Mendikbud: Selama 1 Dekade Kondisi Pendidikan Indonesia Stagnan

Mendikbud: Selama 1 Dekade Kondisi Pendidikan Indonesia Stagnan
Kiri ke kanan: Mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim, Mendikbud Anies Baswedan, dan Mantan Mendikbud Mohammad Nuh saat lepas sambut di Jakarta, Senin (27/10). ( Foto: Beritasatu.com/Natasia Christy )
Natasia Christy Wahyuni / FAB Senin, 1 Desember 2014 | 15:54 WIB

Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (mendikbud), Anies Rasyid Baswedan menggelar pertemuan dengan seluruh kepala dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (1/12). Anies mengatakan, pendidikan Indonesia dalam kondisi stagnan selama satu dekade lebih.

"Ini stagnan selama satu dekade lebih. Bayangkan, negeri lain sedang siap dalam pertarungan dunia, tapi kita stagnan sepanjang satu dekade," katanya.

Selain stagnan, Anies juga menyebut bahwa pendidikan Indonesia saat ini dalam kondisi gawat darurat.

Menurut Anies, data tahun 2012 menyebutkan, 75 persen sekolah dari total 40.000 sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar minimal layanan pendidikan. Kondisi guru juga memprihatinkan, dilihat dari nilai rata-rata uji kompetensi guru (UKG) tahun 2012 hanya 44,5.

Dari sisi pendidikan tinggi, mutu perguruan tinggi Indonesia berada di peringkat 49 dari 50 negara yang disurvei oleh lembaga riset internasional, Universitas 21.

"Kondisinya pendidikan Indonesia gawat darurat. Jangan lagi dimulai dari saling menyalahkan. Ini (salah) pusat, ini (salah) provinsi, tapi semua turun tangan," kata Anies.

Dia mengatakan fakta-fakta tentang kondisi pendidikan di Indonesia bukan hal baru. Misalnya terkait aksi kekerasan, sepanjang Oktober-November 2014 saja sudah ada 230 kasus kekerasan di sekolah.

Anies minta birokrat pendidikan melihat kondisi pendidikan saat ini sebagai situasi urgent yang harus segera dicarikan solusinya.

"Saya ingin menggaris bawahi, birokrasi pendidikan harus berubah. Jangan anggap laporan atau berita buruk menjadi hal lazim yang tiap tahun kita terima," ujarnya.

Anies menambahkan, penilaian dari Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2011 menyebutkan, Indonesia berada di posisi 40 dari 42 negara. Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012, Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara.

Dia mengatakan, survei TIMSS dan PISA jangan dilihat pada tahun terakhir saja. Jika dicermati secara utuh sejak tahun 2000-2012, maka terlihat bahwa posisi Indonesia selalu terbawah.

Menurut Anies, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi kondisi darurat pendidikan. Sejumlah negara lain seperti Tiongkok, Korea Selatan, bahkan Finlandia juga pernah mengalami hal serupa. Namun yang membedakan adalah negara-negara tersebut sungguh-sungguh melakukan reformasi pendidikan, lalu bekerja secara serius.

Dia mencontohkan Finlandia menjalani reformasi di bidang pendidikan sejak sekitar 1980. Finlandia baru bisa menuai prestasi para siswanya sekitar tahun 2000. Hal itu menunjukkan perubahan dalam pendidikan tidak bisa instan, tapi perlu waktu panjang.

"Poinnya, kita jangan menganggap negeri lain tidak berkaca dan berubah. Kita bukan satu-satunya negara yang punya masalah," ucap Anies.

Sumber: Suara Pembaruan