Big Data Jadi Mata Kuliah Wajib di UNJ

Big Data Jadi Mata Kuliah Wajib di UNJ
Mahasiswa baru. ( Foto: Antara )
Maria Fatima Bona / EAS Senin, 25 Maret 2019 | 15:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pelaksana tugas (Plt)Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Intan Ahmad mengatakan, menghadapi Revolusi Industri 4.0 ini, perguruan tinggi (PT) memiliki peran penting dalam menyiapkan lulusan berdaya saing tinggi. Pasalnya, banyak pekerjaan yang bersifat rutin akan digantikan oleh kecanggihan teknologi.

Tentu akan banyak pekerjaan yang hilang, namun sebaliknya, akan banyak pula pekerjaan yang muncul dan peluang-peluang baru yang terus berkembang. Untuk itu, saat ini UNJ telah mengembangkan mata kuliah pengantar big data dan pemrograman (coding) yang akan dijadikan mata kuliah wajib. Pada tahun ajaran 2019/2020, semua mahasiswa baru UNJ wajib mengambil mata kuliah tersebut.

"Semua mahasiswa UNJ wajib mengambil kedua mata kuliah ini tanpa terkecuali karena semua bidang ilmu di era revolusi industri ini sangat terkait dengan data. Misalnya, program studi olahraga tentu membutuhkan data untuk analisis prestasi sebelumnya. Jadi apa pun keahliannya, tidak akan bisa terlepas dari data,” jelas Intan dalam sambutan acara wisuda UNJ tahun 2018/2019 yang diikuti oleh 1.760 wisudawan yang bertemakan “Tantangan dan Peran Universitas serta Lulusannya dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0” di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta, Minggu (24/3/2019).

Pihak UNJ mewajibkan kedua mata kuliah tersebut karena di era Revolusi Industri 4.0, literasi data sangat penting. Sementara, kurikulum terdahulu belum mengarah pada kesiapan lulusan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 ini. Melalui big data dan pemrograman, ia optimistis UNJ dapat menghasilkan lulusan yang berdaya saing dan dapat membantu perubahan Indonesia di segala sektor.

Selain mewajibkan mahasiswa untuk mengambil kuliah big data dan pemrograman, materi pembelajaran lanjutan dari mata kuliah ini dirancang mengedepankan pada pembelajaran yang mengasah 4C yakni communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation. Semuanya merupakan kunci sukses pada era Revolusi Industri 4.0 ini.

Ketika ditanya mengenai kesiapan dosen, Intan menuturkan, perubahan tidak dapat dihindari lagi sehingga pihaknya akan memberi pelatihan kepada para dosen agar mampu mengikuti perubahan teknologi. Namun untuk tahap awal, kedua mata kuliah wajib tersebut akan melibatkan para dosen MIPA yang memiliki dasar pengajaran yang juga berbasis pada data, dengan menggunakan sistem pembelajaran daring dari laman Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

"Kemristekdikti menyediakan laman dengan materi-materi bagus. Jadi kita share materi tersebut,” ujarnya.

Selain mengembangkan mata kuliah tersebut, UNJ juga akan mengembangkan berbagai program lain seperti blended learning dan model perkuliahan yang menekankan kepada kemampuan inovasi dan kreativitas.

Menurut Intan, universitas yang sukses akan berupaya agar lulusannya bisa menjadi warga yang baik, proaktif, dan bisa memberi makna kepada lingkungannya.

Lebih lanjut, Intan menuturkan, UNJ juga menjalin kerja sama dengan universitas dari luar negeri. Bahkan, pada wisuda tahun akademik 2018/ 2019, dari 1.760 wisudawan, 13 wisudawan program doktor pendidikan olahraga adalah mahasiswa asing yang mengikuti program kerja sama internasional dengan Philippine Normal University (PNU), Central Luzon University (CLSU), dan University Santo Thomas (UST). Melihat animo tersebut, Intan berharap, kerja sama internasional ini dapat diperluas di program-program studi lainnya.

Profesi Baru
Sebelumnya, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, memasuki era revolusi industri 4.0, diperkirakan 75 hingga 375 juta orang di dunia akan beralih profesi, dan akan muncul profesi baru karena dampak pertumbuhan teknologi yang begitu cepat. Hal ini membuat perguruan tinggi dituntut untuk siap menghadapi perubahan teknologi.

"Mau tidak mau, suka atau tidak suka, teknologi akan hadir dalam kehidupan kita," ucap Nasir dalam sambutannya saat menghadiri peringatan Dies Natalis Universitas Pasundan (Unpas) ke-59 di Gedung Auditorium Sabuga, Bandung, Jawa Barat (23/3).

Oleh karena itu, Nasir meminta pimpinan perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kualitas dosen agar memiliki kompetensi inti yang dibutuhkan pada revolusi industri 4.0. Lulusan perguruan tinggi sangat bergantung dengan kualitas sistem pembelajaran di kampus dan kualitas dosen yang mengampu mata kuliah.

"Realitanya, di perkembangan teknologi saat ini masih banyak lulusan tidak memiliki kompetensi sesuai dengan apa yang diambil dalam bidangnya,” tutur Nasir.

Perguruan tinggi akan semakin dituntut untuk mempersiapkan para mahasiswanya menghadapi pekerjaan yang belum ada, selain menciptakan iptek yang inovatif, adaptif, dan kompetitif sebagai konsep utama daya saing dan pembangunan bangsa.



Sumber: Suara Pembaruan