pemerintah pusat sebelumnya telah membuka jalur transportasi untuk repatriasi bagi PMI, WNI dan pelajar/mahasiswa yang berada di luar negeri. Gelombang PMI asal Jateng dari Kuala Lumpur, ungkap Ganjar, akan datang secara bertahap mulai tanggal 18-23 Mei.

Melalui jalur udara, sebanyak 158 PMI tiba pada tanggal 18 Mei. Kemudian, tanggal 19 ada 135 orang, tanggal 20 ada 140 orang, tanggal 21 sebanyak 114 orang, tanggal 22 sebanyak 106 orang dan tanggal 23 sebanyak 94 orang.

"Itu data yang dikirimkan pihak sana, tapi realisasinya beda. Mungkin ada yang tidak berangkat dan sebagainya. Meski begitu, dengan data yang dikirim tersebut, kami jauh lebih siap," terang Ganjar.

Untuk mengantisipasi gelombang PMI tersebut, pihak bandara telah memperketat protokol kesehatan.

Baca: Bandara Ahmad Yani Semarang Perketat Protokol Covid-19

Di antaranya adalah menerapkan physical distancing dalam antrean, serta menyediakan penyekat antar calon penumpang yang mengarahkan mereka pada mesin pengecek suhu otomatis.

Nantinya, semua PMI yang tiba di Jateng menjalankan karantina di BPSDM Jateng sambil menunggu jemputan dari pemerintah daerah masing-masing.

"Kami siapkan ruangan cukup banyak, mereka akan kami pisahkan mana yang sudah rapid test, mana yang reaktif, agar saat dijemput kabupaten/kota bisa dilakukan tindakan tertentu. Kami harap semuanya sehat," tandasnya.

Baca: Bandara dan Pelabuhan di Jateng Bersiap Sambut 18.000 PMI

Repatriasi PMI ini juga dilakukan melalui jalur laut. Di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, misalnya, sudah ada 21 orang yang tiba di Jateng.

"Skemanya sama, kami terapkan protokol kesehatan yang ketat. Ada penjagaan juga di pelabuhan, ada dari Disnaker, Pemkot, KKP dan lainnya. Semua mengikuti standar yang sudah ditetapkan," kata Ganjar.

Lebih lanjut, sejumlah PMI pun telah berada di Jateng sebelum gelombang kepulangan PMI tersebut. Hingga Kamis lalu (14/5/2020), sudah ada 1.124 PMI asal Jateng yang kembali menggunakan jalur udara dan turun di Bandara Soekarno-Hatta.

Selain itu, ada pula PMI yang mudik melalui lintas batas negara sebanyak 59 orang dan pelabuhan Tanjung Emas sebanyak 21 orang.

"Juga Jumat lalu, ada 69 repatriasi dari Dili Timor Leste, sudah mendarat di Bandara Juanda. Mereka sudah rapid test dan sudah kami siapkan tiga bus untuk membawa mereka ke Jateng," imbuhnya.

Ganjar menegaskan, semua PMI yang pulang ke Jateng harus menjalani karantina minimal 14 hari. Untuk itu, Ganjar meminta kabupaten/kota untuk menyiapkan kebutuhan karantina itu.

"Semua harus karantina minimal 14 hari di tempat masing-masing. Kabupaten/kota hingga desa wajib menyiapkan tempat karantina itu agar semua aman," tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com